Catatan dari Amerika (5): Tak Berhenti Bangun Monumen dan Museum

Di Amerika, semua yang “berharga” diabadikan. Demi sejarah. Bentuknya beraneka ragam. Ada patung, monumen, taman, atau museum.

SALAH satu sisi menarik kunjungan ke Amerika Serikat adalah kekayaan sejarahnya, yang dengan rapi tersimpan dalam museum atau perpustakaan di berbagai kota dengan macam-macam tema. Patung, monumen dan taman juga dibangun untuk memperingati sesuatu. Penanda peristiwa.

Di Memphis, negara bagian Tennessee, selain Graceland yang terkenal sebagai museum Elvis Presley, ada satu tempat lagi yang sangat penting: National Civil Right Museum. Museum Hak Sipil Nasional. Ini adalah lokasi peristiwa terbunuhnya Martin Luther King Jr, aktivis civil right pembela kaum kulit hitam Amerika. Biasa disebut Afro-Americans.

Museum ini terletak di 450 Mulberry Street, Memphis, di mana berdiri bangunan Lorraine Motel, tempat Luther King menginap di saat kejadian pembunuhan. Hari itu, 50 tahun yang lalu. 4 April 1968. King berada di Memphis untuk memberi dukungan bagi gerakan protes kaum kulit hitam yang bekerja di bidang sanitasi, yang selama ini merasa menjadi korban diskriminasi.

Pada masa itu, isu rasial warna kulit memang masih sangat mewarnai kehidupan Amerika. Orang-orang kulit hitam yang pada awal migrasi penduduk Eropa ke benua Amerika didatangkan, atau lebih tepatnya diperdagangkan, dari Afrika untuk menjadi budak, merasa hak mereka sebagai manusia masih terus terabaikan.

Padahal, era perbudakan telah dihapuskan jauh sebelum gerakan hak sipil yang diprakarsai Martin Luther King berlangsung. Seabad yang lalu. Yakni ketika Abraham Lincoln dilantik sebagai Presiden Amerika pada 1860. Lincoln resmi secara hukum menghapuskan perbudakan warga kulit hitam pada 1863.

Gelombang protes dan unjukrasa bergelora pada masa itu, di berbagai kota di Amerika. Martin Luther King berkeliling dari satu kota ke kota lain untuk memimpin aksi menuntut kesamaan hak. Ia dielu-elukan warga kulit hitam karena dianggap sebagai pahlawan. Tapi sekaligus tak disukai warga kulit putih karena dianggap provokator.

Pada petang nahas itu, Martin Luther King berada di balkon kamar 306 Lorraine Motel, bersiap hendak makan malam bersama sejumlah kolega, setelah pada siang harinya berpidato dalam aksi unjukrasa para pekerja kulit hitam di Memphis. Tiba-tiba sebuah tembakan dari arah seberang motel menumbangkan tubuhnya.

Peluru menembus pipi kanan King. Mematahkan rahangnya dan membuatnya terjungkang keras ke belakang. Langsung tak sadarkan diri. Nyawanya tak tertolong lagi.

Di kejauhan, saksi mata melihat seorang pria yang kemudian diketahui bernama James Earl Ray melarikan diri. Ray menyewa kamar kos di seberang motel itu. Polisi menemukan senapan dan teropong, keduanya dengan sidik jari Ray, di tempat tersebut.

Ray yang sempat buron akhirnya tertangkap di Bandara Heathrow London, dua bulan setelah peristiwa. Pengadilan Tennessee menjatuhi hukuman 99 tahun bui untuk pria yang menjadi satu-satunya terdakwa dalam kasus itu. Ray meninggal di penjara pada tahun 1998, di usia 70 tahun, bersama misteri siapa sebenarnya otak di balik pembunuhan Martin Luther King, mengingat berbagai fakta menunjukkan Ray sendiri sebenarnya tidak punya motif melakukan kejahatan tersebut.

Semua adegan pembunuhan yang kemudian memicu protes lebih keras warga kulit hitam di seluruh Amerika itu kini dapat disimulasikan oleh pengunjung di Museum Hak Sipil Nasional di Memphis ini. Tata letak gedung baik kamar motel maupun kamar kos tempat pembunuh berada telah menjadi bagian dari kompleks museum. Masih dipertahankan seperti aslinya. Dua sedan klasik parkir persis di depan kamar 306: sebuah Dodge Royal tahun 1959 dan Cadillac tahun 1968.

