Masuk Hotel Bintang Lima, Barang Tak Diperiksa

BEBAS: Dewa Pahuluan di depan Hotel Sheraton Saigon. Bisa keluar-masuk tanpa diperiksa.

Menjelajah “Wisata Perang” Vietnam (1)

Setelah bangkit dari perang saudara berkepanjangan, Vietnam kini menjadi negeri tujuan wisata penting di Asia. Yang dijual bukan sekadar panorama alam atau pantai. Tetapi peninggalan bekas perang.

JUMAT pagi, 17 Juli 2009. Baru beberapa menit di dalam taksi dari rumah menuju bandara Soekarno-Hatta Jakarta, sebuah pesan masuk di HP saya. “Ada ledakan di Ritz Carlton dan JW Marriott, ini lagi rame di tivi…”

Pengirim pesan adalah Dewa Pahuluan, sahabat saya dari Banjarbaru, Kalsel yang baru tiba di Cengkareng dengan penerbangan pagi. Hari itu, saya bersama Dewa berencana terbang ke Ho Chi Minh City, Vietnam. Setiba di bandara Dewa langsung check in di Hotel Transit Terminal 2 Soekarno-Hatta, karena penerbangan ke Vietnam masih 3 jam lagi. Saat di kamar hotel itulah Dewa menonton televisi yang tengah memberitakan adanya ledakan.

Saya pun meminta sopir taksi menyalakan radio. Mencari informasi mengenai ledakan itu. Sudah ada beberapa radio berita yang menyiarkan, meski belum detil ledakan apa dan bagaimana dampaknya. Karena sehari-hari mengelola kantor berita grup Jawa Pos (JPNN), saya menghubungi sejumlah redaktur untuk mengerahkan sebanyak mungkin reporter dan fotografer meliput kejadian itu.

Black Friday 1707 itu memang di luar dugaan. Setelah pemilu presiden yang berlangsung relatif aman, orang tak menyangka teror bom mengguncang Jakarta. Kepanikan menjalar begitu cepat hingga pemeriksaan masuk bandara diperketat. Akses ke hotel-hotel berbintang lebih sulit dari biasanya. Kawasan Mega Kuningan tempat hotel JW Marriott dan Ritz Carlton berada ditutup sementara.

Sesampai di bandara, saya menyaksikan orang-orang ramai menonton televisi, yang mulai berlomba membuat siaran langsung dari lokasi ledakan. “Jahat sekali. Jahat sekali,” kata seorang ibu di depan tivi publik yang tersedia di banyak sudut di bandara. Sudah ada kepastian yang meledak adalah bom, maklum sebelumnya dikira ledakan dari genset.

Saya bergegas menyusul Dewa di Hotel Transit, yang letaknya tak jauh dari terminal keberangkatan internasional. Masih ada 1 jam sebelum waktu check in tiket. “Bom meledak, tapi kita ‘kan tetap harus berangkat,” seloroh Dewa.

Perjalanan ke Vietnam dimulai dengan flight Jakarta-Singapura, lalu dilanjutkan ke Bandara Internasional Tan Son Nhat, Saigon. Di mana-mana yang dibicarakan orang adalah bom yang menyalak di Jakarta. Saat transit di Bandara Changi Singapura dan bertanya mengenai pintu keberangkatan di pusat informasi, petugasnya pun berkata: “Ada bom lagi ya di negara Anda?”

Di lift menuju kamar hotel, mungkin karena Dewa memakai baju PSSI bertuliskan Indonesia lengkap dengan lambang Garuda di dada, seorang turis asal Australia menyapa kami dalam bahasa Indonesia yang fasih. “Apa kabar? Bagaimana Indonesia? Bom lagi?”

Rupanya, berita ledakan bom di Jakarta begitu cepat menyebar. Tapi tak semua bereaksi. Contohnya adalah Hotel Sheraton Saigon, tempat kami menginap. Tak ada pemeriksaan apa-apa untuk masuk atau keluar hotel berbintang lima ini. Saya dan Dewa melenggang masuk hotel dengan tas ransel di pundak masing-masing. Berbeda sekali dengan hotel-hotel di Jakarta, yang telah sejak lama menerapkan standar pemeriksaan barang bawaan dengan metal detector.

Tetapi begitulah Vietnam. Negeri yang penduduknya telah kenyang hidup dalam suasana perang yang menakutkan. “Sekarang, semua sudah safe, sudah aman. Tak ada apapun yang perlu membuat kami khawatir,” kata Nguyen Tanh, pemuda Vietnam yang menemani kami keliling Ho Chi Minh City.

Saat saya tanya lagi tidakkah orang Vietnam takut dengan ancaman aksi terorisme, seperti halnya ketakutan banyak penduduk negeri di belahan bumi lain saat ini, Tanh tertawa lebar, lalu berujar: “Terorisme untuk apa lagi? Negeri kami sudah hidup dalam teror perang yang berkepanjangan. Sekarang saatnya menikmati hidup damai.”

Memang tak ada tanda-tanda bekas perang, yang baru berakhir di tahun 1975 setelah bertahun-tahun memorakporandakan kota di dekat Delta Mekong ini. Ho Chi Minh City (dulu bernama Saigon) saat ini tampak sedang bersolek menjadi kota modern, dengan gedung-gedung tinggi dan pelebaran jalan yang tengah dikerjakan di mana-mana.

Meski begitu, bukan berarti bekas perang tak bisa kita saksikan. Justru ini yang jadi “dagangan” utama wisata Vietnam. Paket-paket wisata menapaktilasi perang Vietnam ditawarkan dengan agresif. “Negeri ini baru saja hancur oleh perang. Sekarang kami bangkit dan menjadikan sejarah sebagai pelajaran berharga,” begitu bunyi sebuah kalimat di brosur wisata, yang dibagikan saat kami tiba di terminal bandara Tan Son Nhat.

Lalu saya dan Dewa merancang sebuah penjelajahan. Menikmati “wisata perang” di negeri yang pemerintahannya secara absolut dikuasai Partai Komunis ini. (bersambung)

Win Dede

Win Dede aka Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, kini bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

You may also like...

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading Facebook Comments ...

No Trackbacks.