Bikin Buku Sebelum Mati

Sejak lama saya pingin bikin buku. Dua tahun yang lalu sudah menyusun naskahnya, namun terganjal ini-itu akhirnya gagal lagi. Sekarang sedang coba-coba bikin naskah baru, tapi entahlah… apa akhirnya bisa selesai. Yang pasti, bikin buku itu salah satu cita-cita… dan agaknya harus benar-benar diwujudkan.

Kenapa bikin buku jadi penting? Ada dua alasan yang sederhana. Pertama, buku bisa jadi warisan berharga yang tak ternilai, yang masih “tersisa” ketika kita sudah tak bernyawa alias mati. Orang bisa ingat kita lewat buku itu — persetan isinya tentang apa pun. Kedua, bikin buku itu seperti kebiasaan menulis. Sekali jadi, selanjutnya bakal bikin lagi… lagi dan lagi… So, kapan mau jadi penulis buku kalau dimulai pun belum?

Saya jadi iri sama Imam Samudra. Dari balik jeruji besi penjara, dia justru bikin catatan-catatan kecil yang dirangkum lantas tersusun menjadi sebuah buku. Dia menyebutnya biografi setengah hati, karena buku itu, selain berkisah mengenai jalan hidupnya sampai di penjara, juga berisi pandangan-pandangannya mengenai terorisme, Islam dan perjuangan kaum mujahid.

Ya, paling tidak, ketika eksekusi mati harus ia hadapi (untuk diketahui, Imam sudah divonis hukuman mati), pria 34 tahun ini sudah menumpahkan sebagian pikiran di balik batok kepalanya lewat buku. Dia boleh mati… tapi pikiran-pikirannya, apa pun isi pikiran itu, akan tercatat dalam lembar sejarah.

Ah… kalau Samudra bisa, kenapa kita tidak? Maka, tulislah buku… sebelum mati.
Like & Share

2 Comments on “Bikin Buku Sebelum Mati”

  1. alhamdulllah, kalo sigit pikir sih emang bener kalo kita bikin buku yang bermanfaat maka hal itu akan jadi warisan kita. bahkan jadi aset hidup dan mati kita. buku berguna bagi orang lain, maka amalnya pun insyaalloh akan mengalir sampai kita mati nanti. amiin. sigit juga lagi mencoba bikin buku nih, tepatnya tentang bahasa inggris. mudah2an bukunya lekas jadi dan diminati para pelajar yang pingin maju.amiin.wslmkm

  2. bikin buku, sunnguh kerja yang perlu konsentrasi tinggi dan harus konsisten, karena bikin buku sering bosan di tengah perjalanannya. tapi dengan sampai terwujudnya buku yg jdi impian kita itu clear, menjadi kepuasan yang tak terhingga. tulis dan terus tulis lama2 juga akan jadi dgan sendirinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.