Ibu Kota Negara Pengganti Jakarta (3): Dari Balikpapan ke Istana Lewat Coastal Road

Pemindahan ibu kota negara (IKN) ke Kalimantan Timur akan dibarengi dengan pembangunan sejumlah infrastruktur pendukung. Daerah penyangga bakal paling untung.  

AKSES transportasi dari Simpang Samboja di Kutai Kartanegara (Kukar) menuju Penajam di Penajam Paser Utara (PPU) memang sudah tersedia melalui jalur darat. Namun kondisi jalan masih belum terlalu layak. Kerusakan di mana-mana. Mungkin hanya sekitar 60% yang benar-benar mulus dan bisa dilintasi kendaraan dengan kecepatan di atas 70 kilometer per jam. Sisanya, berantakan.

Jarak jalur darat dari Simpang Samboja menuju Penajam sebenarnya tak lebih dari 80 kilometer. Namun kondisi jalan yang kurang baik membuat jarak itu mesti ditempuh 4-5 jam. Lubang-lubang menganga di tengah jalan membuat kendaraan terpaksa menepi, menghindar, atau mengurangi kecepatan. Bila tidak, penumpang dijamin terguncang-guncang hebat.

Badan jalan juga sempit. Hanya cukup untuk dua lajur. Pengemudi harus ekstra hati-hati karena roda slip sedikit saja bisa keluar jalur. Apalagi rumah penduduk berada di kiri-kanan jalan, saling berseberangan di sepanjang sisinya. Sehingga sangat rawan kecelakaan mengingat aktivitas warga tidak jauh dari jalan poros tersebut.

Saat tim Kaltim Post melewati jalur darat ini pada Ahad (1/9) lalu, cuaca sedang panas-panasnya. Matahari terik. Debu berterbangan dari gilasan roda kendaraan yang melaju, terutama setiap melewati bagian jalan yang rusak dan berlubang. Bangunan rumah penduduk, pepohonan dan apa saja yang berada di pinggir jalan sampai berwarna kecokelatan. Bahkan daun pisang pun tak hijau lagi. Ketempelan debu.

“Kondisi sebaliknya terjadi ketika musim hujan. Jalanan becek. Lebih sulit dilintasi. Sering ada yang mogok, sampai nggak bisa gerak,” kata Ghofir, seorang pengemudi truk ekspedisi yang saya jumpai di SPBU Sepaku, satu-satunya pom bensin yang kami lewati di sepanjang rute ini. Posisinya berseberangan persis dengan Indomaret, juga satu-satunya gerai minimarket berjaringan yang sudah beroperasi di desa ini.

Berita mengenai pemindahan ibu kota negara yang ramai di media dan menjadi pembicaraan di mana-mana, praktis membuat jalan poros Samboja – Penajam lebih ramai dari biasanya. Mobil-mobil pribadi berseliweran. Menurut warga, sebagian besar mereka orang luar kawasan Sepaku, bahkan luar Kalimantan, yang khusus datang untuk mengetahui lokasi ibu kota baru. Banyak juga yang mampir ke warung-warung makan, warung kopi, untuk makan-minum sembari bertanya-tanya mengenai harga tanah.

Rombongan Kaltim Post pun singgah makan siang di Warung Yuanda, sebuah rumah makan sederhana di Dusun Sukamulya, Desa Sukaraja, Kecamatan Sepaku. Posisinya persis di seberang Masjid Al Amin Sepaku III, di pinggir jalan poros Samboja – Penajam.

Geliat ibu kota baru sangat terasa dari obrolan orang-orang di warung itu. Rata-rata mereka membicarakan pengumuman Presiden RI Joko Widodo beberapa hari sebelumnya, yang menyebut bahwa IKN baru itu berlokasi di sebagian PPU dan sebagian Kukar. “Kita sering-sering makan di sini mumpung masih sepi. Nanti tempat ini mungkin sudah jadi mal,” celetuk salah seorang di antara mereka.

