Pengungsi Lebih Senang Orang Asing

Bersama Radar Banjar Peduli (RBP),  saya melakukan perjalanan ke sejumlah kota yang terkena bencana gempa dan tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), untuk menyalurkan sumbangan warga Kalsel yang masuk lewat Dompet Peduli Aceh di Radar Banjarmasin. Berikut catatannya:

HIRUK di Bandara Polonia Medan. Pagi berkabut itu, jam masih menunjuk pukul 06.30 waktu setempat. Ratusan penumpang berjejal menunggu panggilan naik pesawat. Di empat pintu keberangkatan, sejumlah petugas bersiap mengumumkan waktu boarding. Sepagi itu, ada empat pesawat yang hendak berangkat. Dua flight tujuan Banda Aceh, satu flight tujuan Jakarta dan satu flight lagi menuju Lhokseumawe.

Bandara sibuk di pagi hari mungkin biasa. Di Syamsuddin Noor pun sekarang ada 3 flight yang terbang pagi-pagi sekali. Bedanya, di Polonia Medan, penumpang yang berjejal menunggu keberangkatan itu didominasi orang-orang asing. Sebagian hendak menuju Banda Aceh, sebagian lagi baru pulang dari lokasi bencana dan bersiap menuju Jakarta.

Orang-orang asing itu membuat suasana ruang tunggu Bandara Polonia seperti bukan di keberangkatan domestik, tetapi keberangkatan internasional. “Malah, kalau melihat seperti ini, kita serasa tidak berada di Indonesia. Rasanya seperti di bandara luar negeri yang entah di mana,” kata dr Tri Joko, relawan medis dari Kabupaten Tanah Laut yang bergabung bersama rombongan RBP.

Orang-orang asing, entah sipil atau militer, hari-hari terakhir ini memang masih memadati lokasi-lokasi bencana di Aceh. Meski keberadaan mereka menimbulkan macam-macam kecurigaan, toh di hampir semua sudut kota Banda Aceh justru orang-orang asing itulah yang tampak bekerja.

“Apa pun kecurigaan kita kepada mereka, orang Asing itu sangat nyata manfaatnya. Mereka bekerja dan membantu dengan serius. Kebanyakan warga Aceh di pengungsian justru lebih senang dengan orang-orang asing itu,” kata Said Ahmad, salah seorang relawan yang sekarang ngepos di Kreung Raya Banda Aceh.

Selain menjadi relawan pengevakuasi mayat, kebanyakan warga asing di Banda Aceh terlibat dalam kerja-kerja medis seperti rumah sakit lapangan maupun klinik keliling. Mereka juga terlibat dalam upaya relokasi pengungsi,  pembuatan sumur bor dan water treatment system (pengolah air bersih).

Simpati kepada warga asing juga semakin kuat ketika terkuak kasus pencurian barang-barang bantuan oleh Farid Faqih. Lepas dari benar-tidaknya tuduhan kepada pimpinan LSM Government Watch (GOWA) itu, tertangkapnya Farid membuat nama relawan Indonesia ikut tercoreng. “Itulah, orang kita dalam suasana penuh keprihatinan pun masih sempat mencuri,” kata Johni Pospos, warga Banda Aceh yang menjadi pendamping lokal rombongan RBP selama di Banda Aceh.

Dari Polonia Medan, yang penuh orang asing itu, rombongan RBP tidak langsung menuju Banda Aceh. Berkat bantuan PT Arun LNG, kami terbang dulu ke Lhokseumawe dengan pesawat khusus milik perusahaan gas milik Pertamina itu. RBP sengaja memilih rute lewat Lhokseumawe, supaya bisa melanjutkan perjalanan darat dari Lhokseumawe ke Banda Aceh. Sepanjang perjalanan darat itulah, RBP bisa singgah dan menengok korban bencana di kamp-kamp pengungsi di Bireuen, Cotleubeng, Matang, Meukobrawang, Beureunun, Beutong, Sigli, Indrapuri dan Lambaro.

Perjalanan RBP ke Tanah Rencong selama sepekan di awal Ferbruari 2005 ini adalah trip kedua, setelah sebelumnya juga mengantar langsung sumbangan warga Kalsel kepada korban bencana di Aceh, sepekan pasca bencana. Ikut dalam rombongan trip kedua ini Ketua RBP Ogi Fajar Nuzuli, Sekretaris RBP Yohandromeda Syamsu, relawan PP ESQ Kalsel Nor Akbar dan relawan medis dari Tanah Laut, dr Tri Joko.

Sesampai di Lhokseumawe, RBP dijamu makan siang oleh Presiden Direktur PT Arun LNG, Aknasio Sabri, yang didampingi jajaran pimpinan PT Arun. “Kami sangat senang bisa ikut membantu kelancaran perjalanan kawan-kawan RBP. Apalagi Arun memang punya program sosial yang sudah dilaksanakan dua hari setelah terjadi bencana,” kata Aknasio.

Dari Lhokseumawe, rombongan RBP melakukan perjalanan darat dengan mobil khusus dari PT Arun. Bahkan, sesampai di Banda Aceh pun, kami “dipaksa” menginap di Posko Arun yang alhamdulillah jauh lebih layak daripada harus tidur di bawah tenda darurat. (bersambung)

Like & Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.