Liburan Musim Panas di Tokyo (2): Sistem Transportasi Publik

Pergerakan orang di seluruh penjuru Tokyo sangatlah efektif, teratur dan nyaman, berkat sistem transportasi yang canggih dan modern. Tapi kenapa lalulintas di pusat kota masih macet?

MASYHUR sebagai kota tersibuk kedua di dunia setelah New York, tak terbayangkan apa jadinya Tokyo tanpa sistem transportasi yang mumpuni. Dengan penduduk 35 juta jiwa dan lebih dari setengahnya harus aktif bergerak lalu-lalang keluar-masuk kota sepanjang hari terutama pada pagi dan sore, pilihan terbaik ya memaksimalkan moda transportasi massal.

Sejauh ini, belum ada yang lebih massal selain kereta.

Menghubungkan seluruh wilayah kota, jaringan kereta di Tokyo menjadi pilihan utama transportasi karena selain murah dan aman, juga ada jaminan ketepatan waktu. Tidak ada kekhawatiran terlambat karena terjebak macet di jalan, misalnya. Jadwal keberangkatan kereta pasti ada setiap 5-15 menit, tanpa perlu takut tak kebagian tempat.

Pada jam-jam sibuk berangkat kerja pagi hari dan pulang kerja sore hari, stasiun-stasiun kereta memang sangat padat. Tapi tak masalah sebab orang terbiasa dengan budaya antre sehingga tidak perlu berebut masuk kereta, dan di dalam kereta pun masih bisa berdiri nyaman di dalam gerbong yang bersih dan sejuk.

Tokyo disebut sebagai kota dengan jaringan kereta dalam kota paling ekstensif di dunia, dengan 158 jalur (line) yang saling terkoneksi. Memiliki 2.210 stasiun dan 4,714,5 kilometer lintasan rel aktif yang dioperasikan 48 operator baik swasta maupun pemerintah.

Menurut data, secara rasio terdapat rata-rata 0,61 stasiun kereta per mil persegi di Tokyo, atau minimal satu stasiun setiap 1,6 mil persegi. Ini artinya di mana pun di seluruh wilayah Tokyo, selalu ada stasiun kereta terdekat, yang bisa dijangkau cukup dengan berjalan kaki – dengan jarak tempuh dari lokasi terjauh tak lebih dari setengah jam.

Ini belum termasuk jaringan Shinkansen, kereta cepat yang menghubungkan Tokyo dengan kota-kota besar seperti Osaka dan Nagoya. Membentang dari utara Jepang sampai ke selatan. Melaju hingga 300 km/jam sehingga disebut bullet train (kereta peluru).

Jaringan rel kereta ini, baik komuter bawah tanah (subway), kereta permukaan tanah, kereta cepat (Shinkansen), juga monorail di beberapa jalur, saling terintegrasi dengan moda transportasi lain seperti bus umum, pelayaran komersial, maupun bandara domestik dan internasional. Ini membuat wilayah manapun di Tokyo dapat dijangkau dengan public transport, sehingga orang tak merasa perlu lagi memiliki kendaraan pribadi. Mobil dan sepeda motor menjadi moda transportasi sekunder. Banyak yang punya tapi lebih sering diparkir di rumah saja.

Dalam kunjungan singkat pekan lalu, saya bersama rombongan Harian Kalteng Pos (anak perusahaan Kaltim Post Group) lebih banyak menggunakan kereta untuk menjelajah Tokyo. Dari Bandara Haneda, kami langsung naik kereta ke Stasiun Shinagawa, lalu berpindah jalur dan naik kereta lain menuju Stasiun Omori. Dari stasiun ini berjalan kaki lebih kurang 700 meter ke penginapan di Mystays Premiere Hotel, di kawasan Omori.

Satu-satunya perjalanan tanpa kereta adalah saat kami ke Gunung Fuji, berkunjung sampai level 5 gunung dengan salju abadi di puncaknya itu. Kami naik bus wisata, karena memang tidak ada jalur kereta yang bisa mencapai kawasan tersebut.

