Skip to content

WINDEDE.com

Menu
  • Home
  • Esai
  • Kontemplasi
  • Inspirasi
  • Perjalanan
  • Fotografi
  • Budaya
  • Politika
Menu

Lazim tak Lazim yang Penting Motret

Posted on 26 September 2006

Truk yang berjalan dengan ketidaklazimannya. 

Banyak orang menikmati ketidaklaziman, terutama dan biasanya diatasnamakan selera. Demi mempertahankan selera uniknya, ada kawan yang menghabiskan minum lebih dulu sebelum menyantap makanan. Selesai makan, dia tak mau minum lagi. “Kalau habis makan kita minum, habislah semua kelezatan yang kita rasakan. Untuk apa masakan dibuat lezat-lezat kalau begitu…”

Saya termasuk yang khawatir disebut tak lazim. Karena itu hampir semua sisi hidup saya rasanya berlangsung seperti orang kebanyakan. Sulit menjawab pertanyaan, misalnya; apa yang unik dari diri Anda? Kecuali menyangkut postur yang memang sudah bawaan lahir, saya nyaris tak punya jawaban lain.

Tetapi, sebagai orang yang mengaku lazim, saya justru penggemar ketidaklaziman. Mungkin karena sejak muda sudah dididik menjadi wartawan; yang mata dan telinganya memang harus selalu terbuka untuk hal-hal sedemikian. Meskipun, dalam banyak kesempatan, saya sering mikir juga; betapa jahatnya mengeksploitasi ketidaklaziman orang lain untuk prestasi di tempat kerja.

Suatu sore, di perjalanan sepulang dari kantor, sebuah ketidaklaziman saya saksikan di kejauhan. Sebuah truk berjalan lambat, hmm… tak seperti biasanya, mundur! Saya mendekat, terus mendekat, menyaksikan bagaimana kendaraan berwarna kuning yang biasanya jadi sarana angkutan batubara ini ternyata tidak sendiri. Dia ditarik (atau lebih tepatnya diseret?) truk yang lain.

Ketidaklaziman yang sudah selazimnya untuk diabadikan.Tangan saya sigap merogoh kamera digital di boks tengah mobil. Membuka bungkusnya dan mengaktifkan tombol on. Sekian detik kemudian, sepertinya refleks, jari telunjuk kanan memencet shutter sementara telapak tangan menggenggam body kamera sekadarnya. Dalam waktu yang sama saya masih harus mengemudi membuntuti dua truk yang saling memantati (pantat-pantatan) itu. Hanya dapat dua frame sebelum akhirnya saya harus berbelok arah menuju rumah.

Banyak momen tak lazim saya jumpai justru dalam situasi yang juga kurang lazim. Misalnya, beberapa kali melihat pengendara sepeda motor membonceng anaknya yang masih bayi di jok belakang, tanpa diikat atau pengaman lain. Sepertinya tak khawatir kalau anaknya terjatuh. Juga sebuah keluarga, ayah, ibu dan 4 anak berkendara roda dua dan uniknya tetap bisa ngebut.

Ketidaklaziman menghias hidup kita sehari-hari. Dalam banyak pengalaman, sesuatu yang tadinya tak lazim itu berubah menjadi lazim. Waktu dan kebiasaan yang membuatnya begitu. Dulu orang ngomong sendiri dengan ponsel ber-handsfree bisa dianggap gila. Sekarang, sedikit orang gila saja yang menganggap seperti itu.

Hmm… mudah-mudahan posting kali ini bukan bagian dari ketidaklaziman yang sedang tumbuh di pikiran saya.

Selamat menunggu waktu berbuka…

Like & Share

3 thoughts on “Lazim tak Lazim yang Penting Motret”

  1. paman tyo berkata:
    26 September 2006 pukul 19:16

    ++ Mungkin karena sejak muda sudah dididik menjadi wartawan; yang mata dan telinganya memang harus selalu terbuka untuk hal-hal sedemikian ++

    O, wartawan harus gitu ya? Saya pengin jadi wartawan ah. Tapi ngelamar jadi reporter di koran Anda saya sdh ketuaan kan? Duh nasib…

    Balas
  2. blonty berkata:
    26 September 2006 pukul 22:07

    Om Wien, enak bener jalan-jalan (sambil motret) tapi tetep dapat bayaran… Ajari saya untuk mengikuti jejak Anda, dong…. (tak terbayang betapa terjalnya jalan yang mesti dilalui untuk menjadi orang seperti Anda dan Pama Tyo :p)

    Balas
  3. didats berkata:
    28 September 2006 pukul 12:32

    foto ini diambil saat lagi nyupir?
    kereeeeeen…..!!!

    *tepok tangan*

    Balas

Tinggalkan Balasan ke paman tyo Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

About

 

WinDede a.k.a Erwin D. Nugroho.

Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

My Book

My Youtube

https://youtu.be/2vSExaDnOTQ

My Instagram

Sesi foto keluarga, biar ada kenangannya... #eeeaa Sesi foto keluarga, biar ada kenangannya... #eeeaaaa
Si bungsu udah macam anak tunggal... Si bungsu udah macam anak tunggal...
Sesi foto tiga generasi... Sesi foto tiga generasi...
Baru terima nih official photos dari graduation du Baru terima nih official photos dari graduation dua pekan yg lalu. Harus diposting dong yak, hahaha...
Terima kasih Rektor UAI Prof. Dr. Ir. Asep Saefudd Terima kasih Rektor UAI Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc.
Bersama Dekan Fakultas Hukum UAI Dr. Yusup Hidayat Bersama Dekan Fakultas Hukum UAI Dr. Yusup Hidayat, S.Ag., M.H.
Sekali-sekali dapat predikat tertinggi selain ukur Sekali-sekali dapat predikat tertinggi selain ukuran badan hehe 😁
Alumni FH UAI angkatan 2018 👨‍🎓👩‍🎓 Alumni FH UAI angkatan 2018 👨‍🎓👩‍🎓
Alhamdulillah... Alhamdulillah...
Load More Follow on Instagram

Arsip Blog

Posting Terakhir

  • Liburan Tipis-Tipis ke Singapura (2): Semakin Ramah bagi Turis Muslim
  • Liburan Tipis-Tipis ke Singapura (1): Tiket Pesawat Lebih Murah ketimbang Rute Domestik
  • Ogi, Amtenar Aktivis
  • Uji Bebas Covid-19
  • Nyetir Sendiri Keliling Eropa (4): Bebas Ngebut di Jerman, Taat Speed Limit di Prancis dan Belanda
  • Nyetir Sendiri Keliling Eropa (3): Semua Urusan Dikelola Mesin, Bisa Curang Tapi Tetap Patuh
©2026 WINDEDE.com | Design: Newspaperly WordPress Theme