Mengunjungi Filipina Era Rodrigo “Digong” Duterte

Nama Rodrigo Duterte begitu populer saat ini. Ia mendapat porsi besar liputan media-media internasional karena kebijakan dan gaya kepemimpinannya yang kontroversial.

PENERBANGAN Cebu Pasific Airlines rute Jakarta – Manila penuh sesak pada Sabtu dini hari (25/3) tadi. Tak ada satu pun kursi tersisa di pesawat Airbus A320 itu. Jadwal terbang yang mestinya pukul 00.45 WIB, sedikit molor menjadi 01.00. Dengan durasi terbang 4 jam 10 menit, saya tiba di Manila pukul 06.10 pagi. Waktu di Manila sama seperti WITA, 1 jam lebih cepat dari Jakarta.

Layanan maskapai low cost carrier (LCC) ini cukup nyaman. Standar penerbangan kelas ekonomi. Cebu Pasific Airlines sedang gencar berpromosi dengan membuka penerbangan langsung ke Indonesia setiap hari, sehingga sering melepas tiket harga promo yang nilainya tidak lebih mahal dari biaya tiket pesawat domestik Balikpapan – Jakarta PP.

“Kunjungan bisnis atau wisata? Untuk berapa lama? Rencana menginap di mana?…”

Tiga pertanyaan itu dilontarkan petugas imigrasi. Pertanyaan standar saja. Setelah menjawab bahwa kunjungan saya cuma untuk jalan-jalan, rencana menginap dua malam dan sudah pesan kamar hotel di kawasan Malate, Metro Manila, petugas tak banyak tanya lagi. Dia arahkan kamera untuk memotret wajah saya, lalu tok… paspor pun dicap stempel warna merah.

Terminal 3 Bandara Internasional Ninoy Aquino tak terlalu sibuk pagi itu. Setelah menukar mata uang dolar Amerika menjadi peso Filipina di money changer, saya bergegas membeli nomor telepon pra bayar di konter yang tersedia dekat pintu keluar. Nomor lokal selain saya perlukan untuk paket data internet, juga untuk berkomunikasi dengan sopir saat memesan Uber, layanan taksi berbasis aplikasi online. Terima kasih teknologi. Terima kasih para penemu. Pergi ke negara manapun saat ini lebih praktis mengandalkan taksi online untuk transportasi lokal.

Cukup membayar 299 peso, lebih kurang Rp79.000 dengan kurs 1 peso = Rp265, saya sudah mendapatkan nomor selular dengan paket 3 hari unlimited data internet, 30 menit telepon lokal, dan gratis 50 SMS. Sangat cukup untuk modal berkomunikasi dan membuat saya selalu terhubung dengan internet selama berada di Manila.

Masih terlalu pagi untuk masuk hotel. Jadwal check in paling cepat pukul 14.00. Saya pun memutuskan jalan-jalan dulu keliling kota. Tujuan pertama mencari sarapan. Dari referensi seorang teman, saya menuju daerah Makati. Di sana ada restoran menu Indonesia bernama Warung Indo. Haha… jauh-jauh ke Filipina makannya nasi uduk juga. Meskipun mencoba kuliner lokal pasti lebih menantang, memulai jalan-jalan di negeri orang dengan menu sarapan khas Indonesia kan asyik juga.

Warung Indo ternyata baru buka pukul 09.00 pagi. Saya datang satu jam lebih cepat. Tak ada pilihan lain, ditunggu saja. Untung pegawainya sudah mulai bersiap-siap, dan dengan baik hati menyuguhkan kopi sebelum tersedia menu sarapan pagi.

Setelah sarapan, saya bergeser ke Manila City Hall, semacam alun-alun kota. Posisinya bersebelahan dengan Rizal Park, sebuah taman kota seluas 58 hektare di jantung kota Manila.

“Jangan mudah percaya kepada siapapun yang mengajak bicara atau menawarkan barang dagangan di jalan. Hati-hati ponsel dan kameramu,” kata Felix, sopir taksi online yang saya tumpangi, mengingatkan.

Ia bercerita, meskipun Manila sudah jauh lebih aman setelah kepemimpinan Rodrigo Duterte yang dilantik sebagai Presiden Filipina pada Juni 2016, namun aksi kriminal masih cukup sering terjadi. Ini dipicu oleh tingginya jumlah penduduk miskin, dan isu-isu kesenjangan sosial.

