Sensasi Umrah Backpacker, Hadapi Muasasah dan Urus Handling Airport Sendiri

Setelah melaksanakan umrah mandiri (backpacker) bersama keluarga pada Februari 2016, saya berkesempatan ke Tanah Suci lagi, sekalian menjadi tour leader umrah backpacker rekan kantor, awal Ramadan 2016. Berikut catatannya:

JADWAL keberangkatan ke Tanah Suci tinggal beberapa jam lagi. Koper masih kosong. Saya belum selesai packing barang karena sejak pagi harus mondar-mandir ke klinik dan rumah sakit, mengurus dua anak saya yang sedang demam. Menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan keduanya baik-baik saja. Gugup juga. Sementara di grup Whatsapp kawan-kawan dari Tarakan, Balikpapan, Palangka Raya, Sampit, Surabaya dan Malang menyatakan sudah siap. Ready to go.

Kekhawatiran itu akhirnya menjadi kenyataan. Sabtu dinihari (4/6), anak pertama saya mesti dirawat di rumah sakit. Kondisinya terbilang parah sehingga harus masuk ICU. Kritis. Hati pun galau maksimum. Antara menunggui anak di ICU atau tetap berangkat umrah bersama tim KPG. Yang bikin tambah galau: saya adalah tour leader pada trip ini.

Sejak awal saya bertugas mengatur semua teknis keberangkatan, dari urusan pembelian tiket, menyusun itinerary, hingga mengurus visa dan memastikan land arrangement beres. Sudah seharusnya saya ada bersama rombongan.

Dinihari itu juga akhirnya saya kirim message ke Zainal Muttaqin, chairman KPG yang menginisiasi sekaligus mensponsori perjalanan kami ini. “Lapor Boss… Saya mungkin batal berangkat. Anak saya harus dirawat di ICU. Tidak tega mau ninggalkan. InsyaAllah saya menyusul kalau kondisi anak membaik.”

Boss Zam, sapaan akrab kami kepada Zainal Muttaqin membalas singkat pesan saya. “Siap! Semoga anaknda lekas sehat…”

Sabtu sore, dari rumah sakit saya sempatkan ke Bandara Soekarno Hatta, bertemu rombongan umrah backpacker KPG, mendampingi proses check in dan pengurusan bagasi, sekaligus mengantar paspor mereka semua yang sudah ditempel visa dari Kedutaan Arab Saudi. Saya sendiri juga harus lapor ke counter Etihad Airways untuk cancel tiket dan mengurus status open schedule agar tiket tidak hangus dan bisa dipergunakan pada tanggal yang lain (reschedule).

“Semoga anaknya lekas sehat, tidak lama-lama di ICU, dan bisa menyusul kita semua ke Tanah Suci,” pesan Choirul Sodiq, pimpinan koran Memorandum Surabaya yang ikut dalam umrah backpacker KPG, sesaat sebelum rombongan bertolak menuju Madinah.

Maka jamaah umrah backpacker yang seharusnya berjumlah 14 orang itu bukan saja berangkat ke Tanah Suci hanya dengan 13 anggota, tapi juga tanpa tour leader.

Alhamdulillah kondisi kesehatan anak saya bisa segera membaik. Dokter memastikan proses pengobatannya sukses dan bisa cepat recovery. Hari Senin siang dia sudah pindah ke ruang perawatan. Saya pun cukup tenang untuk meninggalkannya pergi umrah. “InsyaAllah saya segera menyusul ke Madinah,” lapor saya kepada kawan-kawan via grup Whatsapp.

Tetapi rencana tidaklah selalu mulus. Penerbangan Etihad ke Madinah ternyata sudah penuh hingga beberapa hari ke depan. Fully booked. “Yang memungkinkan saat ini tinggal reroute saja, pindah rute, Bapak harus turun di Jeddah,” kata pihak Etihad.

Meski akhirnya mengambil pilihan sulit itu (terbang ke Jeddah), bagi saya ini tetap bukan perkara mudah. Selain rombongan yang hendak saya susul masih berada di Madinah, proses kedatangan di Jeddah bakal jadi masalah. Datang sendirian tanpa rombongan umrah lain bisa memancing kecurigaan Muasasah (petugas pemantau haji). Arab Saudi bukan negeri yang ramah bagi solo traveller. Bisa-bisa dikira datang untuk jadi imigran gelap.

