Oleh-Oleh Ide dari Toilet

Seberapa sering Anda ke toilet? Mungkin, sesering itulah Anda berpikir dengan lebih fokus!

Ya, di toilet… terutama untuk urusan yang perlu waktu 5 sampai 10 menit, kita bukan saja membersihkan isi perut dari ampas, tapi juga memfungsikan sel-sel saraf di dalam otak. Sebab, saat di toilet itulah kita bisa berpikir, merenung, melamun, menghayalkan sesuatu yang sulit kita khayalkan dalam suasana lain. Di toilet, kita memperoleh kemerdekaan berpikir semerdeka-merdekanya. Sebab di ruang sempit itu kita sendiri, duduk atau jongkok, sambil memutar otak.

Ada kawan, yang kalau ke toilet selalu bawa majalah atau koran. Dia bilang, sayang waktunya terlewat hanya untuk buang hajat. Karena itu, bagi dia, saat paling baik untuk membaca adalah di toilet. Kawan lain, setiap ke toilet, selalu membawa sangu rokok. Senikmat-nikmatnya merokok, kata dia, adalah sambil buang hajat!

Saya tidak pernah bawa apa-apa kalau ke toilet, kecuali, tentu saja “barang” yang mau saya buang itu. Tapi saya tidak bisa menghindar dari lamunan, khayalan dan semacamnya itu ketika di toilet. Maka, setiap pagi, saya bisa menghabiskan 10 sampai 15 menit di toilet. Ngapain? Selain buang hajat… lebih sering untuk berpikir. Akibatnya, banyak ide dan inspirasi justru terlahir dari ruang pembuangan itu.

Maka, tiba-tiba, saya punya ide untuk melengkapi toilet di rumah dengan perangkat komputer dan internet. Supaya setiap ide yang muncul di tempat itu langsung bisa ditulis, tidak terbang sia-sia bersama tenggelamnya kotoran ke dalam septic tank. Kekhawatiran saya cuma satu: jangan-jangan, suatu saat nanti, saya tidak bisa berpikir lagi kecuali di dalam toilet. Lantas ruang kerja saya berpindah ke toilet… dan supaya saya terus bisa berpikir, maka saya akan terus berada di toilet.

Ngelantur? Iya sih… maklum, tulisan ini juga saya buat setelah baru saja ngelamun di toilet.
Like & Share

2 Comments on “Oleh-Oleh Ide dari Toilet”

  1. Ping-balik: Hydrocodone.
  2. Banyak yang mengakui ini…
    Dan banyak juga yang mengaku mendapat ide dari “bilik” in..
    Rieke Diah Pitaloka salah satu di antaranya.
    Dan sudah ditegaskan ama mas erwin, dia juga mendapat ide setelah dari “bilik” ini..
    apa kalau mandek n buntu, trus kita datangi “bilik” ini, dan boooom, dapat ide..
    gak juga….
    tapi kalau merasa dapat ide dari bilik ini, sah-sah saja…
    toh yang penting gimana ide itu tidak sekadar oleh-oleh dari toilet,

    good luck, mo ke bilik dulu…

Tinggalkan Balasan ke Leequisach Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.