Di City Hall, sejumlah gelandangan tampak berteduh di bawah patung diorama perang dunia kedua. Seorang ibu cuek saja memandikan bayi di pelataran alun-alun, dengan menyirami bayinya menggunakan air dari galon. Kalau di daerah kita, kekumuhan seperti ini mungkin sudah dibereskan sama petugas satpol PP.

Meski terus dipuji karena sikap kerasnya kepada koruptor dan penjahat narkoba, Presiden Duterte juga menuai banyak kritik karena dianggap belum cukup terbukti di bidang ekonomi. Pertumbuhan PDB Filipina yang naik 7,1% pada 2016, tercepat di Asia, seperti tenggelam oleh problem kesenjangan sosial, di mana pertumbuhan ekonomi itu dinilai hanya dinikmati segelintir orang kaya dan superkaya di negeri itu.

Duterte, mantan Walikota Davao yang sering digelari “the punisher” (sang penghukum) ini memang sukses menahan laju peredaran narkoba, yang konon membuat sedikitnya 1,8 juta penduduk di negara itu menjadi pecandu. Ini menjadikannya dimusuhi bukan saja oleh para pecandu dan bandar narkoba, tapi juga pejabat-pejabat korup yang membekingi jaringan bisnis barang haram itu.

Saat kampanye pemilihan presiden, Duterte memang berjanji kepada rakyatnya akan memberantas habis jaringan peredaran narkoba di negara itu, dalam waktu 3 hingga 6 bulan awal masa jabatannya. Duterte yang sudah membuktikan ketegasannya saat di Davao, terpilih. Rakyat Filipina menjadi saksi Duterte membuktikan ucapannya. Dalam 3 bulan, dilaporkan lebih 3 ribu orang terkait narkoba dieksekusi mati, bahkan tanpa proses peradilan. Lebih 4 ribu lainnya ditangkap.

Saking kejamnya kepada penjahat narkoba, Duterte bahkan mengiming-imingi hadiah 2 juta peso atau sekitar setengah miliar rupiah, kepada siapa saja yang berhasil menangkap polisi atau pejabat yang melindungi gembong narkoba. Ia mengabaikan kritik dan protes lembaga HAM, karena menurutnya kejahatan narkoba memang harus dihadapi dengan kekerasan.

“Lupakan hak asasi manusia. Jika saya berhasil masuk istana kepresidenan, saya hanya akan melakukan apa yang telah saya lakukan sewaktu menjadi walikota. Kalian wahai pecinta narkoba, tukang sembunyi dan tak mau berbuat apa-apa, lebih baik enyah saja kalian, karena saya akan bunuh kalian. Saya akan buang kalian semua ke Teluk Manila untuk menggemukkan perut ikan-ikan di sana,” kata Duterte saat berkampanye, seperti dikutip Rappler, media setempat.

“Banyak orang tidak suka Duterte. Tapi lebih banyak lagi yang suka. Buktinya dia menang pemilu,” kata Richard, sopir taksi online lain yang saya tumpangi.

Menurutnya, warga Filipina menaruh harapan besar pada Duterte karena sudah lelah dengan pejabat-pejabat sebelumnya yang hanya mementingkan dinasti kekuasaan. Meski sikap dan gaya pribadi Duterte kerap kontroversial, dia disebut sebagai pemimpin yang punya visi jelas untuk masa depan negara.

“Visi ini penting, sehingga kita bisa ikut punya cita-cita,” kata Richard, berfilosofi.

Manila yang terus tumbuh sebagai metropolitan, dengan gedung-gedung pencakar langit memadati downtown Makati, pembangunan jembatan layang di mana-mana dan terus bertambahnya jaringan skyway kereta dalam kota, menurut Richard cukup memberi optimisme bagi warga Filipina.

“Filipina perlu pemimpin yang keras seperti Digong,” kata Richard, menyebut panggilan beken Duterte.

Di kawasan Pasay, sebelah selatan kota Manila, berdiri Mall of Asia, sebuah kawasan bisnis, pusat belanja dan rekreasi seluas 500.000 meter persegi, konon terbesar di Asia, persis berada di sisi Teluk Manila yang cantik. Sabtu sore itu saya ikut menikmati matahari terbenam bersama warga Manila di tempat itu.

“Selalu ramai akhir pekan begini,” kata seorang pedagang es krim di kawasan itu. Muda-mudi berpasang-pasangan, keluarga dengan anak kecil, dan turis-turis asing, berbaur jadi satu. (windede@prokal.co/bersambung)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *