Pramugariku, Pramusaji Juga…

Setelah beberapa kali menumpang Air Asia, saya melihat ada yang unik dalam manajemen maskapai murah ini; petugas check in counter, petugas pemeriksa boarding pass, pramugari, sekaligus pramusaji, adalah orang yang sama. Rupanya mereka memang dididik untuk jadi petugas darat dan petugas udara sekaligus.
Di banyak penerbangan lain, petugas darat adalah orang-orang yang bahkan belum tentu pernah menumpang pesawat milik maskapai tempat dia bekerja. Makanya tak jarang petugas darat memberi layanan yang nggak nyambung. Setiap bepergian dengan pesawat, saya sering minta seat di posisi emergency exit, supaya dapat space lebih lebar dan kaki bisa selonjor. Tetapi, tidak selalu berhasil. Banyak petugas di check in counter yang tidak paham di mana posisi emergency exit. Setelah menebak-nebak, diberilah nomor yang ternyata keliru.
Dalam hal gengsi sebenarnya juga ada gap antara kru udara dengan kru darat. Pramugari biasanya dianggap lebih keren daripada petugas check in yang berpakaian mirip pramugari tapi sebenarnya tidak terbang. Ketika dua pekerjaan “beda kelas” ini ternyata dikerjakan oleh orang yang sama, maka tak ada lagi yang bisa dibanding-bandingkan.
Di atas pesawat, setelah berlakon sebagai pramugari yang mem(p)eragakan contoh pemakaian sabuk pengaman dan cara penyelamatan dalam keadaan darurat, gadis-gadis berpakaian serba merah ini berubah peran menjadi pramusaji. Mereka mendorong kotak tempat makan dan menawarkan menu-menu serba cepat. Saya memilih semangkuk mie instan rasa Tom Yam dan secangkir milo hangat.
Pramugari yang cantik menjaja makanan, lantas menjaja lagi cenderamata seperti baju kaos dan topi. Beres semua pekerjaan, mereka masih harus keliling ke kursi-kursi penumpang memunguti sampah-sampah bekas mangkuk mie dan cangkir-cangkir plastik. Di penghujung penerbangan mereka perlu memeriksa satu per satu apakah ada penumpang yang tak pakai sabuk pengaman, sandaran kursi belum ditegakkan, atau penutup jendela yang belum dinaikkan.
Saya termasuk penumpang iseng yang, supaya dapat sapaan dari pramugari, kerap bersengaja membiarkan meja terbuka dan sandaran kursi miring ke belakang. Sampai pramugari mendatangi; “Maaf pak, tolong mejanya ditutup, kursinya ditegakkan.”
Sambil melirik nama yang tertempel di bajunya, saya biasanya membalas dengan ucapan terima kasih, lantas dengan “lembut” menyebut nama si pramugari – yang, hmmm, seketika itu juga tersipu-sipu.
