Menikmati Indonesia Kecil di Victoria Park

Di tengah gegap gempita Hong Kong, sekumpulan orang Indonesia membentuk komunitas di negeri megapolitan itu. Mencipta Indonesia kecil di antara keterasingan kaum urban.

TKW Indonesia, modis-modis. 

MINGGU pagi yang cerah. Sama seperti akhir pekan sebelumnya, Sri Ningsih, 24 tahun, bergegas turun dari apartemen majikannya di lantai 21 sebuah bangunan pencakar langit di daerah North Point, Hong Kong. Berbekal sebotol air mineral dan sepotong roti jatah sarapan, Ningsih berjalan menyusuri Hong Kong yang hangat menuju stasiun MTR (mass transit railway) terdekat. Kereta cepat bawah tanah itu memang merupakan public transport yang mudah dan murah dan jadi moda transportasi favorit penduduk Hong Kong selain bus dan tram.

“Sudah janjian sama teman, ada yang ulang tahun hari ini,” kata gadis asal Jember, Jawa Timur itu. Dari stasiun MTR North Point, Ningsih harus melewati dua stasiun, Fortress Hill dan Tin Hau, sebelum sampai di stasiun MTR Causeway Bay. Di daerah inilah, Victoria Park, sebuah taman seluas 4 hektare, menjadi tujuannya.

Santai lesehan sambil makan-makan.Bagi warga Indonesia di Hong Kong, tak ada kawasan sepopuler Victoria Park, apalagi di akhir pekan. Inilah tempat ribuan tenaga kerja Indonesia, sebagian besarnya wanita (TKW), berkumpul setiap Minggu, hari di mana para majikan di Hong Kong wajib meliburkan pekerja rumah tangga mereka. “Seperti pulang kampung,” kata Ningsih, yang sudah 4 tahun bekerja di negeri bekas koloni Inggris itu.

Rasa “di kampung halaman” itulah yang dikejar ribuan TKW, sehingga mereka berdatangan dari seluruh penjuru negeri kepulauan tersebut. Sebagian besar berasal dari Hong Kong Island sendiri, sebagiannya lagi datang dari Kowloon, New Territories dan Lantau Island. Maka, selama seharian setiap Minggu, Victoria Park benar-benar menjadi “kampung Indonesia”.

Macam-macam aktivitas dilakukan orang Indonesia di taman hijau yang juga terdapat sejumlah sarana olahraga publik ini. Salah satu yang rutin adalah arisan antar-TKW. Kemudian bercengkerama sambil memasak penganan khas Nusantara. Mereka juga bertukar kisah, saling curhat, lantas membuat rencana jalan-jalan ke tempat wisata yang banyak tersebar di Hong Kong.

Sadar bahwa ribuan orang Indonesia berkumpul setiap akhir pekan di taman ini, sebagian TKW juga memanfaatkan pesta sepekan sekali itu dengan bikin usaha sampingan. Ada yang membuka jasa pijat tradisional. “Lumayan, buat menghilangkan penat setelah semingguan bekerja,” kata Yuniarti, seorang TKW yang mengaku rutin dipijat tiap Minggu. “Tapi khusus perempuan lho, Mas,” katanya buru-buru. Tempat pijatnya ya di taman itu, hanya bertutup payung dan selembar kain.

Dilarang duduk, tapi boleh gelar tikar. 

TKW lainnya memilih berjualan makanan dan minuman khas Indonesia. Dari yang ringan seperti es cendol dan onde-onde, sampai yang agak berat semacam nasi kuning dan nasi rames. Semua dikemas sederhana supaya mudah membawanya. Dijual cukup murah, di kisaran 10 HKD (lebih kurang Rp 12 ribu). Sebagai gambaran, beberapa warung makan Indonesia yang ada di Causeway Bay mematok seporsi makanan dengan harga 30-50 HKD. Lebih mahal sampai lima kali lipatnya.

Hong Kong memang menjadi negeri mimpi bagi banyak TKW Indonesia. Dibandingkan bekerja di Singapura, Malaysia atau Arab Saudi, di Hong Kong kehidupan TKW jauh lebih manusiawi. Selain gajinya lumayan, 4.000-5.000 HKD per bulan (di atas Rp 5 juta), mereka juga mendapat kebebasan sosial. Itulah sebabnya komunitas TKW di Hong Kong sangat hidup dengan beragam aktivitas. Beda dengan Malaysia atau Arab Saudi, di mana TKW Indonesia di sana lebih sering terkurung di rumah saja.***

Like & Share

13 Comments on “Menikmati Indonesia Kecil di Victoria Park”

  1. kok ya pesannya pake bahasa Indonesia ya? bahasa Indonesia dah jadi bahasa ketiga kali di hongkong.

    -ndak di Indo ndak di Hongkong, peringatan cuman jadi pajangan aja. dasar!-

  2. bagi gw seorang tkw adalah pelindung bangsa indonesia….
    dialah seorang pahlawan masa depan yg kunjung henti2 nya menangis derita keringat mereka…..
    dharis deep jakarta indonesia

  3. Bagi saya seorang muslimah, kayaknya gak berani dech ke negara non muslim untuk jadi TKW. Di samping makanan yang kebanyakan mengkösumsi yang haram jg fasilitas ibadah sangatlah susah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.