Menjelajah Negeri Paman Sam dengan Cita Rasa Indonesia

Perjalanan mandiri tanpa travel agent membuat agenda rombongan Kaltim Post Group (KPG) di Amerika bisa dibikin sangat fleksibel. Mau ke mana, ketemu siapa, makan apa, suka-suka. Bergantung selera.

BERUNTUNG sebelum memulai trip ini kami sempat kontak dengan Irawan Nugroho, mantan koresponden Jawa Pos untuk Amerika yang sudah lebih 20 tahun tinggal di Washington DC. Berkat bantuannya, banyak urusan dalam perjalanan di Negeri Paman Sam beres tanpa harus repot.

Salah satu yang utama, transportasi. Melalui Irawan, kami bisa menyewa mobil van besar berkapasitas 15 tempat duduk, sehingga cukup lapang diisi rombongan beranggotakan sebelas orang. Sebuah mobil Ford jenis E-350 warna hitam yang kami sewa dari Nextcars Rental. Van panjang yang begitu garang dan bentuknya mengingatkan kami pada mobil yang dipakai agen khusus CIA dalam film The A-Team.

Ternyata tidak mudah bagi orang asing menyewa mobil di Amerika, meski sudah dicoba dengan jaminan tiga kartu kredit. Akhirnya bisa dapat dengan menggunakan ID-card Irawan Nugroho dan deposit dari kartu debit Bank of America miliknya. Karena rental mobil di Amerika hanya menyewakan mobil tanpa sopir, maka Irawan sendiri yang membantu menyopiri rombongan KPG selama di Washington dan New York.

“Kebetulan saya juga pekan ini sedang tidak ada agenda dengan government,” kata Irawan, yang kini bekerja sebagai interpreter lepas di Kementerian Luar Negeri Amerika.

Tinggal di rumah sewaan dengan mobil van yang muat untuk seluruh rombongan, membuat perjalanan jadi benar-benar mudah. Hari kedua di Washington, misalnya, rombongan pergi salat Jumat ke Masjid Imaam, di kawasan Georgia Avenue di Silver Spring, Maryland, yang merupakan Islamic Center-nya komunitas Indonesia di Washington.

Masjid yang bangunannya merupakan bekas gereja dan dibeli pemerintah Indonesia pada 2014 itu benar-benar menjadi little-Indonesia di Washington DC. Suasana akrab komunitas Indonesia yang bertemu di tempat itu menjadi ajang silaturahmi dan sedikit memupus rindu pada Tanah Air. Di halaman masjid, remaja dan ibu-ibu membuka stan makanan Indonesia. Ada menu sate ayam dan nasi rames.

“Saya makan dulu nih, kepingin sate ayam. Lapar, belum sempat sarapan tadi,” kata Irawan, saat rombongan KPG asyik ngobrol dengan sejumlah orang Indonesia lain di halaman masjid sambil menunggu waktu salat Jumat.

“Tiap hari Jumat memang ada yang jual makanan Indonesia di sini, lumayanlah buat obat kangen Tanah air,” kata Asikin, salah seorang pengurus Masjid Imaam.

Ihwal masakan khas Nusantara di Amerika ini memang menjadi pengalaman menarik rombongan. Selain setiap hari memasak sendiri di rumah yang kami sewa di Washington dan New York, tentu dengan menu ala Indonesia, kami juga menyempatkan mampir ke rumah makan Indonesia di dua tempat. Pertama di Indonesian Restaurant, yang terletak di 1725 Snyder Avenue Philadhelpia, saat mampir dalam perjalanan darat dari Washington menuju New York, dan kedua, di RM Bali Nusa Indah, di 9th Avenue New York, sebuah kawasan sibuk di pusat kota yang hanya berjarak tiga blok dari Times Square.

Menu di Indonesian Restaurant Philadelphia sungguh membangkitkan selera. Ada sop buntut, nasi pecel, sayur asem, tongseng kambing, sampai gado-gado. “Jauh-jauh ke Amerika makannya di warung Indonesia juga,” seloroh Rusdiansyah Aras, direktur Kaltim Post yang memesan seporsi gado-gado di Philadelphia.

Pada saat yang sama ada satu keluarga Indonesia yang sedang makan di restoran itu. Denny Suseno, namanya. WNI yang bekerja di Washington DC tersebut secara khusus datang ke Philadelphia bersama istri dan putri kecilnya, untuk makan di Indonesian Restaurant. “Bagi kami orang Indonesia yang tinggal di Amerika, Philadelphia ini surga kuliner, banyak rumah makan menyediakan masakan Indonesia di sini,” kata Denny.

Selesai makan, saat pamitan kepada kami, Denny terlihat menenteng dua kantong plastik merah besar berisi pesanan 10 porsi nasi dengan lauk ayam penyet untuk dibawa pulang. “Titipan teman-teman,” katanya.

Selain restoran tersebut, memang terdapat sejumlah rumah makan Indonesia lain di Philadelphia. Di antaranya, rumah makan Padang dan Manado. Maklum, cukup banyak orang Indonesia yang tinggal dan bekerja di kota terbesar di negara bagian Pennsylvania ini. “Kebanyakan buruh pabrik,” kata Ruddy Juliono, pengurus Masjid Al-Falah, masjid komunitas Indonesia di Philadelphia yang sempat disinggahi tim KPG untuk melaksanakan salat Zuhur.

Di New York, RM Bali Nusa Indah menyediakan menu yang lebih komplet lagi. Lengkap dengan kudapan seperti pisang goreng dan onde-onde. Bukan hanya orang Indonesia, warga setempat dan turis dari berbagai negara juga suka makan di restoran itu untuk mencicipi kuliner Nusantara. Menurut seorang pelayannya, menu yang paling sering dipesan adalah gado-gado. Mungkin karena dianggap mirip-mirip “salad sayuran” dengan saus kacang.

Makan menu Indonesia yang dimasak sendiri di tempat home stay dan mencicipi kuliner restoran Indonesia selama di Amerika, praktis membuat perjalanan tim KPG di Negeri Paman Sam ini tetap bercita rasa Indonesia. Tidak ada yang harus kelaparan apalagi sakit karena tidak cocok dengan makanan, seperti yang biasa dikeluhkan orang saat traveling ke luar negeri.

Meski begitu, kami juga tetap mencoba menu khas Amerika. Setelah berkunjung ke Patung Liberty, misalnya, rombongan yang sudah lapar dan melewatkan jadwal makan siang, memutuskan mampir ke gerai Subway di dekat Battery Park, memesan menu khas sandwich tuna di restoran cepat saji tersebut. Cukup untuk mengganjal perut.

Pada hari yang lain, kami mencoba menu beef steak di restoran TGI Fridays di Fifth Avenue, berusaha melahap irisan dagingnya yang tebal dengan tambahan seporsi besar mash potato. Lezat, meskipun sesampai di rumah sebagian anggota rombongan tetap mencari nasi dan telur dadar, karena katanya apapun yang dimakan selain nasi akan tergolong camilan, dan itu hanya mampu mengisi sebagian ruang di lambung he-he-he…

Irawan Nugroho bercerita, meski tidak sebanyak jenis Chinese Food, saat ini bahan makanan untuk memasak menu Indonesia relatif semakin mudah diperoleh di Amerika. Bahan seperti tahu dan tempe pun tersedia di toko-toko tertentu, terutama yang berlabel Asian Grocery. Kalau sedang kangen kuliner Nusantara dan ingin praktis, tinggal datang ke restoran Indonesia, dengan risiko lebih mahal dibandingkan memasak sendiri. (bersambung)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *