Siapa (Di)suruh Datang Jakarta

Kedai kopi Ohlala di Plaza Menteng

AKHIRNYA, ya… akhirnya. Saya mendamparkan diri di belantara ibu kota. Tempat yang semasa saya kecil dulu sering disebut “kekejamannya melebihi ibu tiri”. Ini hari ke tiga saya di Batavia. Sementara sih nyaman dan baik-baik belaka. Mudah-mudahan begitu seterusnya.

Saya ini orang kampung tulen. Lahir dan besar di kampung. Jauh dari hiruk-pikuk metropolitan. Sesekali memang bertandang ke Jakarta untuk urusan pekerjaan, tetapi hanya untuk satu dua hari. Tak pernah bermimpi menjalani kehidupan di Jakarta, karena betapapun jadi orang kampung itu menyenangkan.

Tetapi hijrah itu penting. Saya percaya kehidupan ini harus dijalani dengan bergerak, berubah, berpindah. Meski bukan berarti karena itu lantas kita harus pindah-pindah terus. Kata orang, setiap suasana baru pasti membawa semangat baru. Dan saya memang sedang bersemangat sekarang.

Padahal baru saja saya dan keluarga pindahan. Belum satu tahun. Dari Banjarbaru di Kalimantan Selatan ke Balikpapan di Kalimantan Timur. Pekerjaan yang membuat saya harus pindah lagi. Sesuatu yang sungguh saya nikmati, kecuali istri yang sedikit kerepotan karena dia yang lagi-lagi ketiban kemas-kemas barang.

Semalam, usai membereskan sejumlah persiapan pekerjaan baru di kantor, saya menyempatkan diri mengunjungi beberapa kawan. Yang satu pengacara sukses yang sekampung dengan saya, yang saya temui di kantornya di Menara Bidakara. Namanya juga kawan lama, kami ngobrol ngalor-ngidul, dari urusan “tips-tips hidup di Jakarta” sampai bagaimana trik televisi dan koran-koran menyiapkan liputan wafatnya Soeharto sejak jauh-jauh hari. Tinggal mengisi tanggal dan jam saja.

Paman Tyo lagi sibuk dengan ponselnya....

Selepas pertemuan dengan kawan ini saya menjumpai kawan lain lagi. Dialah Paman Tyo, si kere kemplu yang gombal abis itu. Ini pertemuan kedua dengan blogger top markotop ini, yang tubuhnya sekarang tampak lebih berisi dibandingkan pertemuan pertama dulu, tapi dia tetap saja pede bilang bahwa; “Ini udah turun banyak nih, celana aja kedodoran.”

Malam itu, selain dengan Paman Tyo, saya berjumpa rekan-rekan blogger lain juga, yang ternyata sedang menyiapkan gathering di Taman Menteng di hari pertama Februari pada Jumat malam nanti. Saya malah diajak keliling taman karena mereka sedang mencari posisi paling sip untuk venues. Selepas itu, kami nongkrong di kedai kopi di Plaza Menteng sampai larut malam.

Sejauh ini tampaknya Jakarta cukup bersahabat. Saya mendapat sambutan hangat bukan saja di lingkungan kantor yang baru, tetapi juga sejumlah kawan yang dengan tangan terbuka bilang: welkam tu de janggel.

Menjelang tidur malam tadi, saya tiba-tiba ingat syair lagu: siapa suruh datang Jakarta. Hanya sepenggal itu saja…

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.