Bodohnya Twitwar “Bongkar Aib” Andi Arief dan Budiman Sudjatmiko

BETAPA menyenangkan menyaksikan timeline medsos yang damai oleh foto-foto silaturahmi lebaran, ucapan saling memaafkan, dan pesta opor, ketupat, lontong sayur, dari rumah kerabat satu ke kerabat lain. Setelah hari-hari penuh ketegangan di mana di negeri ini medsos menjadi tempat berdebat dan saling menjatuhkan, Idul Fitri menetralkan semuanya.

Paling kurang ada jeda beberapa hari untuk cooling down. Sebelum “tancap gas” lagi.

Tapi tidak bagi Andi Arief dan Budiman Sudjatmiko, dua eks aktivis PRD, Partai Rakyat Demokratik, yang pada masa Orde Baru dikenal “radikal” karena melawan penguasa. Keduanya berantem justru ketika yang lain sedang khusyuk menikmati lebaran yang syahdu. Twitwar. Perang twit. Saling serang. Sampai saling bongkar aib.

Budiman Sudjatmiko lewat akun @budimandjatmiko menulis:

Ini direspon Andi Arief lewat akun @andiariefaa:

Lalu terjadilah sahut-sahutan. Saling balas, dengan argumen-argumen yang semula masih bagus tapi kemudian bergeser jadi saling hina dan cela.

Dari saling serang, ujung-ujungnya keluar twit berisi tuduhan serius bersifat pribadi dari Andi Arief kepada Budiman:

Budiman sendiri membantah twitwar ini sebagai pertengkaran.  Menurutnya Andi Arief tengah berlari membawa rahasia-rahasia kejahatan, sehingga harus diburu.

Begitulah. Berdebat di dunia maya memang tidak mudah. Sebab masing-masing hanya bisa “mengukur” lawan bicara lewat teks, yang terkadang ditulis begitu spontan dan rawan salah penangkapan. Orang-orang yang emosional tak cocok berdebat di medsos. Bisa keluar dari substansi lalu menyerang pribadi.

Tuduhan Andi Arief soal Budiman membuntingi cewek di dalam penjara itu, misalnya, bisa menjadi urusan hukum sangat serius. Bagaimana cara membuktikannya? Padahal boleh jadi tuduhan semacam itu terlontar hanya karena Andi Arief sedang emosional belaka.

Adapun berdebat mengenai pandangan politik, dukung-mendukung ideologi dan gerakan, mestinya bisa tetap dilakukan dengan gayeng dan bermartabat. Kecuali memang telah ada bibit dendam kesumat sejak lama, yang menunggu diledakkan, dari dua sahabat yang sama-sama pernah berada dalam satu payung gerakan pada masa di mana rezim begitu represif kepada siapapun yang secara politik berseberangan.

Menjelang meletusnya reformasi 1998, aktivis seperti Budiman Sudjatmiko dan Andi Arief memang menjadi role model banyak aktivis lain, terutama di daerah, karena keberanian mereka melawan penguasa. Kita tak pernah tahu bagaimana dinamika di internal gerakan tersebut pada masa itu, di dalam tubuh PRD yang masyhur sebagai partai pemberontak itu. Yang orang tahu; mereka para pemberani.

Sejarah kemudian mencatat, Andi Arief masuk lingkaran kekuasaan, pada rezim SBY, dan Budiman Sudjatmiko menyusul meleburkan diri ke PDIP dan kini mesra bersama rezim penguasa. Cerita 25 tahun silam itu tinggallah kenangan. Romantisisme sejarah. Hari ini mereka sama-sama partisan, dan bergiliran bergantian mereguk nikmat berada di barisan penguasa.

Twitwar, pertengkaran, atau apapun namanya yang mereka pertontonkan di medsos itu pada akhirnya hanya menunjukkan kebodohan. Publik cuma bisa tertawa, mungkin juga mencibir, sambil ikut ngomporin agar bertengkarnya lebih serius lagi aja. Sampai malunya sama-sama tak tertanggung lagi. []

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.