Meski sudah dipilih jadi bakal ibu kota menggantikan Jakarta, harga makan siang di tempat ini masih menggunakan “harga desa”. Total kami hanya membayar Rp155.000 untuk makan siang 8 orang di Warung Yuanda. Padahal menu yang kami pilih bervariasi. Ada nasi campur dengan jangan gori (sayur nangka), urap, lalapan, tahu-tempe, juga ikan nila goreng dan ayam goreng. Ditambah minuman es teh dan air mineral kemasan. Dengan menu yang sama, kalau makan di Balikpapan bisa bayar dua kali lipatnya.

Pelayan di warung itu juga tak kalah agresif. Saat kami membayar, dia bertanya apakah rombongan kami ingin membeli tanah? “Ini nomor Pak RT. Beliau yang punya warung ini. Kalau mau tanya-tanya tanah, beliau punya banyak informasi,” kata pelayan itu, memberi nomor ponsel pemilik warung.

Dari Warung Yuanda perjalanan kami lanjutkan menuju Penajam. Masih harus menempuh setengah perjalanan lagi, melewati beberapa desa seperti Pemaluan, Sepan, Sotek dan Petung. Rute dari Sepaku menuju Penajam ini jauh lebih menantang, karena jalan yang rusak semakin banyak.

Meski begitu pemandangan di sepanjang perjalanan begitu indah. Dengan langit biru dan hamparan bukit-bukit hijau sejauh mata memandang. Sebagian besar merupakan perkebunan sawit.

Rute ini dipastikan bakal menjadi akses utama menuju lokasi pusat pemerintahan Indonesia dari sisi Penajam. Belum jelas apakah kelak jalan akan dilebarkan, atau dibuat akses baru berupa jalan tol, seperti halnya tol Balikpapan – Samarinda yang salah satu pintu keluarnya nanti ada di Simpang Samboja dan akan menjadi akses ke lokasi ibu kota dari sisi Samboja.

Salah satu cabang jalan poros ini terhubung dengan Jembatan Pulau Balang, yang melintasi Teluk Balikpapan dan saat ini sedang dalam tahap pembangunan. Kemudian, jalan akan berujung di Penajam, yang juga direncanakan akan dibangun Jembatan Tol menuju Balikpapan, menyambung dengan proyek coastal road, jalan yang menyusuri pinggiran pesisir laut Balikpapan sampai ke Bandara Sepinggan.

Jadi gambarannya kelak bila semua rencana proyek infrastruktur ini terealisasi, akan ada jalan lingkar yang rutenya tidak putus dari Balikpapan ke Samboja, kemudian Samboja ke Sepaku, terus Sepaku ke Penajam dan dari Penajam melewati Jembatan Tol ke Balikpapan lagi. Melingkar tanpa putus. Hal ini akan benar-benar mengubah peta jaringan jalan di Kaltim, sekaligus mengubah pula landscape pesisir timur dan selatan Pulau Kalimantan yang berbatasan dengan Selat Makassar.

Bayangkan kelak untuk menuju ke Istana Negara dari Bandara Sepinggan, presiden dan rombongannya bisa pilih mau lewat Samboja atau melalui Penajam. Kalau lewat Samboja, masuknya ke jalan tol Balikpapan – Samarinda. Kalau melalui Penajam maka langsung menyusuri coastal road, yang ujungnya menyambung dengan Jembatan Tol Balikpapan – Penajam, sebuah jembatan sepanjang 7,35 kilometer dan akan menjadi jembatan atas laut terpanjang di Indonesia.

Jembatan Tol Balikpapan – Penajam sendiri merupakan proyek yang sudah direncanakan sebelum ada keputusan IKN. Bahkan menurut Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, proyek jembatan tol ini tetap jalan dengan atau tanpa ada pemindahan ibu kota. Saat ini sudah masuk lelang tahap prakualifikasi proyek oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR.

Proyek-proyek infrastruktur terkait pemindahan ibu kota akan dimulai tahun depan. Semua bergerak simultan, termasuk percepatan proyek coastal road Balikpapan yang sudah direncanakan sejak beberapa tahun lalu.

Adapun jalan tol Balikpapan – Samarinda, kini tinggal tahap finishing dan diperkirakan sudah mulai beroperasi akhir 2019.

Di mana pun titik persisnya pusat pemerintahan Indonesia di PPU dan Kukar itu, lokasinya nanti pasti akan terhubung dengan mudah ke semua jaringan transportasi yang sedang disiapkan sekarang ini. (habis)

Like & Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.