Serunya Umrah Backpacker, Cara Hemat ke Tanah Suci bersama Keluarga

Lazimnya orang Indonesia pergi umrah ke Tanah Suci melalui jasa biro perjalanan. Tinggal bayar biaya paket, duduk manis, semua akan diurus dan dilayani perusahaan travel. Lalu gimana kalo perginya mandiri ala backpacker? Seru! Berikut catatannya.

SEBAGIAN besar penumpang Air Asia rute Jakarta-Kuala Lumpur pada Ahad pagi (14/2) itu adalah jamaah umrah, yang akan transit di Malaysia sebelum melanjutkan penerbangan ke Arab Saudi. Ini hampir bisa dipastikan dari pakaian mereka yang serba seragam.

Saya menghitung setidaknya ada empat rombongan, dengan seragam batik yang berbeda-beda. Mereka duduk berkelompok di ruang tunggu Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta, lalu saling membentuk barisan saat panggilan boarding pesawat diumumkan.

“Mau jalan-jalan ke Malaysia, dik…?” salah seorang jamaah umrah itu menyapa Alva, putra bungsu saya. “Nggak kok. Mau pergi umrah…” jawab Alva polos. Yang bertanya menunjukkan ekspresi heran.

Pertanyaan serupa beberapa kali kami terima, terutama saat bertemu jamaah umrah regular yang mungkin penasaran karena rombongan keluarga kami memang tidak memakai seragam dan atribut seperti umumnya jamaah umrah lain. Berpakaian santai seperti hendak traveling biasa, pakai ransel warna-warni.

Saat transit di Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2), bertemu dengan jamaah umrah yang lebih banyak lagi, pertanyaannya bertambah. “Lagi mudik, ya?” He he he… Ternyata ada yang mengira keluarga kami tinggal di Arab Saudi, dan saat ini sedang dalam perjalanan mudik atau pulang kampung. Ketika disampaikan bahwa kami hendak umrah seperti mereka juga, malah dikira ikut private tour. Layanan perjalanan khusus yang biasanya bertarif premium.

Kami memang berangkat dengan rombongan kecil; saya, istri dan tiga anak kami, ayah dan ibu saya, serta ibu mertua. Total hanya 8 orang. Tanpa didampingi ustadz/pembimbing umrah, ataupun tour leader dari travel agent. Juga tidak dijemput local guide. Semua dikerjakan secara mandiri. Modal keberanian dan setengah nekat – mengingat tak seorang pun di antara kami yang bisa berbahasa Arab. Saya sendiri, meski sudah punya pengalaman beberapa kali ke Tanah Suci, baru pertama kali ini melakukan perjalanan ke Arab Saudi tanpa ikut biro perjalanan.
Maka tantangan pertama langsung kami hadapi saat tiba di Terminal Haji Bandara King Abdul Azis, Jeddah.

Langit sudah gelap. Maghrib baru saja lewat. Setelah proses imigrasi yang relatif mudah, pengurusan bagasi yang lancar dan beres-beres saja, dengan percaya diri rombongan kami berjalan keluar terminal sambil dorong troli, menuju meeting point yang telah ditentukan dengan bus penjemput. Modal kami hanyalah nomor telepon sopir bus. “Nama sopirnya Kamal, orang Mesir. Dia menunggu di tiang nomor 4,” begitu isi pesan singkat penghubung kami dengan bus penjemput.

Baru beberapa langkah keluar pelataran Terminal Haji Jeddah dengan atap-atap berbentuk payung kerucut yang megah itu, rombongan kami dicegat seorang pria Arab bergamis putih. “Paspor,” katanya singkat. Ah, mungkin petugas. Maka saya serahkanlah tumpukan paspor kami. Dia ambil satu. Dibuka-bukanya lembar visa, mencatat sesuatu, lalu dikembalikan. Begitu saja. Tak sampai semenit. Ah, beres nih, batin saya. Kirain ada apa.

Kami pun menuju area ruang tunggu untuk berbersih diri, termasuk menyiapkan pakaian ihram dan mengambil niat ihram karena rute pertama kami dari Jeddah akan langsung menuju Makkah.
Selang beberapa menit kemudian datang seorang pria Arab lagi. Kali ini berpakaian kasual biasa, juga meminta paspor. Karena dia tak bisa bahasa Inggris sementara saya tak kuasa berbahasa Arab, maka kami hanya pakai bahasa isyarat saja. Paspor saya serahkan. Diambilnya satu dan dibawa pergi. Wahh, cilaka. Siapa orang ini?

