Cetak Artikel Ini
| Artikel ini sudah dibaca 0 kali
Terompet Tahun Baru
Ditulis 31/12/07, Kategori Budaya, Esai.
MATAHARI terik. Meski tanah masih basah bekas hujan malam tadi, debu di aspal jalanan tetap berterbangan diseret roda kendaraan. Lelaki paruh baya berkulit legam itu menyeka wajah dengan kain lengan bajunya yang kuyup. Keringat dan debu bercampur. Menyisakan bekas garis-garis hitam di lengan baju itu.
Entah sudah berapa jauh dia melangkahkan kaki. Bukan langkah kosong sebab di pundaknya terpanggul sepotong bambu yang menyangga tumpukan terompet, topi kuncup dari kertas warna-warni, dan topeng aneka rupa. “Sudah laku beberapa. Tapi belum memenuhi target,” katanya.
Lelaki itu datang dari kota-kota di Jawa. Menyeberang dengan kapal laut ke Kalimantan di awal Desember lalu, membawa dagangan khas yang sulit dijumpai pada bulan-bulan lain sepanjang tahun; terompet dan asesori pesta tahun baru. Ia tentu tidak sendiri. “Rombongan saya saja dua puluhan orang.”
Mereka dimodali tiket perjalanan, sedikit sangu, kemudian barang dagangan yang harus laku dalam jumlah tertentu. “Kalau nggak laku ya dapat capeknya saja.”
Sesampai di tanah rantau, ia dan kawan-kawannya menyebar. Menjaja benda yang umur jualnya hanya sampai di akhir tahun. Setelah itu, dagangan mereka menjadi kertas biasa. Tunggu hingga berjumpa Desember lagi untuk membuatnya kembali berharga.
Pedagang-pedagang terompet, yang hari-hari terakhir ini kita jumpai di sudut-sudut pasar, di ruang-ruang publik, juga taman kota, adalah wakil dari pesta raya bernama tahun baru. Peradaban manusia terlanjur menganggap istimewa pergantian tahun, sebuah hitung-hitungan waktu yang didasari ketekunan bumi mengitari matahari sembari terus berputar di porosnya sendiri.
Padahal pergantian tahun, kalau mau disederhanakan, hanyalah pergantian lembaran almanak yang telah kusam setelah 365 hari mengawal hidup kita. Semacam penanda bahwa masa telah berganti dan segeralah beli kalender baru; ketika hari ini telah menjelma jadi silam, dan esok berubah menjadi sekarang. Tiga yang selalu saja berpotensi menikmati keistimewaan tahun baru adalah mereka: pedagang terompet, pembuat almanak, juga pemilik tempat hiburan di mana pesta-pesta dilaksanakan.
***
Begitu banyak orang yang memaknai tahun baru sebagai pesta atas anugerah kepanjangumuran, dan untuk itu perlu ada perayaan meski sekadar membakar jagung atau ikan di halaman rumah, sambil menunggu jarum jam bergeser melewati pukul 00.00, dan setelah itu kehidupan baru dimulakan.
Ada lebih banyak lagi yang menjejalkan diri dalam kemacetan tak terhingga di jalan-jalan dari pinggiran hingga pusat kota, adu nyaring klakson kendaraan, saling sahut suara mercon dan pesta kembang api, larut dalam tawa riang seakan-akan inilah memang ritual terbaik menyambut tahun baru.
Sedikit yang ingat dan berkesadaran melakukan perenungan-perenungan, sudahkah hidup setahun lalu membawa faedah? Apa saja di masa kemarin yang perlu menjadi pelajaran, apa pula rencana-rencana esok demi hidup yang lebih baik di masa depan? Meski refleksi dan evaluasi mestinya tak menunggu tahun berganti, paling tidak inilah seharusnya yang membudaya di setiap akhir tahun. Bukan saja di masyarakat, tetapi juga lembaga-lembaga layanan publik.
