Serunya Backpacker Awal Musim Dingin ke Korea Selatan

Bagaimana sebuah perjalanan mandiri ke luar negeri, tanpa ikut agen travel dan tidak menggunakan jasa pemandu wisata lokal, bisa tetap menyenangkan? Kata kunci; bikinlah segala sesuatunya terencana.

BULIR salju tipis berjatuhan (atau lebih tepatnya beterbangan) di luar jendela kamar hotel tempat kami menginap, di Gangnam Service Residence, Seoul, akhir November lalu. Tipis sekali. Dari kamar di lantai tujuh gedung hotel ini kami hanya bisa menyaksikan salju awal musim dingin itu seperti masih malu-malu menampakkan diri.

“Biasanya puncak salju turun pertengahan Desember. Nanti semua jalan di depan ini akan tertutup salju. Pohon-pohon itu semuanya memutih,” kata Jun Hwan, pegawai front office hotel yang saya ajak ngobrol pada hari kedua di Seoul.

Di tengah hawa dingin itulah saya bersama keluarga menjelajahi Seoul, hanya berempat saja. Kami mencoba semua moda transportasi publik, paling banyak menggunakan Metro Subway (kereta cepat). Selebihnya, hanya sekali memakai bus kota, dan sekali menggunakan taksi.

Hari pertama tiba di Negeri Ginseng, dari Bandara Incheon yang sibuk, kami memilih naik KAL Limousine Bus menuju hotel di kawasan Gangnam. Ini bus layanan khusus penjemputan dari dan ke bandara, point to point. Tidak mampir-mampir. Keluar dari pintu 4B kedatangan internasional, kami langsung disambut loket penjualan tiket. Rute ke Gangnam Area menggunakan bus jalur 6703, dengan tarif KRW 16.000 per orang sekali jalan atau sekitar Rp 192.000.

Bus berhenti di titik pemberhentian akhir yang lokasinya persis berada di samping Hotel Gangnam Service Residence, sehingga kami tinggal berjalan kaki beberapa langkah saja. Lebih praktis daripada naik kereta ekspres, Airport Railroad Express (AREX) Seoul yang meskipun juga tidak mampir-mampir, tapi dari stasiun pemberhentian terakhir di Seoul Central masih harus menyambung naik bus atau taksi lagi ke lokasi hotel. Pasti repot karena harus seret-seret koper.

Limousine Bus ini, seperti namanya, berfasilitas lux dengan kursi empuk berbungkus kulit, dengan sandaran yang bisa diturunkan. Dengan jam keberangkatan yang sudah terjadwal, bus tidak menunggu semua kursi terisi penuh. Langsung berangkat meski saat itu hanya ada enam penumpang. Selain kami berempat, penumpang lain adalah seorang perempuan bule berambut pirang, dan seorang pria berwajah oriental yang sepertinya penduduk Korea.

Perjalanan menuju Gangnam memakan waktu lebih kurang 70 menit. Jalanan agak tersendat macet saat masuk area kota. Tidak separah macet di Jakarta. Sopir bus yang ramah membantu menurunkan koper-koper kami dari bagasi bus. Kami memilih naik bus ini lagi saat menuju Bandara Incheon untuk kembali ke Indonesia.

Pengalaman paling mengasyikkan tentu saja naik Metro Subway, yang dikenal merupakan jaringan kereta (railway) terpanjang di dunia dengan 18 jalur.
Bandingkan dengan MRT (mass rapid transit) Singapura yang hanya empat jalur. Atau jaringan MRT (moda raya terpadu) Jakarta yang sampai hari ini masih dalam tahap pembangunan dan baru akan (direncanakan) beroperasi pada 2018.

Menurut data yang dipublikasi di Wikipedia, Seoul Metropolitan Subway memiliki total rel sepanjang 983 kilometer, dengan 509 stasiun dan mengangkut rata-rata hingga 9,8 juta penumpang setiap harinya. Jaringan kereta menghubungkan seluruh wilayah kota Seoul, sehingga mau pergi ke manapun di Seoul, pasti terjangkau dengan moda transportasi ini.

Untuk mengetahui rute dan jalur yang harus ditempuh, saya meng-install dua aplikasi di smartphone. Pertama, aplikasi bernama VisitKorea, yang dapat diunduh secara gratis. Aplikasi ini menyediakan fitur pencarian lokasi-lokasi wisata populer, dan penjelasan mengenai pilihan transportasi menuju lokasi tersebut. Kedua, aplikasi Seoul Subway, berupa peta digital jalur subway, sehingga untuk menuju sebuah lokasi, saya tinggal mengetikkan namanya dan aplikasi inilah yang akan menunjukkan stasiun mana yang harus dituju, berpindah jalur (interchange) di stasiun mana, masuk lewat jalur (line) berapa dan keluar di pintu (exit gate) yang mana.

Hari pertama, misalnya, selesai makan siang di kamar hotel, kami langsung jalan-jalan ke Namsan Seoul Tower, menara setinggi 236,7 meter yang dari atasnya kita bisa melihat seluruh penjuru kota Seoul. Dari hotel, kami berjalan kaki sekira 300 meter ke Stasiun Eonju, lokasi stasiun subway terdekat.

Dengan petunjuk arah yang diberikan aplikasi VisitKorea, dari Eonju (line 9) kami menuju stasiun Myeong-dong (line 4), dengan melakukan perpindahan jalur di Stasiun Dongjak. Total melewati 13 stasiun dengan waktu tempuh 35 menit.
Sesampai di Myeong-dong, aplikasi mengarahkan kami keluar di exit gate 2, dan harus naik Namsan Circular Shuttle Bus nomor 5 di depan gedung Daehan Cinema.

Bus ini melewati rute berputar yang salah satu titik pemberhentiannya adalah Namsan Seoul Tower. Setelah jalan-jalan di Namsan Seoul Tower, kami kembali lagi ke stasiun Myeong-dong menggunakan shuttle bus yang sama.

Saat jalan-jalan ke Nami Island pada hari kedua, kami naik subway lagi dari Stasiun Eonju. Kali ini menuju Stasiun Gapyeong (line G) dengan melewati 31 stasiun dan dua kali pindah jalur. Dari Eonju di line 9 pindah ke line 7 (Stasiun Express Bus Terminal), kemudian lanjut ke line G di Stasiun Sangbong. Stasiun-stasiun interchange ini memang berfungsi menghubungkan jalur-jalur subway, sehingga 18 jalur kereta dalam jaringan Seoul Metro Subway saling terkoneksi satu sama lain.

Sesampai di Stasiun Gapyeong setelah “merayap” di jalur kereta selama hampir 90 menit, kami melanjutkan naik taksi ke dermaga feri Nami Island. Tidak jauh. Tak sampai 10 menit dan hanya membayar argometer KRW 3.000 atau setara Rp 36.000 saja. Untuk sampai ke Pulau Nami, yang terkenal sebagai lokasi syuting drama Korea Winter Sonata itu, tiap orang membayar tiket masuk seharga KRW 8.000 atau lebih kurang Rp 96.000. Pulau ini bentuknya mirip Pulau Kumala di Tenggarong. Menyeberang pakai feri dengan waktu tempuh hanya 5 menit.

Destinasi wisata lainnya di dalam kota kami tempuh dengan Subway Metro, berpindah-pindah jalur dan menikmati perjalanan seperti layaknya penduduk lokal. Masuk ke stasiun bawah tanah, “merayap” ke stasiun tujuan, kemudian naik untuk jalan-jalan. Selesai jalan-jalan, cari stasiun terdekat, menjelajah lagi di bawah tanah.

Untuk pembayaran moda transportasi ini, kami membeli kartu T-Money, berbentuk seperti ATM yang bisa diisi ulang (top up) dan dapat digunakan naik subway dan bus kota. Tarifnya murah meriah. Lebih kurang KRW 1.000 (Rp 12.000) per trip dari satu stasiun ke stasiun lain. Kita tinggal menempelkan kartu di atas palang pintu menuju platform kereta, palang terbuka dan mesin akan mencatat titik awal perjalanan. Sesampai di stasiun tujuan, saat mau keluar kartu ditempelkan lagi di palang pintu dan mesin secara otomatis memotong “pulsa” T-Money dengan tarif sesuai jarak perjalanan yang ditempuh.

Dengan transportasi publik yang mudah, dan aplikasi mobile yang sangat informatif, sama sekali tidak membutuhkan local guide untuk perjalanan wisata di Seoul. Istri saya yang sebelumnya sudah pernah ikut perjalanan ke Korea bersama agen travel, mengaku perjalanan mandiri gaya backpacker ini malah menjangkau lebih banyak lokasi wisata, dibandingkan tur yang dia ikuti dua tahun lalu. Malah lebih bebas mengatur waktu karena tidak terikat jadwal yang ditentukan oleh guide. Tinggal membuat perencanaan perjalanan yang rinci jauh-jauh hari, sehingga sudah jelas mau pergi ke mana saja.

Selain ke Namsan Seoul Tower dan Nami Island, kami berkunjung ke Istana Gyeongbok, berfoto di area patung Raja Sejong di Gwanghwamun Square dengan latar belakang Gunung Bugaksan, cuci mata di Pasar Dongdaemun, mengeksplorasi sudut-sudut pusat belanja di kawasan Myeong-dong, Insadong, dan Namdaemun. Kami juga mampir ke kawasan Itaewon, yang terkenal sebagai kawasan muslim, dan sempat singgah di Masjid Central Seoul untuk salat Zuhur. Semua dijangkau dengan Metro Subway.

Tentu waktu tiga hari begitu terbatas untuk menjelajahi spot-spot menarik di sebuah kota. Tidak semua tempat bisa dikunjungi. Namun, pilihan melakukan perjalanan mandiri rasanya sangat tepat, selain memberi pengalaman sangat berharga menikmati gaya hidup orang Korea, juga tidak bikin kantong bolong. []

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.