Traveling Sekeluarga ke Korea dengan Biaya Seharga Satu Orang

Berwisata ke luar negeri kini tak lagi identik dengan biaya mahal. Semakin banyak promo-promo tiket penerbangan dan hotel murah yang bisa dimanfaatkan untuk menikmati liburan hemat bersama keluarga.

MUSIM gugur baru saja berlalu. Sisa-sisa dedaunan rontok dari pohon mapel yang meranggas masih berserakan di trotoar sepanjang kawasan Nonhyeon-dong, Gangnam, Korea Selatan (Korsel). Meski baru masuk musim dingin, aplikasi cuaca di smartphone saya sudah menunjukkan angka -3 (minus tiga) derajat celcius. Dingin menusuk sampai ke tulang.

Bersama istri dan kedua orangtua, saya memulai trip ke Seoul akhir pekan lalu. Tiket pesawat dan voucher hotel sudah dibeli sejak enam bulan sebelumnya. Ini berkah gerak cepat saat mendapatkan e-mail notifikasi promo dari AirAsiaGo, anak usaha maskapai AirAsia yang khusus berjualan paket-paket murah perjalanan wisata.

Promo-promo semacam ini memang selalu terbatas. Baik jumlah, periode pembelian, maupun kesempatannya. Maka berlakulah prinsip siapa cepat dia dapat; lengah sedikit, diambil orang. Terutama untuk destinasi favorit seperti Korsel dan Jepang, yang relatif masih lebih mudah untuk mengurus visa kunjungan dibandingkan visa ke negara-negara Eropa, Australia atau Amerika.

Dalam perjalanan kali ini saya mendapatkan paket promo penerbangan AirAsia Jakarta-Seoul PP. Ditambah penginapan selama tiga malam di Seoul, dengan biaya 175 USD per orang atau setara Rp 2.397.500. Biaya ini boleh dibilang hanya untuk membayar penginapan di hotel bintang tiga saja. Sedangkan tiket pesawat sebenarnya gratis. Ini terbukti, biaya paket bisa menjadi lebih murah atau lebih mahal, bergantung pilihan penginapannya.

Setelah browsing dan membaca review di sana-sini, saya akhirnya memilih Gangnam Service Residence. Hotel bintang tiga di kawasan sibuk Gangnam dengan kamar yang dilengkapi dapur full set; ada kompor gas dua tungku, microwave, ketel listrik pemanas air, peralatan memasak seperti panci dan wajan, dan alat makan. Masih ada bonusnya; mesin cuci yang dilengkapi tabung pengering.

Mengingat periode pemesanan terbatas sementara peluang harus direbut secepat mungkin sebelum diambil orang lain. Maka saat memutuskan memesan paket promo ini enam bulan lalu, saya harus langsung membayar di muka USD 700 untuk empat orang, atau setara Rp 9.590.000. Ini keputusan yang agak gambling sebenarnya, karena berani-beraninya beli tiket sebelum memiliki visa. “Tenang, visa Korea gampang kok,” kata Madeleine Sophie, pemilik Era Tour yang biasa jadi mitra Kaltim Post setiap melakukan tur ke luar negeri.

Tentu saja keputusan membeli paket perjalanan ala AirAsiaGo ini karena nilainya yang jauh di bawah pasaran biaya paket perjalanan ke Korsel, yang biasa dijual oleh agen-agen perjalanan dengan harga di atas USD 1.000 per orang. Syukurlah, urusan visa ternyata memang cukup gampang. Selesai dalam tiga hari kerja tanpa harus datang wawancara.

Tantangan berikutnya adalah bahasa. Bagaimana mungkin menjelajahi Seoul secara mandiri tanpa local guide? Istri saya, yang sebelumnya sudah pernah ikut tur ke Korsel bersama teman-temannya dengan jasa agen travel pada 2014, sempat khawatir juga. “Enggak semua orang Korea bisa bahasa Inggris lho. Apa enggak takut nyasar?” kata istri saya.

Lalu dia menghubungi local guide yang dulu menjadi pemandu grup wisatanya di Seoul. “Kita tanya-tanya dulu aja, kalo nge-guide empat orang biayanya berapa,” katanya. Di luar ekspektasi, si local guide memasang harga tinggi. Dia minta bayaran USD 450 per orang, untuk menjadi pemandu kami selama di Seoul. “Katanya sih hitungannya sudah termasuk antar-jemput bandara, sewa mobil dengan sopir, dan biaya masuk tempat wisata. Tapi belum termasuk makan,” ujar istri saya.

Tanpa pikir panjang, saya minta istri menolak tawaran si local guide. “Gila itu, dia pakai tarif private tour. Total 1.800 dolar, hampir tiga kali lipat lebih mahal dari biaya pesawat dan hotel. Kita jalan sendiri aja deh. Pasti bisa,” kata saya meyakinkan.

Maka selama enam bulan menunggu keberangkatan, saya sempatkan mempelajari Seoul dengan browsing di internet. Baca catatan-catatan orang yang pernah backpacker ke Korea, kemudian menyusun rute dan itinerary (rencana perjalanan) sendiri. Ada dua concern; soal bahasa, dan makanan halal.

Soal makanan halal akhirnya terselesaikan karena penginapan menyediakan dapur dengan peralatan lengkap. Kami memutuskan memasak sendiri untuk sarapan dan makan malam, sehingga tinggal mencari tempat makan siang saja, dengan asumsi pas jam makan siang posisi sedang jalan-jalan. Istri saya sangu bahan makanan jadi untuk tiga hari; rendang dan goreng tempe. Juga sup instan yang tinggal direbus sebentar untuk makanan pembuka. Ibu membawa abon ikan. Nasinya tersedia di convenience store yang buka 24 jam di samping hotel.

Hari pertama di Seoul kami makan siang dengan lahap di kamar hotel, sesaat setelah check in. Hari kedua, makan siangnya di Asian Family Restaurant di Nami Island, rumah makan berlogo halal di pulau wisata yang masyhur sebagai tempat syuting serial drama Winter Sonata itu. Menunya nasi goreng ala Indonesia. Hari ketiga, makan siang dengan menu ayam penyet di Rumah Makan Siti Sarah, restoran halal khas Melayu tak jauh dari Masjid Central Seoul di kawasan Itaewon.

Bahasa? Ternyata tak menjadi kendala berarti, sebab meski tidak semua orang Korea bisa berbahasa Inggris dengan baik, namun papan petunjuk di jalan dan tempat-tempat publik selalu menyertakan tulisan latin berbahasa Inggris, selain aksara hangul khas Korea. Dengan modal aplikasi peta online di smartphone, semua beres. Nyaris kami tak menjumpai masalah selama perjalanan.

Setelah dihitung-hitung, biaya trip backpacker-an ini boleh dibilang superhemat. Total tak melebihi biaya untuk satu orang apabila ikut tur reguler bersama agen travel. Semua senang. Ayah dan ibu saya, yang sempat bertanya-tanya seberapa mahal anaknya harus keluar duit untuk mengajak mereka jalan-jalan ke luar negeri, akhirnya tersenyum. “Kalo mahal sekali kada (tidak) usah aja gin, ibu di Samarinda aja,” kata ibu saat saya kabari perjalanan ke Korea ini. Ngomong begitu ketika tiketnya sudah dibeli hehe…

Penerbangan bertarif murah memang membuat semakin banyak orang bisa merasakan jalan-jalan ke luar negeri dengan biaya hemat. Bukan lagi ke negeri jiran yang dekat seperti Malaysia atau Singapura, tapi sampai ke Negeri Ginseng yang cuacanya empat musim. (bersambung)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.