Liburan Musim Panas di Tokyo (3): Orang Jepang Tak Mabuk Gadget

Soal teknologi, Jepang terkenal selalu lebih maju dibandingkan negara lain. Industri elektronik dan otomotifnya telah menguasai dunia. Bagaimana dengan digital? Apakah internet mengubah Negeri Sakura?

 

SALAH satu kekhawatiran banyak orangtua di Indonesia dewasa ini adalah dampak buruk internet bagi kehidupan. Anak-anak muda yang malas bergerak dan sibuk dengan gadgetnya, tidak produktif, kecanduan games online dan lebih parah lagi otaknya kacau karena keseringan terpapar konten pornografi. Infrastruktur internet yang semakin baik dan telah menjangkau hingga ke pelosok-pelosok negeri dituduh sebagai penyebabnya.

Orang-orang dengan smartphone seharga ratusan ribu rupiah saja sekarang bisa beli paket data internet murah dan langsung terhubung ke alam global. Dunia maya membawa kesenangan-kesenangan artifisial, salah satunya interaksi di media sosial. Segalanya tampak seperti begitu mudah di internet. Baru tersadar beratnya hidup saat berhadapan dengan tantangan dunia nyata.

Lalu bagaimana Jepang, negeri dengan infrastruktur digital jauh lebih maju dari Indonesia, dengan penetrasi pengguna internet sudah lebih dari 80% populasi? Di negeri itu, internet dimanfaatkan untuk urusan-urusan yang lebih produktif.

Jurnalis dan analis Dolores M. Bernal dalam sebuah artikel menyebut masyarakat Jepang sebenarnya tidak terlalu menyukai media sosial. Selain karena faktor bahasa, juga budaya: orang Jepang tidak suka tampil (narsis) sehingga kalaupun bermain media sosial, lebih banyak yang anonymous  alias memakai identitas samaran. Rasio penduduk Jepang yang menjadi pengguna medsos aktif juga tidak setinggi negara lain. Facebook dan Twitter, misalnya, bukanlah platform favorit di Negeri Matahari Terbit.

Hasil riset Nielsen NetRatings Japan tahun 2016 menunjukkan, aplikasi paling populer di Jepang pada 2016 adalah Line, dengan rata-rata 43,5 juta pengguna unik setiap bulan, disusul Youtube di peringkat kedua dan Google Maps di peringkat ketiga. Adapun Twitter dan Facebook, dua app medsos paling banyak digunakan di Indonesia, jauh berada di peringkat 7 dan 8.

Saat berada di Tokyo, saya secara acak “mengintip” aktivitas apa yang dilakukan orang Jepang pengguna smartphone yang saya jumpai di tempat umum. Di kereta, kebanyakan mereka asyik menonton video (movie) dengan earphone menempel di telinga. Tak hirau orang sekitar. Ini berbeda dengan yang tampak di Singapura, misalnya, di mana banyak pengguna smartphone suka main games kalau sedang berada di dalam kereta. Atau di Jakarta, di mana pengguna smartphone asyik chatting dan ngerumpi melalui video call bahkan saat sedang jalan-jalan di mall.

Di kamar hotel tempat kami menginap di Tokyo, saya iseng memeriksa kecepatan akses internet yang tersambung melalui fasilitas wifi gratis. Surprised: beberapa kali test menggunakan aplikasi SpeedTest, hasilnya selalu di atas 50Mbps baik untuk download maupun upload. Bandingkan dengan internet yang biasa saya pakai di Jakarta menggunakan teknologi 4G, yang belum tentu bisa mendapat kecepatan seperempatnya.

Dengan kualitas akses internet sekencang itu di Jepang, nonton video streaming Youtube maupun mengunduh filenya untuk ditonton offline akan sangat menyenangkan. Mungkin bisa secepat transfer file dari komputer ke flashdisk.

TAMPIL BEDA: Membaca koran Kalteng Pos di Shibuya Cross, persimpangan yang disebut tersibuk di dunia.

Internet mobile pun tak kalah mumpuni. Paket internet roaming internasional yang saya aktifkan selama di Jepang sukses mendapat kecepatan rata-rata di atas 20Mbps dan terus terhubung sepanjang waktu, termasuk dalam perjalanan menuju dataran tinggi Gunung Fuji melewati hutan dan lembah. Internet juga tetap terhubung meskipun sedang berada di lantai basement gedung stasiun maupun di dalam kereta yang sedang melaju di bawah tanah (subway). Tidak ada pengalaman internet mati karena berada di blankspot area.

Infrastruktur internet yang telah mapan itu tidak lantas membuat orang Jepang mabuk gadget. Di kereta, misalnya, lebih banyak yang memanfaatkan waktu perjalanan untuk tidur sekejap, daripada main gadget. “Orang Jepang sangat menghargai waktu. Terbiasa disiplin dengan jadwal harian yang ketat. Jadi tidak terlalu banyak waktu untuk main-main sama gadget. Sejak kecil sudah diajarkan seperti itu,” kata Yoko Kadomaru, warga Jepang yang mendampingi kami keliling Tokyo.

Di Akihabara, pusat elektronik Tokyo yang dikenal juga sebagai Akihabara Electric Town, ponsel-ponsel pintar merek lokal dijual sangat murah di kisaran 15.000-20.000 yen. Bila dirupiahkan, tak lebih dari Rp250 ribu per unit baru. Sayangnya ponsel beraksara Jepang tersebut hanya dijual untuk penduduk lokal, dengan pendaftaran identitas dan hanya bisa dipasangi simcard nomor lokal pula. “Not work outside Japan,” kata penjaganya. Tak akan berfungsi di luar Jepang.

Berbeda dengan di Indonesia di mana smartphone juga sudah menjadi alat untuk propaganda politik, bullying kelompok berbeda maupun saling serang antargolongan, di Jepang smartphone masih lebih banyak menjalankan fungsinya yang lama: alat komunikasi (call and texting). Sedangkan untuk kebutuhan informasi yang valid dan terpercaya, orang Jepang tetap membaca koran cetak.

Sebagai contoh, hari pertama kami di Tokyo, berita yang sedang ramai adalah PM Jepang Shinzo Abe melakukan perombakan kabinet. Dia mengganti sejumlah menteri. Koran Asahi Shimbun yang kami kunjungi pada hari kedua di Tokyo memuat berita reshuffle tersebut sebagai headlines. “Berita pergantian menteri ini membuat jumlah cetak koran kami hari ini juga naik sekitar 20% dibandingkan hari sebelumnya,” kata Uono, kepala percetakan Asahi Shimbun yang menerima rombongan Harian Kalteng Pos (Kaltim Post Group).

Alih-alih menghabiskan waktu membicarakan perombakan kabinet itu di medsos, orang Jepang memilih membaca ulasan para pakar di media. Analisisnya lebih dapat dipercaya. Sumber-sumbernya resmi dan diperoleh dari tangan pertama. Melalui proses kurasi dan editing redaksi. Orang Jepang percaya informasi harus didapat dari saluran resmi: media. Berbeda jauh dengan kondisi kekinian di Indonesia di mana orang mudah termakan informasi palsu dari sumber tak jelas.

Apa yang terlihat di Tokyo mengajarkan satu hal: teknologi betapapun hanyalah alat. Penopang. Jangan sampai dibikin mabuk oleh alat.  (***)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.