Sarapan di Eropa, Makan Siang di Bosphorus, Makan Malam di Asia

Menikmati Peradaban di Istanbul, Turki (1)

DUA BENUA – Selat Bosphorus yang membelah Istanbul, difoto dari Camlica Hill di sisi Asia. Di seberang sana itu adalah Eropa. (foto: windede)

Pesona timur dan barat dalam satu negara. Itulah Turki, yang sebagian wilayahnya berada di Eropa, sebagian lagi Asia. Kontras dengan sisa-sisa kota kuno dari peradaban masa lalunya yang kaya, Istanbul hari ini menawarkan segenap modernitas yang menggoda.

Tetap kudengar suara laut samudera
Kurindu pasirnya dan baunya
Tetap pikiranku tinggal kesasar
Apakah dasarku…
Timur atau Barat…

POTONGAN lagu berjudul Anak Kecil ini digubah Daniel Sahuleka saat umurnya 25 tahun, lebih dari tiga dekade silam. Dari negeri jauh di Belanda, penyanyi berdarah Sunda-Ambon ini seolah mempertanyakan jati dirinya; Timurkah dia, atau Barat.

Lahir di Semarang 6 Desember 1950, Daniel kecil sudah diboyong kedua orangtuanya ke Belanda pada usia 10 bulan. Darahnya timur. Tak terbantahkan. Tapi jiwanya barat.

“Anak dewasa datang dari barat/Cari bekasnya cari akalnya/Pemandangan dari negeri asalnya/Itu meleleh di air matanya/Inilah dia antara dua dunia…”
Daniel, yang terlahir dari orangtua pasangan asli Indonesia, akhirnya harus menerima kenyataan bahwa ia memang orang timur, tapi juga sekaligus barat.

Lalu terbanglah kita ke Turki. Andai saja penduduk negeri kebab itu mendengar syair lagu Daniel Sahuleka yang diiringi musik sederhana dari solo gitar akustik ini, mereka mungkin akan merasa sangat terwakili. Meski sebenarnya hanya lebih kurang 5 persen saja wilayah Turki yang secara geografis termasuk Eropa, orang-orang Turki dengan sangat bangga menyebut diri mereka sebagai warga dua benua.

“Inilah negara yang menjadi jembatan penghubung peradaban timur dan barat. Dalam arti sesungguhnya,” kata Erkan Ezgur, pemuda Istanbul yang mendampingi perjalanan saya ke Turki, akhir April lalu.

Tapi memang yang 5 persen itu pun dominan sekali. Begitu melegenda sebagai jalur batas timur-barat. Perlintasan niaga sejak masa silk-road (jalur sutra) dan saksi panjang sejarah peradaban dunia. Di wilayah itulah hingga hari ini masih terdapat sisa-sisa situs kuno dari zaman Byzantium pada abad lampau (tahun 663 sebelum masehi), lalu menjadi Konstantinopel pada abad pertengahan (tahun 330 M), dan selanjutnya menjadi Istanbul pada abad modern (tahun 1453) sampai sekarang.

Di atas kapal fery melintasi selat Bosphorus.

Maka jangan heran bila yang akan kita temukan di Istanbul adalah campuran eksotisme Asia dan megahnya Eropa. Yang bisa langsung terlihat adalah rupa dan perawakan penduduknya. Postur tubuh kebanyakan orang Turki yang besar-besar itu mewakili ras Kaukasoid. Hidung mancung bertulang tinggi dengan rahang tegas. Tapi mata tidak biru, rambut tidak pirang dan kulit tidak seputih ras Kaukasoid di Eropa pada umumnya.

Meski pada beberapa kelompok tampak juga seperti Arab, namun garis wajah sebagian besar orang Turki masih dipengaruhi ras Mongoloid yang cukup jelas. Seolah mewakili komuni barat dan timur sekaligus.

Akar bahasanya yang Arab-Persia dimodernisasi dengan penulisan huruf latin yang dimodifikasi. Sehingga meskipun secara verbal dialognya masih terdengar sebagai bahasa Arab, Turki memiliki aksara sendiri yang khas, yang merupakan perubahan dari aksara Arab. Misalnya, mereka menulis jami’ dengan camii, haji dengan hac.

Bukan saja menjadikan Turki sebagai negeri sekular, bapak modernisasi bangsa itu, Mustafa Kemal, juga dikenal sebagai penggagas revolusi linguistik yang cukup berhasil dan akhirnya ikut mendorong perubahan besar-besaran kehidupan penduduk Turki.

