Ngobrol Asyik dengan Karina, Gadis Kaltim yang Jadi Ekspatriat di Manila

Tak banyak orang Indonesia di Filipina. Dari yang sedikit itu, ada Karina Aisyah, gadis asal Kaltim yang kini menduduki posisi penting di sebuah perusahaan multinasional bidang IT di Manila.

MESKI bertetangga, Filipina bukanlah negara tujuan merantau bagi kebanyakan orang Indonesia. Setidaknya bukan seperti Malaysia atau Hongkong, di mana jumlah perantau asal Indonesia begitu banyak, sampai menjadi komunitas besar.

Saat terbang dari Jakarta ke Manila, pesawat Cebu Pasific Airlines yang saya tumpangi pun dipenuhi warga Filipina. Ini terdengar dari percakapan mereka menggunakan bahasa Tagalog. Hanya ada beberapa orang Indonesia, termasuk sekelompok remaja berpakaian olahraga yang hendak mengikuti sebuah kejuaraan atletik di Manila.

Penerbangan pulang dari Manila ke Jakarta juga begitu. Sebagian besar penumpang warga Filipina. Sebagian lagi bule-bule yang transit dari Eropa dan Amerika. Cebu Pasific Airlines rupanya cukup jeli melihat peluang. Selain menyasar pasar domestik, maskapai yang berbasis di Ninoy Aquino International Airport (NAIA) itu juga menjadi hub untuk berbagai penerbangan lanjutan, termasuk dari dan ke Indonesia.

Situasi berbeda akan kita jumpai kalau terbang menggunakan pesawat low cost carrier (LCC) tujuan Hongkong atau Kuala Lumpur. Pesawat biasanya dipenuhi warga Indonesia yang terbang berkelompok-kelompok. Mereka para TKI yang mengadu nasib di negeri orang.

“Memang nggak banyak orang Indonesia di Manila, karena kalau soal lapangan kerja, justru orang Filipina yang mencari kerja ke luar negeri. Kebanyakan jadi pekerja migran di Timur Tengah,” kata Karina Aisyah, WNI asal Kalimantan Timur yang sudah dua tahun ini bekerja di Manila. Gadis kelahiran Balikpapan 22 tahun lalu ini menerima undangan wawancara Kaltim Post di salah satu kafe di Gateway Mall, Quezon Manila.

Karina menghabiskan masa kecil dan remajanya di Samarinda. Lulus dari SMA Plus Melati (sekarang SMA 10 Samarinda) tahun 2008, Karina melanjutkan studi Sastra Jepang di Universitas Indonesia Jakarta. Lulus sarjana 2012, ia langsung mengambil S2 Program Studi Jepang di perguruan tinggi yang sama dan lulus tahun 2015.

“Begitu lulus, dapat peluang bekerja di Manila, langsung saya ambil. Apalagi tugasnya masih berhubungan dengan Jepang,” kata Karina, yang tinggal di kawasan sibuk Quezon di downtown Manila.

Sebagai ekspatriat di perusahaan multinasional itu, sulung tiga bersaudara ini bertugas di bidang human resources. Sehari-hari berkomunikasi dengan rekan kerjanya di kantor Manila menggunakan bahasa Inggris. Namun untuk sejumlah tugas yang berhubungan dengan kantor pusat di Jepang, dia berbahasa Jepang, sesuai keahliannya.

“Sejauh ini enjoy saja. Pekerjaannya challenging dan lingkungan kerjanya asyik,” kata Karina, saat ditanya bagaimana rasanya bekerja di Manila dan jauh dari keluarga.

Untuk mengusir rasa kangen Indonesia, dia kerap memasak sendiri menu-menu khas Nusantara, karena relatif sulit menemukan rumah makan Indonesia di Manila. Adapun komunikasi dengan keluarga, saat ini sudah lebih mudah berkat teknologi. “Ada grup chat keluarga,” ujarnya.

Di kantornya di Manila, Karina adalah satu-satunya tenaga ahli berkewarganegaraan Indonesia. Rekan kerjanya berasal dari berbagai negara. Dia direkrut karena keahlian dalam bahasa Jepang, sesuai dengan minatnya pada kebudayaan bangsa Jepang sejak lama.

Puteri pertama Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kaltim Syafril Teha Noer ini menjalani keseharian seperti layaknya warga setempat. Dua tahun di Filipina sudah cukup membuatnya fasih berbahasa Tagalog. Ketika sopir taksi Uber yang saya pesan keliru mendatangi lokasi penjemputan, misalnya, Karina menuntun sopir via telepon dalam bahasa Tagalog, untuk menemukan lokasi penjemputan yang akurat.

“Saya pikir temanmu tadi orang Filipina. Bahasa Tagalognya fasih sekali,” kata Alex, sopir Uber yang juga sempat mengajak saya berbahasa Tagalog karena menyangka saya orang Filipina.

“Untuk komunikasi sehari-hari sih lumayan lancar. Apalagi kosa kata bahasa Tagalog juga ‘kan banyak kemiripan dengan bahasa Indonesia. Tapi kalau mau dibandingkan, saya masih lebih lancar berbahasa Jepang,” kata Karina.

Di Filipina, selain bahasa Tagalog, penduduknya menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Tak heran hampir semua orang lokal yang saya jumpai di Manila dapat berbahasa Inggris dengan baik. “Kami belajar bahasa Inggris sejak di sekolah dasar, dan menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari,” sebut Alex, yang pernah bekerja di Riyadh, Arab Saudi.

Seperti halnya Alex, banyak warga Filipina mencari kerja ke luar negeri bukan saja karena bayarannya lebih mahal, tetapi juga persaingan tenaga kerja di dalam negeri sudah sangat ketat. Apalagi pemerintah Filipina menetapkan pajak penghasilan sangat tinggi; hingga 30% dari total pendapatan. Pajak dipotong langsung oleh perusahaan tempat bekerja.

“Itu salah satu keluhan warga Filipina. Pajak penghasilan tinggi sekali,” kata Karina.

Di era Presiden Rodrigo “Digong” Duterte, ada sedikit angin segar bagi kaum pekerja, di mana pajak penghasilan pribadi diturunkan menjadi 25%. “Duterte mengubah banyak hal. Warga Filipina menaruh harapan besar kepada Duterte,” sebut Alex.

Pemimpin dan rezim silih berganti. Seperti halnya Indonesia, problem politik Filipina juga cukup pelik. Sejarah panjang bangsa itu sejak dijajah Spanyol, kemudian Amerika, lalu Jepang, dan sederet konflik-konflik politik setelahnya termasuk isu separatisme di sejumlah kawasan, menjadikan kepemimpinan Duterte yang kontroversial disikapi dengan optimis sekaligus skeptis. Sang Penghukum yang belum setahun menjabat masih harus membuktikan; tangan besinya bisa membawa negeri Filipina lebih hebat lagi. (windede@prokal.co)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.