Terbentang dari Semenanjung Melayu di selatan hingga Chiang Mai di utara, Thailand adalah negara dengan bermacam pesona. Ekonomi bangsa monarki yang dulu bernama Siam ini terus digenjot lewat potensi wisata; bertarung melawan eksotisisme Bali di Indonesia, Genting Highland nan romantik di Malaysia, juga gemerlapnya negeri kota Singapura.

USAHA Thailand menjual potensi wisata sudah terasa sejak saya bersama dua kawan tiba di Bandara Suvarnabhumi Bangkok, setelah penerbangan tiga jam lebih dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, akhir pekan lalu. “Welcome to Thailand, The Land of Smile”, begitulah neon sign besar menyambut kami di depan pintu imigrasi, meski petugas imigrasi yang melayani pemeriksaan paspor ternyata tak menampakkan senyum samasekali.

Bandara Suvarnabhumi (baca: Suu-wanaa-poom) adalah bandara baru di Bangkok, dibangun dengan arsitektur ultra-modern dan mulai dioperasikan sejak akhir 2006, menggantikan Bandara Don Muang yang kini hanya melayani penerbangan domestik antarprovinsi Thailand. Berada di dalam bandara ini serasa jalan-jalan di mal, karena bentuknya yang mirip pusat belanja, udaranya yang super-dingin oleh penyejuk ruangan di mana-mana, toko-toko suvenir dan kedai kudapan, juga lantai marmernya yang putih mengilap.

Atap lancip bangunan kuil Wat PhoSeperti halnya bandara lain di kota-kota yang jadi kunjungan wisata, Suvarnabhumi dipenuhi kios penukaran uang asing, loket penjualan voucher kamar hotel berdiskon, layanan taksi dan angkutan umum, juga tawaran paket-paket wisata dari perusahaan jasa travel. Kami melewatkan semuanya karena saya sudah menyiapkan keperluan selama di Thailand lewat internet. Mulai pick up service dari bandara ke kota, hingga pilihan hotel dengan kamar model triple occupancy, satu ruangan dengan tiga tempat tidur.

Internet memang telah merevolusi banyak hal. Pemesanan tiket pesawat, kamar hotel, mobil carteran lengkap dengan sopirnya, bisa diselesaikan di depan layar komputer. Langsung tanpa calo. Cukup reservasi online dan bayar dengan kartu kredit.

Setiba di Bangkok, setelah melewati pemeriksaan imigrasi setempat, kami langsung disambut Natarwat Wongsmutra, seorang pemuda Thailand yang dengan bangga menyebut dirinya webmaster. “Just build my small bussiness,” katanya merendah. Bisnis kecil yang dimaksudnya adalah jasa antar-jemput, dengan tarif yang dijaminnya lebih murah dari taksi biasa.

Natarwat mempromosikan usahanya itu lewat internet, dan mengurus sendiri teknisnya di lapangan. Saya menemukan jasa yang ditawarkannya di mesin pencari Google. Sesuai reservasi yang saya lakukan sebelumnya, dia akan melayani semua keperluan transportasi kami selama di Thailand. Menjemput dari bandara ke hotel di tengah kota Bangkok, mengantar dari Bangkok ke Pattaya, menjemput pulang dari Pattaya ke Bangkok, dan mengantarkan kembali ke bandara. Total biaya: 4600 baht. Lebih kurang Rp1,2 juta bila dirupiahkan. Sesuai perjanjian, biaya ini dibayar tunai saat kami bertemu di Bangkok.

Sempat ada keraguan, apakah transaksi ini aman. Jangan-jangan, setelah diantar ke hotel, Natarwat dan sopirnya hilang dan tak menjemput kami lagi untuk trip berikutnya ke Pattaya. “Believe me, please,” katanya singkat. Saya mengangguk, begitu juga dua kawan yang lain. Kami bayar 4600 baht sambil berharap tidak ditipu.

Betapa gembiranya karena harapan itu benar-benar terwujud. Bukan saja datang tepat waktu, sopir yang menjemput kami pada trip berikutnya juga ramah dan bisa berbahasa Inggris. Semua trip menggunakan sedan Volvo matic, berbahan bakar elpiji dan dikemudikan dengan nyaman sehingga selama perjalanan dari Bangkok ke Pattaya maupun Pattaya ke Bangkok, kami tertidur pulas. Sesekali, Natarwat menelepon, sekadar menanyakan apakah perjalanan kami aman dan apakah ada keluhan.

Interior Bandara Suvarnabhumi Bangkok

“Kalau layanan kami baik, Anda pasti bercerita kepada orang lain, dan saya akan mendapat banyak pelanggan baru dari rekomendasi Anda,” katanya beralasan. Dengan bergantung pada kunjungan turis, Natarwat paham betul bahwa melayani tamu sebaik mungkin akan membawa dampak positif bagi perkembangan usahanya di masa depan. Inilah juga yang dilakukan masyarakat Bali, yang terkenal ramah menyambut tamu. Tidak seperti penduduk sebagian kota yang kerap bikin jera tamu sehingga orang enggan berkunjung kembali.

Di Thailand, model bisnis SOHO (small office home office) seperti yang dijalankan Natarwat lumayan ramai akhir-akhir ini. Apalagi internet telah memudahkan segalanya. Ada yang jadi agen transportasi, agen pemesanan kamar hotel, juga paket-paket panduan wisata. Dikerjakan hanya oleh satu atau dua pegawai, rata-rata anak muda berusia tak lebih 30-an tahun, dengan jangkauan layanan tanpa batas di seluruh dunia. Selain memudahkan, harga yang ditawarkan pun relatif lebih murah ketimbang memesan lewat agensi umum. Apalagi kalau datang go show, langsung memesan kamar hotel di resepsionis, atau memesan taksi di bandara, misalnya.

Jasa pick up service dari Bandara Suvarnabhumi ke kota Bangkok, berada di kisaran 1000-1500 baht. Sedangkan mobil carteran dari Bangkok ke Pattaya atau sebaliknya, antara 2000 hingga 3000 baht sekali jalan. Hitung sendiri untuk membandingkan dengan harga yang diberikan Natarwat kepada kami: 4600 baht untuk semua trip.

Gambaran yang lain, kamar hotel kami di Bangkok, Baiyoke Sky Hotel, bertarif tak sampai Rp1 juta semalam (untuk satu kamar bertiga), padahal ini adalah hotel bintang 5 di pusat kota yang bangunannya merupakan gedung tertinggi di Bangkok saat ini (kami kebagian kamar di lantai 46, dan sarapan pagi prasmanan gratis di restoran lantai 78!). Semua dipesan melalui internet. Kalau datang sendiri dan memesan kamar langsung di resepsionis, tarifnya bisa sampai Rp3 juta semalam. Itu pun kalau beruntung masih dapat kamar.

Melalui internet pula kami memesan tiket pesawat Jakarta-Bangkok-Jakarta, yang jauh lebih murah dibandingkan membelinya di travel agent. Dengan internet kami mencari-cari informasi apa saja yang perlu dikunjungi di Thailand, tempat-tempat wisata yang menarik di Bangkok dan Pattaya, sampai akhirnya pilihan jatuh pada rencana menyaksikan atraksi binatang dan, upss… show manusia! Apakah gerangan? (bersambung)