Orang Istanbul menyebut sisi Asia Turki sebagai Anadolu, dan Avrupa untuk sisi Eropa. Sejarah tua peradaban terpusat di wilayah Avrupa ini. Begitupun kemegahan modernitasnya. Saat melintasi selat Bosphorus dengan menumpang kapal wisata, kita bisa melihat gedung-gedung dengan arsitektur modern menjulang di antara bangunan-bangunan kuno peninggalan Konstantinopel, berebut memenuhi kepadatan lanskap di sisi Eropa.

Sedangkan di sisi Asia yang relatif berbukit, tampak lebih hijau, dengan bangunan-bangunan lebih baru dan kawasan permukiman penduduk yang indah menghadap Laut Marmara.

“Di sisi Asia, orang masih bisa tinggal di rumah dengan bangunan tunggal di perumahan. Di sisi Eropa tidak bisa. Kita harus tinggal di flat atau apartemen,” cerita Erkan.

Istanbul sisi Eropa memang menjadi pusat kota. Bandara utamanya, Ataturk Airport, ada di wilayah ini (di sisi Asia ada bandara yang lebih kecil, Sabiha Gokcen Airport). Begitu juga kawasan niaga seperti Grand Bazaar dan Spice Market, serta pusat kunjungan turis macam Topkapi Palace, Museum Ayasofya, Masjid Biru (Blue Mosque) dan Masjid Suleimaniye. Rombongan Kaltim Post Group pun selama di Istanbul menginap di Hotel Vicenza yang berada di sisi Eropa.

Maka saat di Istanbul kita bisa melakukan aktivitas di dua benua dalam satu hari. Sarapan pagi dengan set menu ala barat di Eropa, makan siang dengan sajian seafood di pinggiran selat Bosphorus, kemudian dilanjutkan sorenya menyeberang ke sisi Asia dan makan malam di sana dengan kuliner khas Chinese Food. Selesai makan malam, balik lagi ke Eropa.

Meski bangga menjadi warga dua benua, konon orang Turki terutama anak mudanya cenderung lebih suka dianggap sebagai orang Eropa. Ini terlihat dari gaya hidup, cara berpakaian, selera kuliner dan pola pikir mereka yang semakin “barat”.

Berpose di tengah keramaian Taksim Square. Terasa sangat Eropa.

Kalau kita jalan-jalan ke Taksim Square, sebuah pusat keramaian di Istanbul yang suasananya mirip Orchad Road-nya Singapura atau Nanjing Road-nya Shanghai, kita bisa lihat anak-anak muda Turki dengan style yang Eropa banget lalu-lalang memenuhi jalan.

Meski 95 persen beragama Islam, gadis-gadisnya berpakaian terbuka, tanpa jilbab atau busana tertutup seperti lazimnya terlihat di negara lain yang berpenduduk mayoritas muslim. Kehidupan malamnya juga gemerlap. Pertunjukan belly dance (tari perut) bisa dengan mudah ditemukan di ruang-ruang kafe dan rumah makan. Klub malam seperti bar dan diskotek beroperasi hingga dini hari di sepanjang kawasan bernama Jalan Istiklal.

Petang hari di pengujung April itu, di tengah hiruk-pikuk Taksim Square yang hedonis dan sekular, langit baru menjingga pada pukul 8 malam. Senja yang terlambat datang seperti malas mengantarkan matahari terbenam. Suara azan maghrib membahana dari menara camii di sudut-sudut Istanbul. Tapi orang-orang tetap berlalu-lalang. Asap shisa menguar bersama aroma parfum dan bau bakaran jagung. Azan selesai, hanya seperti senandung senja yang rutin, dan Taksim Square tetap ramai.

Timur dan Barat akhirnya memang seperti berasimilasi di Istanbul. Berpadu menjadi sesuatu yang baru. Tak lagi setegas batas perbedaan yang dipertanyakan Daniel Sahuleka dalam lagunya yang galau itu. (bersambung)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Satu tanggapan untuk “Sarapan di Eropa, Makan Siang di Bosphorus, Makan Malam di Asia

  • 22 September 2013 pada 16:52
    Permalink

    semoga suatu saat,sayapun bisa berkunjung..

Komentar ditutup.

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.