Backpacker-an ke India dan Kashmir (1): Bermodal Tiket Promo dan Visa Gratis

India bukan cuma tentang film dan lagu. Kita juga bisa menikmati musim dingin dan main salju di sana. Berikut catatan saya dari backpacker-an ke negerinya Shahrukh Khan itu.

MESKI sebenarnya punya banyak destinasi menarik, India tidaklah termasuk tujuan wisata favorit. Setidaknya begitu versi penerbit Lonely Planet, yang menempatkan Indonesia di urutan ketujuh dalam daftar 10 negara paling ingin dikunjungi traveler dunia, dan tidak memasukkan India di daftar tersebut.

Citra tentang India memang sudah terlanjur buruk. Selain karena kisah-kisah vulgar yang kerap menjadi tema film produksi Bolywood, juga seringnya kekerasan, tindak kriminal dan kasus asusila kepada wanita di negara itu mewarnai pemberitaan media.

Situasi ini disadari pemerintah India. Ketika berkunjung ke Indonesia akhir Mei 2018, Perdana Menteri India Narendra Modi secara terbuka mengundang warga Indonesia untuk berkunjung ke negaranya. India membuka pintu bagi turis asing, dan kata Modi waktu itu: terutama turis asal Indonesia sebagai negara sahabat. Modi menyebut pemerintahnya telah mendeklarasikan program “New India”, dengan mengusung konsep India yang lebih ramah dan modern. Ia ingin memastikan India layak dikunjungi.

Sebagai bukti keseriusan membuka pintu lebar-lebar bagi wisatawan, Modi mengumumkan bahwa visa India yang sebelumnya berbiaya USD 48 per orang, kini digratiskan bagi seluruh penduduk Indonesia. Warga Indonesia hanya perlu mendaftar e-visa secara online, tanpa biaya sepeser pun.

Saya membuktikan sendiri. Setelah memenuhi semua persyaratan dokumen, aplikasi visa saya dan istri dinyatakan granted (diberikan) dalam waktu kurang dari 24 jam. Kami mendapatkan visa double entries (dua kali kunjungan) dan bisa dipakai berkunjung ke India dengan durasi maksimum 30 hari per sekali kunjungan.

Kebijakan pemberian visa gratis bagi warga Indonesia itu disambut pelaku usaha di India. Promosi paket-paket wisata murah pun gencar dilakukan, bekerjasama dengan sejumlah agen perjalanan. Juga promo-promo tiket pesawat.

Agustus 2018, tiga bulan setelah pengumuman visa India gratis, komunitas backpacker Indonesia dihebohkan dengan promo Jet Airways, maskapai penerbangan asal India, yang menjual tiket sangat murah. Ada yang saking murahnya hanya perlu membayar Rp1 juta PP Jakarta – New Delhi. Jauh lebih murah dari harga tiket paling rendah Jakarta – Balikpapan sekali jalan.

Saya termasuk yang akhirnya “keracunan” memanfaatkan promo penerbangan hemat tersebut, dan mendapatkan tiket Jakarta – New Delhi PP seharga Rp2,9 juta untuk 2 orang bersama istri. Tiket dibeli Agustus 2018 untuk perjalanan Februari 2019. Lumayan masa tunggu 6 bulan untuk bersiap-siap. Saya pilih waktu yang paling longgar pada awal Februari, pas kebetulan juga ada “hari kejepit” liburan Imlek, sehingga hanya perlu cuti 1 hari dari kegiatan kantor. 

Jet Airways merupakan penerbangan full service. Bukan kelas low cost carrier (LCC) yang serba minimalis dan ekonomis. Menggunakan pesawat generasi terbaru Airbus A330, penumpang memperoleh makan minum dan layar hiburan di setiap kursi (on board entertaintment). Fasilitas bagasinya gratis 30 kg. Bila punya budget lebih, bisa upgrade ke kursi bisnis atau first class.

Karena belum terbang langsung dari dan ke Jakarta, flight ini harus transit dulu di Bandara Changi Singapura, dengan penerbangan segmen Jakarta – Singapura dan sebaliknya dioperatori maskapai Garuda Indonesia. Jadi tiket seharga Rp2,9 juta itu dipakai untuk 4x terbang: Jakarta – Singapura dan Singapura – New Delhi pergi pulang. Entah bagaimana perhitungan bisnisnya, sebab budget segitu untuk tiket regular Garuda sekali jalan Jakarta – Singapura saja jelas tidak cukup.

Bersama istri di depan Taj Mahal yang berselimut kabut…

Ngetrip ke India sebenarnya tidak masuk dalam bucket list destinasi impian saya. Masih lebih kepingin melihat keindahan alam New Zealand, atau menyaksikan aurora di Islandia. Apalagi dari cerita beberapa kawan yang sudah lebih dulu berkunjung ke India, yang mereka rasakan lebih banyak pengalaman buruknya. Kotanya jorok, sulit mencari makanan yang cocok di lidah, dan “…India itu negara berkembang yang tidak lebih baik dari Indonesia, awas nanti kecewa,” begitu seorang kawan memperingatkan.

Tetapi racun tiket promo terlalu menggoda. Visanya gratis dan mudah didapatkan pula. Ditambah lagi grup-grup komunitas backpacker yang saya ikuti begitu bersemangatnya membuat open trip untuk menjelajah India bareng. Semakin menambah semangat. Beberapa dari mereka yang sebelumnya sudah pernah pergi dengan penerbangan hemat AirAsia, mengaku puas dan bersaksi bahwa India tidaklah seburuk yang dicitrakan selama ini.

