Ibu Kota Negara Pengganti Jakarta (1): Jalan Baru Itu Berakhir di Ujung Perairan Teluk Balikpapan

Meski lokasi ibu kota negara (IKN) baru sudah diumumkan Presiden RI Joko Widodo, belum ada keterangan resmi di titik mana persisnya pusat pemerintahan Indonesia itu akan dibangun. Bersama beberapa kawan saya menjelajah jalur darat dari Samboja hingga Penajam, untuk mencari jawabannya.

JALAN poros Balikpapan – Samarinda tak seberapa padat, Ahad pagi (1/9). Menggunakan dua mobil jenis double cabin dengan penggerak roda 4×4, saya bersama tim berjumlah 8 orang berangkat dari Gedung Biru Kaltim Post di Jl Soekarno Hatta KM 3,5 Balikpapan pukul 08.30 Wita. Kami “siap tempur” menjajal jalur darat menuju lokasi ibu kota baru yang sedang jadi pembicaraan hangat masyarakat seantero Indonesia itu.

Rute pertama yang kami tempuh Balikpapan – Samboja. Sampai di pertigaan KM 38, berbelok ke kiri, lebih kurang 12,5 kilometer ke arah Bukit Bangkirai, yang selama ini dikenal masyarakat Kaltim sebagai kawasan wisata hutan hujan tropis. Dikelola PT Inhutani I unit Balikpapan, wahana paling populer di tempat ini adalah jembatan gantung yang menghubungkan beberapa pohon bangkirai di ketinggian lebih kurang 30 meter.

Kami tidak mampir Bukit Bangkirai. Hanya melewati gerbangnya saja di pinggir jalan poros Samboja – Sepaku. Hemat waktu, sebab dari gerbang itu masih harus masuk lebih kurang 8 kilometer lagi ke lokasi wisata. Perjalanan kami teruskan menuju Desa Semoi Dua, kira-kira 20 kilometer ke arah barat, menjauh dari Simpang Samboja, melewati garis perbatasan Kukar dan PPU.

Banyak yang menyebut lokasi persis ibu kota baru itu berada di Semoi Dua ini. Sebab memang desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Sepaku, PPU itulah yang posisinya berbatasan langsung dengan wilayah Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Posisi ini paling identik dengan apa yang disebutkan Presiden Jokowi saat mengumumkan lokasi ibu kota baru, pada 26 Agustus 2019 lalu. Saat itu, Jokowi menyebut lokasi yang dipilih berada di sebagian wilayah PPU dan sebagian Kukar.

Tiba di Desa Semoi Dua, kami melambatkan laju kendaraan. Selain karena ingin lihat-lihat keadaan sekeliling, di beberapa titik juga sedang ada proyek pengecoran jalan. Sehingga bidang jalan tersisa setengahnya saja. Mobil hanya bisa melaju 30-40 km per jam.

Sama seperti sebagian besar desa di Sepaku, Semoi Dua dihuni warga transmigran asal Jawa. Permukiman penduduk berada di pinggiran jalan poros tersebut. Saling berhadapan di sisi kiri dan kanan jalan. Memanjang lebih kurang 2 kilometer.

Tak bayak aktivitas warga yang terlihat hari itu. Hanya ada beberapa mobil pick up mengangkut ibu-ibu di bak belakang, sepertinya sehabis mengikuti karnaval Satu Suro, menyambut Tahun Baru Islam yang biasa dirayakan masyarakat adat Jawa setiap tanggal 1 Muharram.

Dari Desa Semoi Dua kami terus melanjutkan perjalanan ke Sepaku. Dengan luasan lahan yang dipersiapkan mencapai 180 ribu hektare, lokasi persis pusat pemerintahan sangat mungkin mengarah ke daerah yang lebih ke dalam lagi, ke arah barat. Sehingga lokasi ibu kota nanti bisa saja membentang dari perbatasan Samboja – Sepaku hingga ke Teluk Balikpapan.

Supardi, salah seorang anggota tim yang kebetulan berasal dari keluarga transmigran di Sepaku, menjadi penunjuk jalan. Di pertigaan Puskesmas Sepaku 3, tepatnya di Desa Tengin Baru, dia mengarahkan kami berbelok ke kiri, melintasi sebuah jalan panjang yang belum beraspal. Jalan itu masih dalam bentuk tanah agregat yang dihampari batu untuk pengerasan awal. Debu berterbangan ketika kendaraan kami melaju. Musim kemarau membuat tanah di jalanan tersebut mengering.

Perjalanan terus masuk ke dalam, ke arah selatan, dengan pemandangan berganti-ganti antara hamparan kebun sawit di kiri-kanan, dan lahan kosong dengan topografi berbukit-bukit sejauh mata memandang. Tidak tampak permukiman warga. Hanya terdapat beberapa gubuk dan rumah semi permanen di antara kawasan tersebut. Kemungkinan tempat pekerja sawit beristirahat. Sepanjang perjalanan kami tak berselisihan dengan mobil lain. Hanya ada satu dua orang berboncengan mengendarai sepeda motor. Kalau bukan pekerja kebun, kemungkinan warga yang hendak pergi memancing.

