Korupsi Berjamaah Anggota DPRD

Pernahkah Anda merasa benar-benar terwakili oleh wakil rakyat di parlemen? Tidakkah wakil rakyat itu sesungguhnya bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri?

Melihat fenomena korupsi di banyak lembaga legislatif daerah akhir-akhir ini, semakin jelaslah bahwa anggota DPRD memang bekerja untuk dirinya sendiri. Kebetulan saja, yang dikerjakan (kadang-kadang, lebih sering tidak) bersinggungan dengan kepentingan orang banyak, dan karena itulah mereka lantas memperoleh gaji di atas rata-rata pegawai atau karyawan.

Menerima gaji dengan pekerjaan yang tak begitu jelas itu saja tidak cukup. Anggota DPRD masih harus korupsi untuk memenuhi raihan rupiahnya. Indonesian Corruption Watch (ICW) mencatat selama 6 bulan pertama tahun 2004 ini saja, kasus korupsi DPRD yang terungkap dan diproses sudah mencapai Rp428,511 miliar! Angka yang tidak sedikit. Asumsinya, kalau yang terungkap dan diproses saja segitu, berapakah yang tak terungkap?

Yang saya tak habis pikir, korupsi di DPRD harus dilakukan secara berjamaah, karena jumlah mereka memang tak sedikit — dan mustahil melakukannya sendiri. Untuk mengambil keputusan “berkorupsi” itu mereka harus bersepakat, kompak, tau sama tau. Sebutlah daerah terkecil dengan 25 anggota, maka 25 orang itu harus “akur” untuk sama-sama korupsi. Setelah akur barulah dicari modusnya seperti apa. Ada yang me-mark up uang tunjangan, menggelembungkan dana asuransi, sampai menganggarkan biaya perjalanan fiktif. Makanya, ketika kasusnya terungkap, mereka harus sama-sama masuk bui. Tengoklah kasus di Sumatera Barat itu.

Ya… sebenarnya, kalo mau bicara lebih baik atau lebih buruk, korupsi berjamaah di DPRD ini relatif masih lebih baik dari sisi pemerataan. Sebab kalau pejabat eksekutif sekelas gubernur, bupati atau walikota melakukan dan menikmati sendiri hasil korupsinya, maka di DPRD duit haram itu dinikmati bersama-sama. Sama-sama enaknya, sama-sama berdosanya.

Saya jadi ingat ucapan seorang ulama: ketika kejahatan dilakukan berkelompok, apalagi dengan jamaah yang berbilang puluhan orang, maka sesungguhnya itu tanda-tanda kembalinya kejayaan zaman jahiliyah. Nauzubillahi mindzalik…

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.