Makan di Hong Kong Rasa Indonesia

Jauh dari kampung halaman pasti membuat siapapun rindu makanan selera rumah sendiri. Di Hong Kong, jangan pernah khawatir, karena macam-macam menu Indonesia tersedia.

AROMA gurih bakso tiba-tiba mampir di hidung. Kaki pun bergegas meniti anak tangga Dragon Rise Building, bangunan menjulang di Pennington Street, kawasan Causeway Bay Hong Kong. Tiba di lantai dua, yang tampak adalah sebuah kios menjual buku-buku dan majalah Indonesia. Di sebelahnya ada kantor BCA yang terlihat tak seberapa ramai. “Naik satu lantai lagi, Mas,” seru seseorang di kantor BCA itu.

Benar saja. Di lantai 3, pintu kaca di sebelah tangga menyambut dengan tulisan besar; Warung Malang, Halal! Wah, surprised. Tanpa ragu lagi saya langsung masuk, duduk dan melihat-lihat menu. Semua yang ada di daftar adalah kuliner khas Nusantara; gado-gado, pecel lele, bakso, nasi rames, nasi campur, ayam penyet, soto ayam, rawon dan sebagainya. Minuman pun lengkap dari cendol, dawet, sampai es kopyor.

Meski dinamai Warung Malang, pemiliknya ternyata bukan Arek Malang. “Saya dari Jombang, tetangganya Gus Dur,” kata Mochamad Nurali, sang pemilik warung, lantas terkekeh. Pak haji berusia 60 tahun ini sudah menghabiskan lebih tigaperempat hidupnya di Hong Kong. “Saya dulu pegawai di konsulat,” katanya.

Haji Nurali memilih nama Warung Malang hanya untuk alasan bisnis saja; kebanyakan TKW di Hong Kong berasal dari Malang. “Supaya mereka kalau ke sini terasa seperti di rumah sendiri,” ujar ayah dua anak yang kedua-duanya lahir dan besar di Hong Kong ini. Seperti menu Bakso Malang, sebenarnya hanya “pinjam nama” karena citarasa baksonya tetap seperti bakso kebanyakan.

Meski ada beberapa rumah makan Indonesia lain di Causeway Bay, warung milik Haji Nurali terbilang paling ramai. Selain menjual makanan siap saji, Warung Malang juga berdagang barang-barang negeri sendiri. Minuman-minuman merek Indonesia, obat-obatan, sampai bumbu-bumbu dapur.

Haji Nurali memang rutin menerima kiriman barang dari Indonesia. Biasanya dua kali dalam seminggu, terutama untuk bahan makanan yang sulit diperoleh di pasar Hong Kong. “Seperti ayam kampung, dikirim langsung dari Indonesia,” ujarnya. Kalau bahan sejenis tempe dan tahu, Haji Nurali mengaku istrinya bisa membuat sendiri.

Warung Malang milik Haji Nurali paling ramai di hari Minggu. Maklum, di akhir pekan inilah para TKW berkumpul di Victoria Park, yang hanya lebih kurang 5 menit berjalan kaki dari Pennington Street. Warung Malang juga berdekatan dengan kantor Konjen RI Hong Kong, yang berada di pertigaan Keswick Street, hanya beberapa langkah dari Dragon Rise Building. “Kalau hari biasa, pegawai konsulat langganan makan di warung saya,” katanya.

Terkadang ada juga TKW yang makan di Warung Malang pada hari kerja. Biasanya, mereka mampir di sela mengurus perpanjangan paspor di konsulat. Di luar itu, langganan warung ini adalah penduduk Hong Kong sendiri, yang mungkin hendak mencoba masakan citarasa Indonesia.

Di Causeway Bay juga ada Warung Chandra, yang memasang papan nama besar berlatar merah di sebuah gedung yang persis berseberangan dengan kantor Konjen RI di Keswick Street. Di sebelahnya ada rumah makan bernama New Indonesian Restaurant. Beda dengan Warung Malang, rumah makan ini dikelola oleh orang Tionghoa. “Tapi menunya Indonesia semua, masakan Jawa,” kata seorang penjaga di restoran tersebut.

Di sudut Causeway Bay yang lain terdapat juga restoran Padang, tentu dengan menu khas semacam rendang, sambal balado dan bahkan ayam pop. Pemiliknya warga Hong Kong, tapi mempekerjakan jurumasak langsung dari Sumatera Barat. “Pokoknya kalau soal makan, di Hong Kong ndak ada masalah Mas. Tinggal uangnya aja,” kata Hartati, 26 tahun, seorang TKW.