Belum lagi kalau dari Jeddah harus jalan darat ke Madinah, transportnya sulit sekali. Tidak tersedia angkutan umum seperti public bus atau taksi di Terminal Haji King Abdul Azis Jeddah. “Taksi adanya di terminal komersial. Di terminal haji tidak ada. Satu-satunya cara keluar dari terminal haji ya menumpang bus rombongan umrah reguler,” kata Elly Lubis, rekan dari komunitas Ubepe Indonesia yang memfasilitasi sejumlah urusan teknis perjalanan backpacker kami.

Selasa dinihari, pukul 00.15 saya akhirnya terbang meninggalkan Indonesia dengan pesawat Etihad menuju Jeddah, transit di Abu Dhabi. Tiba di King Abdul Azis Jeddah tepat pukul 10 pagi waktu setempat. Dengan waswas melewati petugas imigrasi, toleh kiri-kanan cari-cari bantuan. Saat itu ada dua rombongan umrah reguler asal Indonesia yang juga mendarat di Jeddah dengan Etihad. Saya beranikan diri menemui tour leader-nya, menyampaikan maksud untuk menumpang ke Madinah. Dengan tatapan heran sang tour leader bertanya ini-itu, kenapa saya pergi sendiri, mana rombongan yang lain, dan apakah saya benar-benar jamaah umrah atau jangan-jangan hanya kedok saja untuk masuk Saudi secara ilegal.

“Antum boleh ikut, tapi kami tidak bertanggung jawab apapun. Kalau ditanya muasasah kami akan menjawab tidak tahu,” kata tour leader bernama Ustadz Faiz tersebut.
“Siap. Yang penting saya dapat tumpangan,” jawab saya.

Benar saja, baru beberapa langkah keluar gedung terminal haji yang beratap bentuk payung-payung raksasa itu, seorang petugas muasasah menghampiri. Dia menanyakan jumlah rombongan, lalu menghitung. “Ini kelebihan satu orang,” katanya.

Saya beranikan diri maju, menyerahkan paspor, dan menjelaskan sedikit kenapa saya bisa sampai “terselip” di antara rombongan umrah lain. Bahwa rombongan saya sudah lebih dulu berada di Madinah, dan saya tertunda berangkat karena alasan yang sungguh di luar keinginan saya. Petugas itu memperhatikan paspor saya, membaca dengan teliti lembar visa, menyalin beberapa bagian ke sebuah kertas, memotret visa tersebut dan memindai barcode di dalamnya dengan aplikasi di smartphone. Kemudian tanpa ekspresi dikembalikannya paspor saya. “Halas,” ujarnya. Beres. Alhamdulillah. Saya boleh pergi bersama bus rombongan umrah lain itu menuju Madinah.

Dasar nasib baik, bus yang saya tumpangi melewati Hotel New Shourfah, tempat rombongan umrah backpacker KPG menginap. Saya diturunkan tepat di depan hotel. Tak perlu repot tarik-tarik koper. “Akhirnya, kita punya tour leader. Selamat datang di Madinah,” kata Supriyono, finance manager di Divisi Iklan KPG.

Perjalanan umrah mandiri akhirnya memang memberi banyak pengalaman berharga, yang belum tentu bisa dirasakan bila pergi bersama travel agent. “Kalau ikut biro perjalanan, jamaah yang reschedule tetap akan diurus oleh petugas biro perjalanan itu, meskipun sendirian akan tetap dijemput di bandara dan diantar sampai ke hotel,” kata Elly Lubis.

Umrah gaya backpacker memang mengharuskan kami mengurus segala sesuatunya secara mandiri. Saat perjalanan pulang misalnya, di gedung keberangkatan Terminal Haji Jeddah tim KPG menyiapkan sendiri koper-koper tanpa bantuan porter, membeli sendiri air zamzam, mengurus wraping barang-barang yang wajib dibungkus plastik khusus, dan berdiri di antrean counter check in sampai semua proses timbang bagasi beres.

Semua kegiatan ini kalau dalam umrah reguler bersama biro perjalanan termasuk dalam biaya handling airport, dengan kisaran biaya Rp1 juta hingga Rp1,5 juta yang harus dibayarkan setiap jamaah di luar harga paket umrah. “Ternyata nggak terlalu repot. Selain dapat pengalamannya, juga bisa hemat dengan mengurus sendiri,” kata Djoko Purwanto, pimpinan koran Malang Pos yang juga ikut dalam rombongan kami. (windede@prokal.co)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.