Saya masih berprasangka baik. Apalagi pria itu tidak pergi jauh. Masih di area yang terpantau jarak pandangan saya. Dia berbicara di telepon dengan nada santai saja, sambil ketawa-ketawa dan jalan mondar-mandir. Itu sedikit bikin tenang, setidaknya kalaupun ada masalah, dalam pikiran saya mungkin tidaklah terlalu serius. Usai bicara di telepon pria itu mendatangi saya lagi. Menanyakan sesuatu yang tak saya pahami. Saya hanya bisa merespon dengan merentangkan tangan tanda tidak paham.

Untunglah seorang pria Indonesia menghampiri saya. Dari pakaiannya dia petugas cleaning service di King Abdul Azis. “Nomor perdana pak, nomor Arab. Untuk nelpon selama di sini,” katanya menawarkan kartu telepon lokal.

Nomornya sih saya tolak, karena saya sudah mengaktifkan paket data untuk nomor ponsel saya dari tanah air. Tapi pria Indonesia ini saya mintai tolong tanyakan ke pria Arab itu, siapa dia dan ada apa dengan paspor kami? “Dia ini muassasah, pak. Petugas haji. Dia tanya ini rombongan bapak ada berapa orang? Pimpinannya siapa, muthawif-nya mana?” kata pria Indonesia yang saya menyesal tak sempat menanyakan siapa namanya itu.

“Delapan orang ini saja. Pimpinannya saya sendiri. Tidak pakai muthawif. Tolong sampaikan,” kata saya.

“Dia minta kontak lokal selama di Makkah…”

“Ini, tolong kasih nomor telepon sopir yang jemput kami,” jawab saya.

Dialog hanya sampai di situ, sebab si pria Arab kemudian menelepon Kamal, sopir bus yang dalam perjanjian, menunggu kedatangan rombongan kami di tiang nomor empat pelataran luar Terminal Haji. Entah apa yang mereka bicarakan di telepon.

Tak lama kemudian datang seorang pria Arab lain, menemui petugas muassasah yang menahan paspor kami. Mereka bicara singkat. Paspor kami diserahkan kepada pria Arab yang baru datang itu.
Nyaris tanpa ekspresi, pria yang belakangan baru kami ketahui ternyata adalah Kamal, si sopir bus, menyerahkan paspor yang tadi ditahan itu kepada kami. “Arba…” katanya, menunjuk tiang dengan tulisan nomor 4 di kejauhan.

Alhamdulillah. Semua paspor lengkap di tangan. Kami menuju tiang nomor 4, memasukkan semua koper ke dalam bagasi bus besar yang akan mengantarkan kami ke Makkah. Labbaik Allahuma labbaik. Labbaika laa syarikalaka labbaik…

 

***

 

Hampir pukul 11 malam ketika puncak Tower Zamzam Makkah terlihat di kejauhan dari kaca depan bus yang dikemudikan Kamal, sebagai penanda kami sudah masuk Makkah Al Mukaramah. Kamal mengantar kami tepat sampai di depan Hotel Nawarat Syam 2, di kawasan Misfalah. Letak hotel ini lebih kurang 300 meter dari pelataran Masjidil Haram. Bukan jarak yang jauh.

Karena sampai di hotel hanya untuk drop barang supaya bisa segera melaksanakan ibadah umrah di Masjidil Haram, maka kami pun tak ingin buang waktu. Resepsionis hotel menyerahkan kunci dua kamar tipe quad (sekamar berempat) untuk kami. Beres? Ternyata belum.

“Pasport, please…” seru seorang pria berkulit hitam, bergamis cokelat, yang mencegat kami sebelum masuk lift menuju kamar. Ah, siapa lagi orang ini.
“Muassasah,” katanya singkat.

Tanpa bertanya lagi saya serahkan semua paspor kami. Hanya menilik sedikit lembar pertama salah satu dari delapan buku hijau tersebut, paspor-paspor itu langsung dia masukkan ke dalam tas kecil yang menggantung di bahu kanannya. “Halas…” Lalu pria itu meninggalkan hotel.

Berjalan melenggang dan hilang di tengah lautan jamaah yang lalu-lalang di Misfalah.
Entah bingung atau apa, saya pun tak berbuat apa-apa lagi. Pasrah saja. Delapan paspor kami semua dibawa seorang pria yang tidak saya ketahui identitasnya, kecuali bahwa dia mengaku muassasah, dan dokumen super penting itu diambilnya tanpa secarik pun tanda terima, di depan lift hotel tanpa seorang pun saksi. (bersambung)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.