Jangan Biarkan Anak-anakmu Mengunyah Batubara

(Catatan Hari Anak Nasional)

 

Apakah gerangan yang masih tersisa bagi kehidupan anak-anak manusia di masa depan?

DALAM sebuah perbincangan, seorang kawan sampai pada pernyataan seperti ini: tidakkah kita, generasi sekarang, terlalu egois menghabiskan segalanya yang ada di bumi hari ini, sehingga sulit menjawab apa yang benar-benar telah kita persiapkan untuk anak-cucu keturunan kita 50 tahun, 100 tahun, atau 500 tahun lagi?

Pohon-pohon ditebang dan hutan alami sudah tak lagi menyediakan kayu untuk diproduksi. Perut bumi dikeruk sampai bagian terdalam tanpa menyisakan sedikit saja emas, batubara, minyak, gas, di lokasi yang sama – sementara lokasi pertambangan baru sudah semakin sulit ditemukan. Lahan-lahan pertanian tergerus proyek pembangunan gedung dan perumahan, dan dari sedikit yang tersisa itu, kualitas tanahnya terus memburuk. Laut kita rusak oleh keserakahan. Sungai-sungai menyempit, dangkal dan tercemar limbah. Sementara gaya hidup manusia semakin instan. Semakin artifisial. Semakin jauh dari alam.

“Berlebihan sekali. Tak perlu juga khawatir begitu. Anak-anak kita di masa depan akan menemukan cara mereka sendiri untuk bertahan hidup. Jangan underestimate. Manusia secara naluriah punya kemampuan bertahan, meneruskan eksistensi dan dominasinya di alam semesta. Anak-anak manusia tidak selemah yang kau kira…” kawan yang lain angkat bicara.

 

***

 

Tengoklah anak-anak di sekitar kita saat ini. Anak-anak yang sejak balita sudah terbiasa pegang gadget, lebih lihai memainkan apapun game virtual daripada main kelereng atau layangan di lapangan, lebih hapal lagu-lagu cinta daripada lagu kebangsaan, dan lebih mengerti goyang ala despacito daripada senam kesehatan jasmani. Anak-anak yang semakin terbiasa bilang anj*ng, bab*, bang*at dan kata-kata kasar lain yang dengan mudah mereka temukan dalam keseharian, baik di pergaulan dengan sebayanya di sekolah maupun dari tontonan trending video di Youtube.

Dunia semakin terbuka dan sumber-sumber keburukan masuk ke otak anak-anak melalui internet nyaris tanpa filter. Mereka mungkin masih mendapatkan dari orangtua dan guru sedikit pelajaran tentang adab, tatakrama, keteladanan dan kemampuan membedakan baik dan buruk, tetapi sebanyak hal baik masuk, sebanyak itu pula hal buruk merasuk.

Sumber-sumber informasi yang sedemikian terbuka membuat anak-anak lebih mudah mengerti bahwa dunia orang dewasa tidaklah semulia cerita dongeng yang mereka dengar. Kekerasan, ketidakjujuran, keserakahan, ketidakpedulian pada lingkungan, semua yang terjadi di dunia orang dewasa memaksa mereka mafhum bahwa kehidupan ini keras dan semakin tidak mudah. Lalu anak-anak itu mencari-cari jawaban sendiri. Belajar dari apa saja yang bisa mereka jumpai di internet.

Anak-anak kemudian kehilangan role model. Tak lagi punya panutan. Mereka terlanjur terpapar banyak sekali informasi mengenai pejabat negara yang korupsi, atau wakil rakyat brengsek yang kerjanya tidak pernah jelas selain ngebacot, atau aparat hukum yang bukannya menegakkan keadilan, malah mempermainkan. Mereka menyaksikan kekonyolan orang-orang dewasa yang terus ribut satu sama lain memperdebatkan soal agama, mazhab, perbedaan pilihan politik, yang bikin riuh-gaduh media sosial yang sedikit demi sedikit mulai mereka intip dan ikuti.

Ah, anak-anak mana peduli urusan orang dewasa seperti itu. Dunia mereka ‘kan bermain…

Oke. Pernah cek anak-anak hari ini “bermain” apa? Jangan kaget kalau mereka mainnya cinta-cintaan, pacar-pacaran, nonton bokep, stalking akun-akun erotis di Instagram, ngumpul teman satu geng sambil mabuk lem atau menelan zenith, menjadi “dewasa” sebelum waktunya karena mereka sendiri bingung menjadi anak-anak itu seharusnya seperti apa.

Anak-anak generasi penerus itu akhirnya kehilangan respect bukan saja kepada orang dewasa, tetapi juga lingkungan kehidupan di mana seharusnya mereka berada.

Berharap pada sekolah juga tak bisa, sebab alih-alih memahami bahwa setiap anak itu khas, unik, memiliki interest yang berbeda dan untuk itu treatment-nya seharusnya berbeda pula, pendidikan hari ini justru dibikin semakin seragam, satu bentuk, terstandardisasi dengan pola yang sama. Anak-anak yang isi kepalanya sudah diracuni beraneka rupa informasi akibat keterbukaan era internet, harus beradaptasi dengan segenap keseragaman pola belajar di sekolah.

Maka benteng terakhir tentu saja keluarga. Orangtua. Orang-orang terdekat yang sudah pasti menginginkan semua kebaikan untuk anak-anaknya. Jangan pernah biarkan anak sendirian, bahkan meski kita yakin dia sedang berada di kamarnya di dalam rumah. Ingatlah ketika di tangan si anak ada gadget yang terhubung ke internet, mereka sesungguhnya tidak sedang benar-benar sendirian. Ada “dunia lain” di luar rumah yang sedang terhubung dengan mereka, dan itu bisa saja dunia malaikat, bisa juga dunia setan.

 

***

 

Dibesarkan dengan gadget dan internet, fantasi dan candu games online, anak-anak kita kelak harus menaklukkan kejamnya dunia yang sudah kehabisan sumber daya. Kehabisan segala-galanya. Siapkah mereka?

Pada masa di mana lahan-lahan sawah dan kebun sudah kering tak terurus karena tidak ada lagi anak muda yang berminat menjadi petani, dari mana manusia di masa depan memperoleh bahan pangan? Bahkan meskipun masih ada sisa mineral dan bahan baku energi yang bisa ditambang, manusia sampai kapanpun takkan bisa mengunyah batubara.

Sementara di dunia kerja kompetisi sudah tidak lagi sekadar manusia melawan manusia, tetapi juga manusia melawan robot. Teknologi artificial intelligence, kecerdasan artifisial yang semakin canggih, segera membunuh peran manusia untuk banyak bidang pekerjaan. Semakin banyak teknologi ditemukan, semakin terancam pula eksistensi manusia.

Sungguh tidak mudah membayangkan masa depan dunia yang disebut sudah memasuki fase akhir zaman ini. Tataplah mata anak-anakmu, selami hatinya dan tanyakan pada dirimu sendiri: kehidupan seperti apakah yang sekiranya akan mereka hadapi kelak; dua, tiga, lima dekade lagi. Sudahkah cukup ikhtiarmu menyiapkan bekal terbaik untuk mereka?

Selamat Hari Anak Nasional. Jangan pernah lelah menyiapkan anak-anak kita menjadi generasi manusia tangguh, sebab di tengah berbagai kemudahan akibat revolusi teknologi hari ini, hidup manusia di masa depan sesungguhnya menjadi semakin tidak mudah. [www.windede.com]

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.