Arsip untuk May, 2007

Kemakmuran membawa kemudahan. Begitulah, China, akhirnya, menjadi negara yang memanjakan warganya dengan macam-macam fasilitas publik; canggih, gratis pula.

Di ruang tunggu Dalian Airport, orang-orang Tiongkok asyik berselancar di dunia maya dengan fasilitas WiFi.

BELUM terlalu larut. Masih pukul 22.00. Tetapi jalan lebar di depan Hotel Kempinski, Dalian, sungguh sepi. Mal di seberang hotel baru saja tutup. Lampu-lampunya dimatikan. Tangga eskalator melambat dan akhirnya berhenti. Belasan pegawai berpakaian modis pulang dengan tapak kaki bergegas, menuju flat-flat yang saling julang terhimpit bangunan lain yang lebih tinggi. Di flat-flat itulah, pegawai-pegawai mal itu, seperti halnya sebagian besar warga China lain, tinggal. baca selengkapnya… ‘Menikmati Tiongkok yang Makin Terbuka’

Memulai Business Trip ke China

 

SETELAH empat tahun, saya akhirnya harus ke China lagi. Berkunjung ke sejumlah kota di Tiongkok, menghirup udara sejuk di penghujung musim dingin, sembari membuka lebar mata menyaksikan betapa majunya negeri berpenduduk 1,3 miliar manusia ini.

Tentu benak dipenuhi rasa penasaran. Kampung saya saja, dalam empat tahun, sudah berubah luar biasa. Daerah yang tadinya sepi sekarang menjadi sentra industri. Pusat kota menyesak, karena kendaraan bertambah saling himpit. Apalagi RRT yang geliat ekonominya demikian dahsyat. Empat tahun pasti telah mengubah banyak hal. 

Saya di Tembok Besar China, empat tahun yang lalu.Trip kali ini bukanlah berwisata, seperti perjalanan ke China sebelumnya. Agendanya lebih spesifik; business trip. Saya memang bergabung dalam rombongan besar; Indonesia China Business Council (ICBC), sebuah organisasi yang didedikasikan untuk jalinan bisnis Indonesia-China. Ada lebih 100 orang ikut, dipimpin bos Maspion Group Alim Markus.

Perjalanan dimulai Senin dini hari, 21 Mei, dari Soekarno-Hatta menuju Xiamen, kota utama di Provinsi Fujian yang terkenal sebagai kawasan industri. Di Xiamen hanya transit sebentar di Gaogi Airport, lantas melanjutkan perjalanan ke Beijing. Dua hari di Beijing tentu cukup untuk keluyuran. Apalagi memang tak ada agenda penting kecuali jalan-jalan!

Baru ada acara resmi di hari ke tiga, karena saya beserta rombongan mesti menuju kota Dalian, di sebelah timur Beijing, untuk sebuah pertemuan dengan pemerintah dan pengusaha setempat. Kabarnya bakal ada semacam penandatangan kerjasama investasi di kota pelabuhan yang padat dan penting ini. Entahlah, saya sendiri, karena sekadar pengikut, belum tahu pasti apa acara resmi itu.

Dari Dalian perjalanan dilanjutkan ke Qingdao, kota di pantai selatan yang juga padat. Sejumlah pertemuan dengan para pebisnis Tiongkok akan dilakukan di kota ini. Kunjungan berikutnya adalah ke Weifan, kota yang bahkan namanya pun masih begitu asing bagi saya. Karena dua kota ini belum pernah saya datangi, maka trip kali ini pastilah menarik.

China sedang menikmati kemajuan, menyongsong masa depan yang semakin tak terduga; termasuk bilakah, pada saatnya, negeri ini akan melampaui kedigdayaan ekonomi Amerika. Banyak yang meramal waktunya tak seberapa lama lagi  — mengingat untuk beberapa hal, China bahkan sudah lebih maju dan jauh meninggalkan, bukan saja ekonomi, tetapi juga kesombongan, Amerika.

Dunia sedang memasang mata ke  Negeri Tirai Bambu. Untuk segala hal. Untuk apapun. Orang-orang berdatangan ke Tiongkok, membelalakkan mata dengan decak yang tak berhenti. Mengagumi sesuatu yang sepatutnya memang dikagumi. Negeri raksasa itu sudah benar-benar meraksasa. Seolah membuktikan sabda; Belajarlah sampai ke Negeri China…

Pendidikan Pinggiran

Seorang guru Bahasa Indonesia di sebuah sekolah di pinggiran kota, tengah mengajar materi ejaan yang disempurnakan (EYD) kepada murid-muridnya. Sang guru menulis kalimat di papan tulis: “Mobil itu rusak banget.”
Salah seorang murid disuruh memperbaiki kalimat tersebut agar sesuai EYD. “Coba Udin, apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya agar menjadi benar?
“Dibawa ke bengkel, Bu!” Didi menjawab [...]

Akhirnya, Buku Saya Terbit

MIMPI itu akhirnya terwujud sudah. Keinginan menerbitkan buku karya sendiri menjadi kenyataan. Sebelum ini, saya memang ikut menulis di beberapa buku. Tapi karya bersama alias multi author. Email dari Tanah Suci, buku oleh-oleh haji ini, dengan posisi saya sebagai penulis tunggal (ceileee…), sudah diluncurkan hari Minggu kemarin di Banjarmasin.
Buku ini tebalnya 224 halaman, berisi 40 [...]


Sedang Baca...

Galeri Foto

www.flickr.com
This is a Flickr badge showing photos in a set called Alam & Manusia. Make your own badge here.


Berbagi Video

PETA: File Revolusi 1945-1950

Total Pengunjung



Check PageRank