Ya, sesuai dengan biaya hidup yang sangat tinggi di Hong Kong, rumah makan khas Indonesia memang menjual setiap porsi makanannya dengan harga lumayan. Semangkuk bakso dengan 3 biji pentol dan satu gorengan, misalnya, dihargai 35 HKD, setara Rp 42 ribu! Bisa untuk makan hingga lima porsi bakso kalau di kampung sendiri.

Soal harga makanan yang mahal itu, Haji Nurali memberi alasan. “Memang di Hong Kong semuanya mahal. Sewa ruang untuk warung ini saja 30 ribu HKD sebulan (lebih kurang Rp 36 juta, Red.). Tapi ya sebanding sih, soalnya penghasilan orang Indonesia di sini juga kan tinggi,” katanya. Ruang rumah makan miliknya itu hanya berukuran 2 x 7 meter ditambah dapur lebih kurang 2 x 2 meter.

Haji Nurali menikmati hidupnya di Hong Kong. Dari bisnis rumah makan yang laris manis itu, dia dan keluarga bisa pulang ke Jombang setiap lebaran. ***

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

25 tanggapan untuk “Makan di Hong Kong Rasa Indonesia

  • 13 September 2007 pada 09:34
    Permalink

    Wah, mahal amat bakso dengan 3 pentol aja sampe 42 rebu, di sini mah bisa traktir orang 10 hehe..jalan jalan terus pak..

  • 13 September 2007 pada 09:39
    Permalink

    pengen, suatu saat, restoran indo bisa merajai dunia dan ada dimana mana kayak rstoran china atau jepang.

  • 13 September 2007 pada 22:49
    Permalink

    masyarakat indonesia keknya di terima baik di sana yah..

  • 15 September 2007 pada 05:07
    Permalink

    ORANG INDONESIA TERNYATA PADAI MASAK JUGA DAGANG, JADI NGGAK PERLU MALU JADI ORANG INDONESIA….. BIARIN AJA MALAYSIA MENGHINA KITA….

  • 15 September 2007 pada 12:23
    Permalink

    waaaahhhh mupenk banget jd pengen ke sana. om plg dr sana jgn lp bw oleh2nya ya ^^

  • 15 September 2007 pada 19:03
    Permalink

    Wah asyik juga tulisan ini ,bisa jadi referensi untuk saya ke hongkong minggu depan he he

  • 15 September 2007 pada 21:59
    Permalink

    Wah, rasanya pingin mencicipi-nya nih.
    Kapan ya kira-kira bisa kesana. Doain.

  • 19 September 2007 pada 16:37
    Permalink

    wahh kalau saya tugas di hongkong, saya sering mampir makan di warung hj nurali.. emang siiii rame banget yg makan di sana, tp kalau masakan nya ya biasa aja kayak di indonesia… tp asiyk banget ada di sana… bisa kumpul ama saudara2 indonesia

  • 21 September 2007 pada 03:25
    Permalink

    wah, seruuu

    mas, gimana orang orang lokal memandang orang indonesia?
    apa mereka menggenalisir dengan orang indonesia = pembantu?

  • 27 September 2007 pada 05:58
    Permalink

    Hallo pak Nuuur …! Suskes berat … ! 🙂

  • 27 September 2007 pada 12:14
    Permalink

    KEBETULAN SAYA JUGA SUKA JALAN-JALAN DAN MAKAN-MAKAN. TAPI BIASANYA SAYA GRATISAN, MAKLUM JURNALIS KALAU DAPAT UNDANGAN SAJA BISA NIKMATI SURGA DUNIA SEPERTI DI HONGKONG HE…HE…HE

  • 27 November 2007 pada 12:34
    Permalink

    “ORANG INDONESIA TERNYATA PADAI MASAK JUGA DAGANG, JADI NGGAK PERLU MALU JADI ORANG INDONESIA….. BIARIN AJA MALAYSIA MENGHINA KITA…”
    sdr tunding satu jari kpd org,jari yang lain tunding kpd sdr sendiri.. sifat angkuh bukan salah negara tetapi salah individu sendiri.. di msia, saya lihat org indon sendiri menghina sesama indon.. maaf..