Pengunjung disuguhi layar video dan audio yang menjelaskan spot-spot tempat peristiwa berlangsung. Di dalam museum, sejumlah benda pribadi Luther King dipajang. Juga rekaman pidato-pidatonya yang menentang keras diskriminasi atas dasar warna kulit di Amerika. Untuk masuk area museum, pengunjung perlu membayar tiket US$16 per orang.

Peristiwa pembunuhan itu menjadi titik tolak kehidupan antar-ras di Amerika. Meski masih sering terdengar isu-isu rasialisme, namun warga kulit hitam relatif sudah merasa lebih nyaman dan mendapat perlakuan lebih baik. Sejarah bahkan kemudian mencatat, warga kulit hitam Amerika, Barack Obama, bisa menjadi presiden dua periode.

 

MUSEUM CLINTON

Bergeser 221 kilometer dari Memphis ke arah barat, saya juga mampir ke Little Rock, ibukota negara bagian Arkansas, di mana terdapat sebuah museum dan perpustakaan yang secara khusus dibangun untuk Bill Clinton, presiden Amerika Serikat dua periode (1993-2001).

Lahir dengan nama William Jefferson Clinton, presiden ke-42 Amerika Serikat itu memang berasal dari Arkansas. Dia memulai karier politiknya sebagai jaksa agung di negara bagian tersebut (1977-1979). Kemudian menjadi Gubernur Arkansas dua periode (1983-1991) sebelum maju ke pemilihan presiden.

 

ARSIP PENTING: Salah satu sudut ruangan museum dan perpustakaan Presiden Clinton di Little Rock, Arkansas.

Kompleks bernama The William J. Clinton Presidential Center and Park itu merupakan perpustakaan sekaligus museum yang menyimpan semua koleksi dan arsip Bill Clinton beserta keluarga.  Gedung utama dengan 5 lantai berdiri di pinggiran Sungai Arkansas, tepat di depan sebuah jembatan tua yang melintasi sungai tersebut.

Di lantai pertama setelah masuk dengan membayar karcis US$10 per orang, pengunjung disuguhi sedan limosin kepresidenan yang dulu dipakai Presiden Clinton. Sedikitnya 80 juta halaman dokumen kenegaraan tersimpan di gedung ini. Beserta 21 juta arsip email, 20 juta arsip foto, dan sekurangnya 79 ribu benda-benda koleksi lainnya.

Di lantai kedua, terdapat replika Oval Office, ruang utama kantor kepresidenan di White House, Washington DC. Dibuat dengan skala ukuran yang sama persis dengan aslinya. Dilengkapi sejumlah furnitur seperti meja dan rak-rak kabinet yang dibawa langsung dari ruang kerja Clinton dulu.

Galeri foto-foto memperlihatkan perjalanan hidup Clinton sejak masa kecilnya di Arkansas, hingga periode bersekolah dan memulai karier politik. Tak ketinggalan surat-surat cinta kepada istrinya, Hillary Diane Rodham, dan rekaman pernikahan mereka.

Museum juga menampilkan rekaman tahun demi tahun masa kepemimpinan Clinton sebagai orang nomor satu di Amerika. Pencapaian-pencapaian di berbagai bidang selama menjabat. Rapat-rapat dan pertemuan penting kenegaraan, termasuk misi-misi politik luar negeri yang pernah dijalankan.

Di salah satu spot terdapat rekaman partisipasi pemerintahan Clinton dalam referendum di Timor Timur, yang berujung perpisahan dengan Indonesia dan berdirinya negara baru Timor Leste itu.

Di Amerika, museum tokoh politik ini bukanlah satu-satunya. Selain Clinton, sudah ada 13 museum serupa yang dibangun khusus untuk mantan presiden. Negara itu memang gemar sekali membangun monumen dan museum. Berkat kepedulian pada sejarah dan tradisi pengarsipan dan dokumentasi yang sangat baik.

Bisakah hal serupa diadopsi? Misalnya di Kaltim dibangun museum HM Ardans? Atau perpustakaan Awang Faroek Ishak? Kita tunggu. (nugroho@windede.com)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

2 tanggapan untuk “Catatan dari Amerika (5): Tak Berhenti Bangun Monumen dan Museum

  • 6 November 2018 pada 12:24
    Permalink

    You could definitely see your skills within the work you write.
    The world hopes for even more passionate writers such as you who aren’t afraid
    to mention how they believe. All the time go after your heart.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.