Setelah masuk lebih kurang 2 kilometer, suasana sekitar semakin sepi. Jalan yang tadinya berbatu kini menjadi jalan tanah biasa. Untung kemarau, sehingga permukaan tanah cukup keras. Terbayang bagaimana sulitnya melintasi jalan ini apabila musim hujan. Gundukan tanah di sempadan kiri-kanan sepanjang jalan ini menunjukkan jalan tersebut baru saja dibuat. Atau baru diratakan. Terlihat dari kupasan tanah yang masih merah, belum ditumbuhi belukar.   

Setelah kira-kira 40 menit tubuh kami terguncang-guncang karena kendaraan melaju di permukaan tanah yang tidak rata, jalan baru yang lebarnya bisa untuk dua jalur itu ternyata membawa kami ke sebuah perairan yang sepi. Air di perairan itu berwarna gelap, mengalir tenang, tidak berarus deras layaknya hulu sebuah sungai. Bentuknya meliuk seperti lengkungan delta, dengan pemandangan hutan bakau yang rapat dan subur di sepanjang pinggirannya.

Saya memeriksa ponsel. Ternyata ada sinyal 4G. Langsung saja saya buka Google Maps untuk mengetahui lokasi persis keberadaan kami. Ternyata, titik kami berdiri di pedalaman Kecamatan Sepaku itu persis berada di bagian paling ujung atau bagian terdalam dari perairan Teluk Balikpapan. Romdani, Redpel Kaltim Post yang ikut dalam tim ini langsung mengirim share location ke grup WA komunitas mancing yang diikutinya. “Spot bagus banget ini buat memancing,” katanya.

Sebagai gambaran, Teluk Balikpapan merupakan kawasan laut yang membelah Kota Balikpapan dengan Penajam. Bila ditarik garis lurus dari sisi Selat Makassar, teluk ini menjorok masuk lebih kurang 30 kilometer ke dalam daratan Kalimantan. Bentuknya bercabang-cabang, dengan salah satu cabangnya berhulu di Sungai Wain.

Jalur darat Balikpapan – Penajam melewati Samboja dan Sepaku yang dijajal tim Kaltim Post ini sebenarnya memutari perairan teluk tersebut. Sebab memang saat ini hanya rute itulah satu-satunya jalur darat yang bisa ditempuh dari Balikpapan bila ingin ke Penajam tanpa menumpang speedboat atau kapal ferry.

Pemerintah sedang membangun sebuah jembatan menyeberangi teluk ini, di kawasan Pulau Balang, sebuah pulau yang berada di tengah-tengah teluk. Nantinya dengan jembatan ini jarak tempuh jalur darat Balikpapan – Penajam yang sekarang bisa memakan waktu lebih 6 jam nonstop karena harus memutari teluk, bisa dipersingkat menjadi hanya 1,5 jam.

Saat berada di ujung perairan Teluk Balikpapan ini, kami berjumpa dua warga lokal yang datang berboncengan sepeda motor ke kawasan itu untuk memancing. “Biasanya ikan kerapu, atau kakap,” kata Ahmad, salah seorang di antara mereka, saat ditanya biasa dapat ikan apa kalau memancing di perairan tersebut.

UJUNG TELUK – Warga lokal bersiap memancing di perairan ujung Teluk Balikpapan, yang diperkirakan bakal menjadi salah satu lokasi pusat pemerintahan baru Indonesia.

Mereka menyebut lokasi ini eks Dermaga CKT. Namun rekan kami Supardi mengatakan warga setempat lebih mengenal kawasan tersebut sebagai eks Dermaga Sigret. Dulunya dipergunakan untuk bongkar-muat logging, pada masa-masa masih ramai industri kayu.  

Baik Supardi maupun dua warga lokal itu sama-sama tidak mengetahui, untuk apa sebuah jalan baru yang demikian lebar dibuat dari jalan poros Samboja – Sepaku hingga ke ujung perairan Teluk Balikpapan itu. “Ya mungkin saja memang disiapkan untuk lokasi ibu kota,” kata Ahmad berspekulasi.

Berdiri di ujung perairan Teluk Balikpapan itu saya lantas membayangkan betapa indahnya kalau kompleks Istana Kepresidenan dan kantor-kantor pemerintahan Indonesia kelak berdiri di lahan ini. Landscape-nya sempurna di pinggiran lengkungan teluk, dengan pemandangan air tenang di depan istana dan bukit-bukit indah di sekelilingnya.

Dengan pembangunan infrastruktur kawasan ibu kota, akses ke lokasi ini hanya akan berjarak lebih kurang 20 km dari jalur tol Balikpapan – Samarinda, yang salah satu pintutolnya direncanakan berada di Samboja. Dari Samboja, jalur tol menuju Balikpapan tinggal 25 km lagi, dengan pintu tol terakhir berada tak jauh dari Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan.

Itu artinya bila lokasi pusat pemerintahan Indonesia berada di ujung perairan Teluk Balikpapan tersebut, maka jarak dari istana negara menuju bandara lebih kurang 45 km via tol. Sangat mungkin ditempuh dalam waktu tak lebih dari setengah jam. Sungguh ideal untuk menunjang mobilitas presiden dan seluruh unsur pemerintah pusat. (bersambung)

Like & Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.