Belajar Menghargai Sejarah dari Jeepney dan Intramuros

Dua wajah kota dapat dinikmati sekaligus di Manila; wajah baru yang metropolitan, dan wajah lama dengan bangunan-bangunan tua serta angkutan kota bernama Jeepney.

TAK ada yang lebih populer di Manila selain Jeepney. Mau bepergian ke mana pun pasti berjumpa kendaraan eks perang dunia kedua yang kini difungsikan sebagai angkutan kota itu. Masih tampak kokoh dan gagah, dengan body penuh modifikasi, Jeepney berseliweran di seluruh penjuru kota. Tarifnya murah meriah. Cukup bayar 10 peso sekali jalan. Itu setara lebih kurang Rp2.650 (kurs 1 peso = Rp 265). Untuk jarak yang sama, ongkos naik taksi argo bisa sepuluh kali lipatnya.

Penduduk lokal sangat menyukai Jeepney, meskipun moda transportasi lain yang lebih modern seperti bus dan kereta dalam kota (MRT dan LRT) telah pula tersedia. “Praktis, dan murah,” kata Isabel, kasir di salah satu kafe di Manila, memberi alasan.

Yang dimaksud praktis itu adalah ini; penumpang tak perlu repot menunggu di halte, seperti halnya naik bus umum, karena Jeepney bisa berhenti di mana saja. Penumpang juga dapat turun di mana pun tanpa harus menunggu tempat pemberhentian, karena sopir Jeepney bisa menghentikan “kendaraan perang” itu di mana saja dia suka. Penumpang juga tak perlu repot-repot jalan ke stasiun seperti halnya kalau naik kereta.

Jumlah Jeepney yang sangat banyak membuat penumpang tak khawatir kehabisan angkutan. Penjurusan dibedakan dari warna body, sehingga dari kejauhan penumpang sudah bisa memilih akan naik Jeepney warna apa yang sesuai dengan tujuannya. Konon, karena penumpang duduk berhadap-hadapan, dan dengkulnya saling bersentuhan, sehingga kendaraan yang mulanya Jeep Willys itu disebut Jeepney. Kombinasi jeep (jenis kendaraan) dan knee (dengkul).

Tak ada data pasti berapa jumlah Jeepney di Manila. Tapi Jeepney yang orisinal adalah hasil modifikasi Jeep Willys peninggalan tentara Amerika, dengan rangka sasis dipanjangkan dan body dibentuk penuh lekuk dan ukiran. Jeep Willys ini kendaraan dinas tentara Amerika saat bertugas di Filipina tahun 1940-an. Ketika mereka meninggalkan negeri itu pada masa pendudukan tentara Jepang, mobil-mobil dinas ini lantas dijual kepada penduduk setempat.

“Tapi ada banyak Jeepney yang sudah tidak asli lagi. Dibikin mirip jeep, padahal mesin dan rangkanya dari truk merek Jepang,” kata Felix, seorang sopir taksi online.

Rencana pemerintah kota Manila mengandangkan Jeepney dan meregenerasi angkutan kota dengan kendaraan yang lebih baru, mendapat protes bukan saja oleh para pengemudi, tetapi juga warga sebagai pengguna. Padahal, seperti halnya angkot di kota-kota di Indonesia, Jeepney kerap dituduh sebagai biang kemacetan. Pengemudinya paling suka melanggar aturan berlalulintas.

Tentu saja pertimbangan lain kenapa Jeepney tetap bertahan adalah nilai sejarahnya. Hampir tidak ada di kota lain di negara manapun, Jeep Willys eks perang dunia kedua masih memadati kota dan berfungsi baik. Di Jakarta, misalnya, jeep jenis ini biasanya dimiliki para kolektor, dan hanya dipakai sesekali saja.

 

BIKIN MACET: Salah satu sudut Kota Manila, yang sumpek dan semrawut, tambah parah oleh pengendara Jeepney yang sering melanggar aturan. (foto: erwin d. nugroho)

KOTA TUA

Bukan hanya Jeepney, Manila juga menyimpan sebuah kawasan dengan mesin waktu yang seperti berhenti di era kolonial Spanyol tahun 1500-an. Kawasan itu bernama Intramuros, sebuah area yang dikelilingi dinding batu dari abad pertengahan.

Pemerintah Filipina melestarikan kawasan ini menjadi cagar budaya, dan mempertahankan bangunan-bangunan tua di dalamnya seperti gereja, sekolah, museum dan perpustakaan, yang sampai saat ini masih berfungsi dengan baik.

Intramuros, dari bahasa Spanyol intra (di dalam) dan muros (dinding). Pada masanya, Intramuros adalah “kawasan dalam” yang terproteksi dari “kawasan luar” yang disebut Extramuros. Orang-orang Spanyol yang menduduki wilayah Filipina hidup dan membangun peradaban di Intramuros. Menjadikannya kota dengan arsitektur cantik khas Spanyol.

Kawasan ini sempat hancur pada masa perang dunia kedua, saat tentara Jepang menginvasi wilayah Filipina yang dikuasai Amerika. Baru diperbaiki kembali setelah perang dunia kedua berakhir, dengan mempertahankan bangunan yang tersisa dan melakukan pemugaran besar-besaran.

Mengingat besarnya nilai sejarah kawasan ini, pemerintah Filipina menguasai bangunan-bangunan kuno di tempat ini dan tidak mengizinkan kepemilikan private. Intramuros dikelola sebuah badan pemerintah, yang mengatur peruntukan kawasan bagi keperluan wisata. Toko-toko suvenir, layanan dokumentasi foto, juga kafe-kafe, disiapkan untuk kenyamanan pengunjung.

Turis-turis asing dari Eropa, Amerika dan Australia, datang dalam rombongan besar, menikmati kawasan bersejarah ini. Ramainya wisatawan membawa keberuntungan bagi penduduk setempat, yang menawarkan jasa becak sepeda (tri-cycle) untuk berkeliling Intramuros. Selain lebih menghemat waktu, cuaca Manila yang sangat panas pada siang hari sungguh tidak bersahabat kalau hendak memaksakan diri keliling Intramuros dengan berjalan kaki.

Meski masih dikelilingi dinding bekas benteng abad pertengahan, Intramuros saat ini bukan lagi kawasan tertutup. Posisinya yang di tengah-tengah kota, dan disebut sebagai tempat di mana segala sesuatu di Manila bermula, membuat Intramuros seperti sebuah kota lama yang menyatu dengan wilayah sekitarnya yang lebih baru. Kontras sekali dengan kawasan Makati yang dipenuhi gedung-gedung tinggi pencakar langit, mal-mal modern dan pusat bisnis.

“Manila ini kecil. Wilayahnya sudah sangat padat. Orang-orang tinggal di kotak-kotak persegi di gedung-gedung apartemen dan kondominium. Kalau mau nyaman, tinggal di sub-urban, di pinggiran, atau sekalian saja pindah ke provinsi lain. Cebu, atau Davao,” kata Richard, pengemudi taksi online yang sempat curhat soal kegelisahannya melihat Manila yang terus berubah menjadi metropolitan. (windede@prokal.co/bersambung)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *