Skip to content

WINDEDE.com

Menu
  • Home
  • Esai
  • Kontemplasi
  • Inspirasi
  • Perjalanan
  • Fotografi
  • Budaya
  • Politika
Menu

Bencana yang Memang Dinantikan

Posted on 28 Juni 2006

Banjir besar di Riam Kanan Martapura

Akhirnya bencana itu datang kembali. Air bah mengalir dari waduk Riam Kanan, menghancurkan keramba-keramba penduduk di sepanjang aliran sungai, menyapu rumah-rumah bertonggak kayu yang rapuh, menghanyutkan beberapa nyawa manusia, merendam belasan kampung dan memaksa ribuan warga mengungsi ke perbukitan.

Saya termasuk yang masih bisa tidur nyenyak beberapa hari terakhir karena tinggal di daerah cukup tinggi. Rintik hujan menyentuh atap justru menghadirkan suara lirih seindah harmoni musikal yang mengiringi lelap. Sungguh berbalik 180 derajat dengan suasana di posko-posko pengungsian penduduk; penuh orang panik dan ketakutan.

Banjir bandang bukan saja merendam kampung-kampung di sekitar Riam Kanan, Kabupaten Banjar. Di Hampang, Kabupaten Kotabaru, banjir juga menyapa warga bersama timbunan tanah longsor. Di Satui, Sungai Danau, Kabupaten Tanah Bumbu, bencana tak kalah dahsyat. Jalan trans Kalimantan terputus. Pun begitu dengan kawasan Jorong dan Asamasam di Kabupaten Tanah Laut.

Banjir memang bukanlah tamu istimewa untuk Kalimantan. Aliran sungai yang berkelok, hamparan tanah rawa gambut berjuta hektare, juga waduk dan kanal yang diciptakan, masih tak cukup untuk menampung air yang melimpah. Menjadi tambah buruk karena hutan-hutan tinggal kenangan, dan bukit-bukit dibongkar untuk dikeduk batubara dan biji besinya. Banjir menjadi langganan, bahkan boleh dibilang bencana yang setiap tahun dinantikan.

Saya baru berkeliling ke tempat-tempat pengungsi. Wajah-wajah panik penduduk sekitar waduk yang khawatir bendungan jebol dan kampung mereka menjadi danau. Sekarang saja rumah tak bisa ditinggali. Air merendam sampai di bibir atap. Tak ada yang berani memastikan kapan surutnya, karena hujan masih mengguyur setiap hari.

Di tengah bencana seperti ini, tak terdengar ada cukong kayu berbuat sesuatu, bahkan sekadar untuk menyapa penduduk yang sengsara karena ulah mereka. Begitu pun penambang-penambang batubara, yang setiap hari keluyuran di jalan desa dengan mobil Hummer, berkacamata hitam dan cerutu di tangan. Mereka memang tidak melakukan apa-apa di kampung-kampung yang kebanjiran, karena kampung-kampung itu hanya dapat kiriman air dari kawasan hulu yang hancur – dan hancurnya itu jika bukan karena penebangan kayu, ya penambangan batubara.

Betapa jahatnya para pembalak hutan dan penambang yang menjadi kaya dengan merusak lingkungan; meninggalkan penduduk setempat yang bukan saja tak kebagian keuntungan, malah dihadiahi bencana. Orang-orang kampung ini terlanjur disenangkan dengan disumbang membangun masjid, disuplai sedikit air bersih dan sesekali disantuni rupiah yang nilainya belakangan tak sebanding dengan kerugian akibat banjir.

Memang faktor cuaca ikut jadi penentu. Entahlah, saya sendiri bingung. Bulan-bulan begini mestinya sudah masuk kemarau, dan… seperti biasa udara di kampung saya akan penuh asap karena pembakaran lahan sawah. Sekarang, sudah hampir bulan Juli, hujan tak kunjung berhenti. Panen pertama sudah lewat dua bulan yang lalu. Musim tanam kedua tak bisa dilakukan karena sawah-sawah pun kebanjiran.

Saya percaya tidak semua bencana adalah azab. Boleh jadi Tuhan sedang memberi ujian. Tetapi ketika ujian itu datang setiap tahun untuk persoalan yang sama, tidakkah sebenarnya kita lebih celaka dari siswa yang tak lulus UN? Sebab ternyata diuji setiap tahun tak lulus-lulus juga…

Jadi, jangan-jangan ini memang bukan ujian, tapi azab?

Like & Share

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

About

 

WinDede a.k.a Erwin D. Nugroho.

Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

My Book

My Youtube

https://youtu.be/2vSExaDnOTQ

My Instagram

Sesi foto keluarga, biar ada kenangannya... #eeeaa Sesi foto keluarga, biar ada kenangannya... #eeeaaaa
Si bungsu udah macam anak tunggal... Si bungsu udah macam anak tunggal...
Sesi foto tiga generasi... Sesi foto tiga generasi...
Baru terima nih official photos dari graduation du Baru terima nih official photos dari graduation dua pekan yg lalu. Harus diposting dong yak, hahaha...
Terima kasih Rektor UAI Prof. Dr. Ir. Asep Saefudd Terima kasih Rektor UAI Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc.
Bersama Dekan Fakultas Hukum UAI Dr. Yusup Hidayat Bersama Dekan Fakultas Hukum UAI Dr. Yusup Hidayat, S.Ag., M.H.
Sekali-sekali dapat predikat tertinggi selain ukur Sekali-sekali dapat predikat tertinggi selain ukuran badan hehe 😁
Alumni FH UAI angkatan 2018 👨‍🎓👩‍🎓 Alumni FH UAI angkatan 2018 👨‍🎓👩‍🎓
Alhamdulillah... Alhamdulillah...
Load More Follow on Instagram

Arsip Blog

Posting Terakhir

  • Liburan Tipis-Tipis ke Singapura (2): Semakin Ramah bagi Turis Muslim
  • Liburan Tipis-Tipis ke Singapura (1): Tiket Pesawat Lebih Murah ketimbang Rute Domestik
  • Ogi, Amtenar Aktivis
  • Uji Bebas Covid-19
  • Nyetir Sendiri Keliling Eropa (4): Bebas Ngebut di Jerman, Taat Speed Limit di Prancis dan Belanda
  • Nyetir Sendiri Keliling Eropa (3): Semua Urusan Dikelola Mesin, Bisa Curang Tapi Tetap Patuh
©2026 WINDEDE.com | Design: Newspaperly WordPress Theme