Kita, misalnya, patut berharap wakil rakyat kita menggelar sidang paripurna dengan tajuk, katakanlah, refleksi akhir tahun, demi merenungi apa saja yang telah diperbuat untuk rakyat selama 365 hari yang telah lewat. Sudahkah puluhan miliar rupiah dana APBD yang tersedot di gedung legislatif sebanding dengan kerja dan pengabdian mereka?
Kita rindu sekali melihat pejabat-pejabat eksekutif duduk dalam sebuah rapat kerja membahas kinerja setahun berselang, bukan saja untuk evaluasi, tetapi juga menyusun rencana-rencana strategis tahun depan.
Di atas itu semua, kita sebenarnya mengharapkan juga ada pelibatan publik yang lebih maksimal, dalam refleksi dan evaluasi itu. Misalnya, ada upaya menjaring pendapat umum dari masyarakat, apakah penyelenggaraan pemerintahan selama setahun ini dianggap baik belaka. Semacam survei tingkat kepuasan publik begitulah, di mana dari hasil survey itu kelak diperoleh jawaban apa saja yang masih kurang dan perlu diperbaiki.
Faktanya? Hari-hari di ujung tahun begini, wakil rakyat kita banyak tak berada di tempat. Pejabat-pejabat eksekutif meliburkan diri bersama kebijakan nasional libur panjang akhir tahun. Organisasi-organisasi masyarakat dan pemuda sibuk menyusun proposal untuk mendapat bantuan sosial tahun depan. Partai-partai politik menghabiskan konsentrasi pada urusan usung-mengusung calon pilkada. Seperti sebelum-sebelumnya juga, pergantian tahun akhirnya tak lebih dari sekadar pesta memacetkan jalan.
***
Adakah makna yang lebih penting dari tahun baru kecuali kenyataan bahwa kita semakin tua dan terus saja menua? Kenanglah tahun baru 10 tahun yang lalu. Kemudian bayangkan tahun baru 10 tahun yang akan datang. Waktu sungguh tak bisa dibendung. Jangankan membuat kita serasa awet muda, menahan laju perjalanannya sendiri pun waktu tak bisa.
Itulah yang membuat tahun baru, seperti juga ulang tahun kelahiran, sering dianggap tak lebih dari pergantian angka dan susunan hari, sehingga bagi sebagian besar kita, tak perlulah urusan semacam ini dipikirkan rumit-rumit. Nikmati saja dengan pesta.
Maka, tahun baru selalu berlangsung tanpa kesan. Siklus per 365 hari itu akhirnya benar-benar terlewat begitu saja. Kenangan pergantian tahun tak bergeser dari rasa kantuk setelah begadang semalaman, hiruk malam yang pikuk di seluruh penjuru bumi, juga dendang lagu riang dan dansa tua-muda.
Di tengah bebunyian terompet tak berirama dan teriakan anak-anak kecil yang girang menyaksikan langit penuh cahaya dari kembang api saling silang, kita tak kunjung menemukan cara yang lebih baik merayakan tahun baru. Seperti halnya “esok” sering kita sambut tanpa persiapan, “kemarin” pun kerap kita tinggalkan begitu saja.
Kalaulah “esok” bisa dibeli, kita tentu tak perlu terompet, apalagi pesta. Tak perlu juga refleksi atau evaluasi, sebab kita bisa memilih hendak menjalani esok dengan jenis nasib seperti apa. Masalahnya, andaipun ada pedagang menjajakan esok, dengan macam-macam pilihan itu, apa kita mau membelanjakan segenap harta untuk membelinya?
Selamat tahun baru. Selamat menyongsong esok yang lebih baik. ***



selamat tahun baru. pergantian tahun memang waktunya merenung, usia sudah bertambah, semoga semakin tambah usia, semakin bermanfaat untuk sesama. amin
Selamat tahun baru boozz, mudahan rezeki dan kehidupan menjadi lebih baik pada tahun 2008.
met tahun baru….. semangat baru.. mari melangkah menuju ke arah yang lebih baik dari tahun2 sebelumnya.. amin
Selamat Tahun Baru 1429 Hijriah