Akhirnya, Kesampaian Nonton Opera di Broadway!

Seruas jalan yang berujung di kawasan sibuk Times Square New York ini adalah legenda. Orang dari seluruh penjuru dunia bermimpi ke sana; gedung-gedung teater yang selalu penuh meski memainkan lakon yang sama selama puluhan tahun. Yiihaaa, selamat datang di Broadway!

RABU malam, 18 Maret 2015, sehari sebelum menghadiri wawancara untuk pembuatan Visa Amerika di kantor Kedutaan AS di Jakarta, rombongan Kaltim Post Group (KPG) lebih dulu nonton teater di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM). Lakon Tabib dari Timur garapan budayawan Butet Kartaredjasa bersama Agus Noor dan Djaduk Ferianto itu begitu memukau.

“Mudah-mudahan semua dapat visa ke Amerika ya. Nanti pas di New York kita juga harus nonton teater. Nonton opera. Di Broadway!” kata Zainal Muttaqin, chairman Kaltim Post yang terus memprovokasi kami tentang betapa menariknya pertunjukan live di jantung kota New York itu.

“Anda semua sudah lihat pertunjukan teater di TIM, menarik sekali kan? Nah, Broadway lebih menarik lagi. Buktikan sendiri nanti,” kata Zainal, yang sejak belasan tahun lalu sudah beberapa kali menyaksikan pentas teater di Broadway.

Maka, Broadway pun masuk dalam listing prioritas untuk kami kunjungi dalam perjalanan tim KPG ke Amerika kali ini.

Hari pertama tiba di New York, setelah seharian perjalanan darat dari Washington DC dan mampir-mampir ke sejumlah kota yang dilalui seperti Baltimore, Delaware, dan Philadhelphia, kami sudah kepingin buru-buru ke Broadway. Tujuannya membeli tiket pertunjukan. Namun, gerimis yang membasahi New York pada Selasa sore 2 Juni 2015 bersuhu 11 derajat celsius itu mengurungkan niat tersebut. Hawa dingin, badan lelah. Rombongan memutuskan beristirahat saja dulu di rumah yang disewa di kawasan Brooklyn.

Kami baru menginjakkan kaki di Broadway keesokan harinya, ketika hari mulai gelap, sehabis seharian keliling New York dari kawasan kumuh Bronx hingga pulau kecil tempat berdirinya Patung Liberty di muara Sungai Hudson. Tidak ada lagi loket penjualan tiket yang buka. Sebagian pintu masuk gedung teater pun telah tertutup karena pertunjukan hari itu segera dimulai.

“Tiket go show tidak tersedia, semua sold out. Untuk pertunjukan besok sebaiknya pesan lewat online, itu pun kalau kalian beruntung masih kebagian tiket,” kata seorang petugas di lobi Minskoff Theatre, tempat dipentaskannya opera The Lion King, pertunjukan paling laris di Broadway. Gedung-gedung teater lain yang kami datangi memberi jawaban serupa.

Pencarian tiket di situs-situs penjualan tiket Broadway secara online baru dilakukan keesokan harinya, sambil sarapan pagi. Ini kesempatan terakhir karena waktu kami di New York tinggal satu malam saja, sebelum kembali ke Tanah Air. Kalau tidak dapat tiket hari ini, pupuslah harapan dan mimpi menyaksikan legenda Broadway, yang sudah terbayang-bayang sejak mengurus visa di Jakarta itu.

Pencarian tiket di situs online ternyata tidak semudah perkiraan. Selain kebanyakan situs sudah memasang tanda sold out pada tanggal yang kami inginkan, beberapa yang masih punya tiket juga menjual dengan harga sangat mahal. Itu pun dengan syarat voucher tiketnya akan diantar ke alamat yang harus di-input saat pembelian. Masalahnya, meski punya alamat jelas di Brooklyn, tidak ada orang yang bisa menunggu di rumah karena semua anggota rombongan ikut jalan keliling New York.

Pencarian akhirnya mentok di sebuah situs yang menyediakan penjualan tiket dengan cara order via telepon, dan tiketnya dapat di-print out di box office tempat pertunjukan berlangsung. Setelah dihubungi, bagian reservasi mengatakan hanya tersisa enam kursi saja, itu pun di bagian mezzanine (balkon tengah) dengan posisi duduk yang terpisah-pisah. Harganya? Juga sudah tidak murah: USD 157 atau lebih kurang Rp 2 juta!

Apa boleh buat, enam tiket pun kami pesan. Pembayaran menggunakan kartu kredit yang semua verifikasi datanya dilakukan via telepon. Karena hanya dapat enam tiket, sebagian anggota rombongan harus rela mengalah, tidak ikut nonton dan jalan-jalan saja di sekitaran Times Square menunggu enam orang yang nonton opera dua babak The Lion King tuntas selama dua setengah jam.

PALING LARIS
Meski ada puluhan pertunjukan setiap harinya di gedung-gedung teater di Broadway, pentas The Lion King di Minskoff Theatre tercatat menjadi yang paling laris saat ini. Drama musikal yang sudah diproduksi selama 18 tahun itu memang bukan satu-satunya favorit. Di gedung lain, pertunjukan seperti Les Miserables, Chicago, The Phantom of the Opera atau Aladdin, juga selalu ramai penonton.

Malam itu, sejauh pandangan mata kami, memang tidak terlihat satu pun kursi kosong di ruang pertunjukan Minskoff Theatre yang berkapasitas 1.597 penonton. Bahkan di luar pintu masuk, puluhan calon penonton yang tidak kebagian tiket juga masih antre menunggu tiket cancel dari penonton lain yang batal menonton dan mau menjual tiketnya. Meski orang yang batal menonton boleh menjual kembali tiketnya dengan harga lebih tinggi, tidak terlihat ada jasa calo tiket.

The Lion King merupakan drama musikal yang aransemen musiknya diciptakan Elton John. Pentas produksi Disney Theatrical ini disutradarai Julie Taymor. Selain di Broadway, dipentaskan juga di West End’s Theatre London sampai hari ini, dan telah melakukan tur ke berbagai kota di seluruh dunia sejak 1997. Drama musikal ini diadaptasi dari film dengan judul yang sama produksi Walt Disney pada 1994 –lalu di-remake versi HD pada 2002.

Bercerita tentang perjalanan seekor singa muda bernama Simba, yang terlahir sebagai raja di belantara Afrika, The Lion King versi drama musikal di panggung Broadway memang menampilkan kemegahan panggung, tata lampu, koreografi, dan tentu saja musik yang nyaris sempurna. Dengan slogan Hakuna Matata, bebunyian khas Afrika dan teriakan-teriakan atraktif para pemain, alur kisahnya sama dengan film kartun The Lion King yang sudah sangat populer itu.

Panggung Broadway berhasil memvisualisasikan gambaran dalam kartun animasi di film The Lion King, menjadi “pertunjukan hidup” yang benar-benar seperti nyata. Penonton dibawa dalam suasana rimba belantara Afrika, dengan kostum binatang-binatang seperti singa, gajah, dan jerapah, dalam ukuran dan bentuk semirip mungkin. Untuk seekor jerapah, misalnya, diperankan pemain yang kaki dan tangannya disambung tongkat serupa engrang, lalu terlihat seolah-olah berjalan dengan empat kaki.

Magnet The Lion King di Broadway memang bukan sekadar jalan cerita, karena toh alurnya sama, dan hampir semua orang sudah pernah menonton filmnya. “Saya nyaris hafal jalan cerita The Lion King, sering sekali nonton kartunnya, tapi tetap penasaran dengan pentas di Broadway ini. Menyaksikan langsung aksi Scar menjebak Simba di atas panggung, seperti melihat adegan nyata di dalam sebuah hutan dan saya berada di sana, sungguh luar biasa,” kata Anthony, seorang turis asal Jakarta yang bertemu rombongan KPG saat bubaran pentas The Lion King.

“Dari dulu, ya, koreografi dan alur ceritanya seperti ini. Hanya bertambah background layar digital, jadi terasa lebih dramatis,” kata Zainal Muttaqin, yang bernostalgia dengan pertunjukan sama yang disaksikannya di Broadway belasan tahun lalu. Kami pun, sebagian rombongan yang beruntung bisa menyaksikan opera paling laris di Broadway ini, seperti kehabisan kata-kata.

Penonton yang memenuhi Minskoff Theatre memberi standing ovation panjang saat pentas berakhir yang disambut lambaian tangan dan senyum puas para pemain The Lion King. Mereka, para pelakon yang tampil all out itu, pasti memiliki kebanggaan yang lebih hebat dari kami yang menjadi penonton saja bangganya sudah bukan main.

Di luar Minskoff Theatre, Broadway malam itu penuh sesak manusia, sebagian besar penonton yang baru selesai menyaksikan pentas dari gedung-gedung teater di sepanjang jalan tersebut. Di beberapa sudut tampak para pelakon masih dengan kostum panggung bercengkerama dengan penonton. Broadway memang bukan saja menjadi idaman para pencinta seni pertunjukan dari seluruh dunia, tetapi juga impian pelaku seni peran, yang berharap bisa tampil di salah satu panggungnya. (bersambung)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.