Baiklah. Demi menghindari pengalaman buruk, saya akhirnya memilih prepare segala sesuatu sebaik mungkin. Misalnya, tidak menggunakan public transport seperti bus dan kereta karena banyak sekali cerita negatif tentang angkutan umum jenis itu di India. Saya memilih menyewa mobil sekaligus sopir dari agen travel terpercaya, untuk semua kebutuhan transportasi lokal. Ternyata tidak terlalu mahal juga. Untuk sewa fullday ke Agra, 4.000 rupee, lebih kurang Rp800.000 all in (kurs 1 rupee = Rp200). Mobilnya sedan merk Hyundai Verna. Lebih kurang sama dengan harga sewa mobil Avanza atau Xenia di Jakarta.

Jadi setiba tengah malam di Bandara Internasional Indira Gandhi di New Delhi, saya tidak masuk hotel. Melainkan dijemput mobil sewaan dan langsung jalan darat menuju Agra, tempat bangunan legendaris Taj Mahal berada. Toh sudah cukup tidur di pesawat dan bisa dilanjut tidur lagi di mobil.

Waktu tempuh New Delhi – Agra 4,5 jam, melewati highway yang lebar di tengah cuaca berkabut. Tiba saat langit masih gelap, sopir mengantar kami ke salah satu hotel di Agra untuk istirahat sekaligus “numpang” breakfast. Sebab gerbang taj mahal juga belum dibuka.

Pilihan yang sangat tepat sebab di hotel itu selain numpang sarapan, kami juga bisa bersih-bersih badan dan sekadar berganti pakaian. Harga sarapan tanpa menginap di hotel tersebut 500 rupee atau sekira Rp100.000 per orang. Sudah bisa makan sepuasnya dengan pilihan aneka menu seperti layaknya tamu hotel yang menginap.

Selesai sarapan, kami diantar ke Taj Mahal. Tiket masuknya 1.250 rupee (Rp250.000) untuk 2 orang. Sopir menawarkan kenalannya, seorang pemandu wisata di Agra, yang bisa menemani berkeliling Taj Mahal yang merupakan mausoleum persembahan cinta Kaishar Mughal Shah Jahan kepada permaisurinya Mumtaz Mahal. Tip untuk guide berbahasa Inggris itu 1.000 rupee atau Rp200.000. Saya mengiyakan. Dalam perjalanan mandiri seperti backpacker, kita tetap membutuhkan pemandu agar ada orang yang bisa ditanya-tanya dan diminta menjelaskan detail lokasi yang dikunjungi.

Menyewa mobil dengan sopir dan ditemani guide saat berkunjung ke Taj Mahal membuat perjalanan backpacker kali ini serasa seperti mengikuti private tour saja. Jauh dari kesan buruk, orang-orang India yang menemani perjalanan kami baik sopir maupun guide menunjukkan sikap dan attitude yang sangat baik. Seperti pekerja profesional yang sudah well trained di bisnis wisata dan mengerti bagaimana seharusnya memperlakukan turis asing.

Hampir 2 jam mengeksplorasi Taj Mahal, saya bergeser ke Agra Fort. Ini adalah benteng utama yang menyimpan sejarah penting kekaisaran Mughal. Benteng berwarna merah yang tercatat di UNESCO sebagai situs warisan dunia ini dulunya merupakan area tempat kaisar memerintah dan berlindung, juga menyimpan harta benda.

Dari Agra Fort, berkeliling kota sebentar dan mampir ke beberapa toko suvenir, kami kembali ke New Delhi. Waktu memang begitu singkat dan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Apalagi saya sudah merencanakan pergi ke Kashmir, wilayah dingin dan bersalju di utara India yang berada di lembah pegunungan Himalaya, berbatasan langsung dengan Pakistan dan Tiongkok.

Tiba kembali di New Delhi sebelum matahari terbenam, saya minta sopir keliling kota dulu sebelum masuk hotel yang sudah saya booking di dekat bandara. Istilahnya, sightseeing. Wisata tengara. Sekadar melihat-lihat lokasi menarik dan foto-foto seperlunya. Sayang juga kalau sudah sampai New Delhi tapi tidak sempat lihat kota.

Tetapi seperti cerita banyak orang, dan juga sering kita lihat di film-film Bolywood, metropolitan Delhi yang crowded pada jam sibuk sore hari itu samasekali tak menarik. Lalulintas kacau. Lengkap dengan bisingnya suara klakson kendaraan bersahut-sahutan. Lajur jalan tak beraturan antara mobil, sepeda motor, bajaj, gerobak, bus kota. Bercampur debu, asap knalpot, dan teriakan pedagang kaki lima. Lebih parah dari keadaan lalulintas di Jakarta.

Tak menunggu lama, setelah merasa cukup, saya minta sopir segera menuju hotel saja. Betapapun kami mesti segera istirahat, sebab pagi-pagi keesokan harinya harus terbang ke Srinagar, kota utama Kashmir. (bersambung)

Like & Share

7 Comments on “Backpacker-an ke India dan Kashmir (1): Bermodal Tiket Promo dan Visa Gratis”

  1. Assalamualaikum….
    Bang Erwin….sama seperti temen temen yg lain sy sama istri mau backpakeran juga …..tanya dapetin tiket murahnya melalui aplikasi apa atau penerbangan apa . tks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.