Selebihnya, kunjungan ke Tokyo Skytree Tower, kuil Asakusa, pusat belanja Akihabara, pusat keramaian Shibuya dan Shinjuku, maupun pusat nongkrong anak muda di Harajuku, kami jangkau menggunakan kereta.

 

TERTIB: Antre keluar-masuk gerbong kereta subway di Tokyo.

Saat menggunakan bus wisata inilah, sekembali dari Gunung Fuji dan hendak masuk ke Tokyo, kami mendapati jalanan macet di mana-mana. Ternyata jaringan transportasi yang sudah begitu rumit itu masih belum cukup mengatasi problem mobilitas manusia di Tokyo.

Mobil-mobil mengular panjang terutama di setiap perempatan, mengakibatkan macet parah. Salah satu penyebabnya adalah jarak perempatan yang begitu dekat, di hampir di setiap blok, dan semuanya dilengkapi traffic light. Begitu lampu hijau menyala, kendaraan yang baru bergerak sedikit sudah ketemu lampu merah lagi di traffic light berkutnya.

Sopir bus kami yang semula sudah masuk highway (jalur tol) pun sampai harus keluar lagi mencari jalan alternatif karena khawatir terjebak macet terlalu lama.

Rupanya macet seperti itu memang lazim setiap sore menjelang malam, saat bubaran kantor. Meskipun public transport sudah sangat baik, masih cukup banyak warga Jepang yang memilih menggunakan kendaraan pribadi sebagai moda transportasi utama sehari-hari. Warga seperti ini biasanya berasal dari dua golongan: kalau bukan orang yang benar-benar kaya, mereka adalah penduduk yang tinggal jauh di luar kota Tokyo.

Kenapa mesti kaya? Harga mobil di Jepang memang tidak lebih mahal dari Indonesia. Standar saja. Tetapi untuk bisa memiliki dan mengendarainya, banyak kewajiban harus ditunaikan, yang semuanya berurusan dengan uang. Dari biaya parkir yang sangat tinggi, pajak kendaraan tahunan yang bisa lebih mahal dari harga mobilnya, biaya BBM tanpa subsidi, uji emisi gas buang kendaraan setiap 2 tahun sekali, sampai surat izin mengemudi yang untuk mendapatkannya juga sulit dan mahal (hingga 300.000 yen atau setara Rp37,5 juta).

Mobil-mobil yang berseliweran kebanyakan mungil-mungil, jenis city car kelas di bawah 500cc, yang pajaknya lebih ringan dan mendapat subsidi BBM. Selebihnya mobil-mobil operasional perusahaan, semacam ekspedisi barang atau kurir layanan pesan antar, juga sesekali tampak mobil mewah sekelas Ferrari dan Lamborghini.

Sangat jarang terlihat mobil parkir di pinggir jalan, sebab itu dilarang dan dendanya mahal. Sementara parkir di gedung parkir komersial biayanya tidak murah. Bisa sampai 10 ribu yen (Rp125.000) per jam. Situasi ini akhirnya membuat orang memilih naik public transport saja daripada gaji bulanan habis untuk membayar ini-itu kebutuhan mobilitas.

Bukan cuma kaum pekerja, anak-anak sekolah dari yang dasar hingga menengah juga naik kereta. Mereka sejak belia diajari mandiri untuk berjalan kaki dari dan ke stasiun. Atau menggunakan sepeda, yang dengan aman diparkir di area stasiun seharian. Mengikuti semua budaya dan kebiasaan: tertib antre mendahulukan orang keluar sebelum masuk kereta, berjalan di sebelah kiri eskalator karena sebelah kanan dipakai orang yang hendak mendahului, memberi tempat duduk kepada penumpang lansia atau ibu hamil, dan disiplin membayar karcis masuk dengan cara tap kartu di mesin, meski pintu masuk sebenarnya bisa dengan mudah dilompati. (bersambung)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.