Catatan dari Amerika (3): Menjajal Megabus, Pesaing Sang Legenda Greyhound

Dihubungkan jaringan jalan yang begitu panjang dari satu kota ke kota lain, seluruh penjuru daratan Amerika saling terkoneksi dalam interstate highway system. Dapat dijelajahi dengan mudah. Mau nyetir mobil sendiri, naik kereta api, atau menumpang bus antarkota? 

 

MEMILIKI luas 9,8 juta kilometer persegi, wilayah daratan Amerika Serikat itu setara 5x luas daratan Indonesia. Tidak kurang 13x luas Pulau Kalimantan.

Banyak pilihan transportasi. Paling praktis tentu naik pesawat. Terutama untuk jarak jauh semisal dari Los Angeles ke New York, yang waktu tempuhnya bisa 6,5 jam direct flight. Dengan durasi yang sama, kalau kita terbang nonstop dari Jakarta menuju ke utara, sudah sampai di Shanghai.

Jalur darat adalah opsi paling populer. Bisa menikmati pemandangan sekalian mampir ke objek-objek menarik di kota-kota kecil di sepanjang jalur yang dilewati. Kebanyakan warga Amerika memiliki kendaraan pribadi. Terutama mobil. Mereka sudah terbiasa mengemudi antarkota dengan jarak tempuh 200-500 kilometer nonstop. Injak gas dalam-dalam di jalur highway yang mulus dan lengang. Gratis.

Saat ke Amerika pekan lalu saya harus bergeser dari Chicago di negara bagian Illinois ke St. Louis di negara bagian Missouri. Jaraknya menurut Google Maps 478 kilometer. Maka sejak di Indonesia sudah saya persiapkan mau naik pesawat atau jalan darat. Karena tidak buru-buru saya putuskan jalan darat saja. Biar dapat pengalaman baru. Tinggal pilih mau pakai kereta api atau bus?

Pilihan akhirnya jatuh pada bus antarkota. Satu nama yang paling melegenda adalah Greyhound, layanan bus antarkota yang sudah beroperasi di Amerika sejak tahun 1914. Orang-orang yang pernah traveling ke Amerika selalu bercerita tentang Greyhound ini. Bus dengan cat dominan warna abu dan ikon anjing balap greyhound itu ada di mana-mana. Sejak lama saya kepingin sekali merasakan naik Greyhound.

Setelah cek sana-sini, ternyata skedul Greyhound untuk rute Chicago – St. Louis pada tanggal yang saya inginkan hanya tersisa malam dan dini hari. Berangkat pukul 20.00 dan tiba di St. Louis tengah malam. Skedul berikutnya berangkat pukul 02.00 dan tiba di St. Louis pagi hari. Dua skedul ini sama-sama tidak cocok dengan jam kedatangan saya di Chicago. Serba tanggung karena pesawat saya mendarat pukul 14.00 siang. Sementara saya masih harus beristirahat setidaknya semalam untuk recovery badan setelah lelah penerbangan panjang.

Skedul yang cocok ternyata tersedia di operator bus lain: Megabus. Layanan bus antarkota yang dengan bangga mengusung slogan sebagai Low cost daily express bus service. Perusahaan bus yang mulai beroperasi sejak 2006 ini disebut sebagai pendatang baru yang sukses melemahkan dominasi Greyhound yang sudah lebih dulu menguasai trayek bus antarkota di seluruh penjuru Amerika.

Jadwal berangkat Megabus pukul 08.45 pagi, dengan tarif US$ 35 sekali jalan. Tiket dipesan secara online dengan pembayaran instan menggunakan kartu kredit. Cukup mahal karena dipesan sudah dekat hari berangkat. Kalau booking jauh-jauh hari bisa beroleh kesempatan mendapatkan tarif super-hemat yang jadi andalan Megabus: promo $1 sekali jalan!

Berbeda dengan Greyhound yang dioperasikan dari terminal bus dan fasilitas ruang tunggu yang nyaman, Megabus mengusung konsep serba praktis dan ekonomis: tanpa pool. Tidak perlu terminal. Penumpang naik di pinggir jalan. Di lokasi parkir yang sudah ditentukan. Dari kejauhan armada Megabus dengan bus double decker warna biru dan tulisan warna kuning sudah terlihat gagah.

Tiket yang sudah dibeli online tak perlu dicetak lagi. Cukup ditunjukkan dari layar ponsel ke petugas di lokasi. Tidak ada pemeriksaan yang berbelit. Penumpang sudah boleh naik bus jenis double decker (bus tingkat) itu setengah jam sebelum waktu keberangkatan. Tepat pukul 08.45, sesuai skedul, bus berangkat. On time. Tak kurang tak lebih.

Dengan kabin lega full AC dan sandaran kursi yang bisa direbahkan, perjalanan menggunakan Megabus terasa nyaman. Apalagi sepanjang perjalanan tersedia WIFI gratis dan tempat colokan kabel USB untuk charging ponsel. Waktu tempuh Chicago – St. Louis yang mencapai 6 jam tak begitu terasa melelahkan. Bus berhenti di rest area pada pukul 12.15, sekaligus memberi kesempatan penumpang untuk ke kamar kecil dan makan siang.

Jalanan interstate highway di Amerika yang mulus dan bebas macet membuat perhitungan waktu tempuh bisa akurat dan presisi. Bus yang saya tumpangi hari itu, misalnya, tiba di St. Louis pukul 14.45, persis sesuai perkiraan waktu kedatangan yang tercantum di tiket.

Persaingan operator bus di Amerika memang seru. Pilihan rute, skedul keberangkatan dan fasilitas yang disediakan menjadi faktor penentu. Armada Megabus yang rata-rata baru dengan bus double decker terbukti sukses melibas banyak trayek favorit yang selama ini dikuasai Greyhound. Belum lagi pengaruh moda transportasi lain seperti kereta api dan pesawat, yang tarifnya juga bersaing.

Di masa silam di mana bus menjadi andalan utama untuk berpergian antarkota di Amerika, Greyhound benar-benar mendominasi. Kini pesaing hadir dengan penampilan lebih atraktif, layanan prima dan fasilitas serba memudahkan.

Di lokasi kedatangan di St. Louis yang ternyata berdekatan, saya melihat bus-bus Greyhound yang tampak tua dan ringkih tenggelam berdampingan armada Megabus. Sang Legenda sepertinya perlu inovasi dan penyegaran di banyak aspek, agar tak semakin ketinggalan. (bersambung)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.