  • 25 Desember 2007 pada 20:28
    Permalink

    Emang masakan Ibu kita ini memeng UENAK tenan, apalagi pas ada di Negeri seberang yang sulit mencari cita rasa Indonesia.

    Sayang-nya nggak ada Lift untuk naik ke Lantai – 3. Maklum kebiasaan manja di negeri sendiri, soal-nya juuuuaaauh kalo habis jalan keluar dari pintu E-Causeway Bay.

  • 12 Maret 2008 pada 02:29
    Permalink

    masih lebih murah di jepang dong semangkok bakso isi 5 bakso dan dua pangsit goreng cuma 500YEN = 43000rupiah. yang jual sih orang thailand tapi makanan indo lengkap bgt selain makanan thai tentunya

  • 6 Mei 2008 pada 14:41
    Permalink

    Saya warga indonesia, sudah lima tahun ini perusahaan kami ekspor arang kayu ke supermarket terbesar di hong kong,
    Jika dari restaurant atau cafe di hong kong yang ingin beli langsung ke kami akan kami berikan harga yang menarik.
    Best Rgds
    Fongwah Indonesia
    achles@yahoo.com

  • 6 Mei 2008 pada 19:08
    Permalink

    assalamualaikum,bp H.nur…
    ada bakso trus ada apalagi pak..sucses deh buat bpk.
    tambahin menunya pak dg makanan indonesia yg tradisional mumpung ada yg nawarin arang…aromanya sedap rasanya nikmat.tetap…cita rasa Indonesia.

  • 9 Desember 2008 pada 11:28
    Permalink

    dear all,

    bulan depan saya akan ikut suami ke hong kong, adakah perkumpulan orang2 indonesia disana? jika ada, mohon di share agar saya dapat bergabung di sana. tks

  • 10 Januari 2009 pada 01:47
    Permalink

    Ibu Ratna yth,

    Silakan datang saja ke warungnya pak H Nurali ini.
    Lokasi dekat dengan konsulat jenderal RI, causeway bay – hongkong island.

    Disitu banyak saudara2 se-tanah air ngumpul.
    Pemilik warung ini  pun sangat ramah dan baik hati…..

    Salam.

  • 22 April 2009 pada 20:49
    Permalink

    Mas,saya kbtulan maw blibur k hongkong.. Sbaiknya make tour travel ato sndiri saja.. Mungkin,punya knalan org indo d hongkong yg brbaik hati ngasih info2 kalo saya pgi sndiri?

  • 14 Juli 2009 pada 22:14
    Permalink

    Assalamualaikum…
    Turut senang denger cerita bapak,mulai merintis smp jd spt ini.
    Terus semangat ya..Saya kebetulan jg satu profesi dengan bpk,
    cuma saya kerja ikut orang..he.he.kami juga buka resto indonesia di China.moga kita nanti bisa ketemu.selamat ya Bpk..Sukses selalu.

  • 30 September 2009 pada 13:32
    Permalink

    pak mau tanya, tau ngk kalau untk izin usaha di sana
    seprti pak H.Nurali susah ngk yah dapat izinnya??dan bayrnya mahal ngk??
    plz info
    thx a lot

  • 6 April 2011 pada 09:39
    Permalink

    Kangen ke HK lgi…krn keteraturan dan kedisiplinan ,serta transportasi umum yg sangat baik systemnya , tdk spt dtmpt kita ..semrawut ..tidak ada pembatasan kendaraan bermotor dan cara yg begitu mudah tuk memiliki kendaraan bermotor sedankan infra struktur jalan tidak pernah bertambah, shgga adanya hanya kerepotan untuk semuanya…

  • 3 Juni 2011 pada 17:12
    Permalink

    saya sekarang tinggal di hkg dan pengen banget makan bakso, nasi padang. bukanya dr jam brp sampe jam brp ya? trus alamat jelasnya dmana?keluar dr mtr causeway bay keluar exit apa?thx buat infonya

  • 7 Oktober 2012 pada 11:58
    Permalink

    bole tau info no telp, e-mail, atau apa aja yg bisa dihubungi ttg restorant indonesia yg diHongKong ga?
    soal’nya saya ingin menadu nasib kesana, jdi sesama org indonesia, kalau bisa bantu saya untuk dapat berkerja disana terlebih direstaurant tersebut…
    thx…

Komentar ditutup.

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.