Harga Mahal Pikiran Cabul
Betapa pentingnya ternyata pemenuhan atas pikiran cabul manusia, sehingga triliunan rupiah duit terhambur sepanjang tahun 2007 dalam transaksi konten pornografi ponsel. Ketika syahwat harus dibayar kontan, macam-macam cara bisa dilakukan. Dulu, bisnis esek-esek berbentuk nyata. Di gang-gang kumuh pelacuran, atau ruang-ruang binal penyedia jasa cinta semalam – yang selalu saja terserak di sesibuk apapun sebuah kota. Sekarang, ketidakterbatasan ruang dan mobilitas membuat segala hal bisa diselesaikan dalam imajinasi tak berujung; ya benda-benda maya entah internet atawa telepon genggam.
Jauh sebelum ada teknologi visualisasi berbentuk digital seperti sekarang, imajinasi manusia dituangkan dalam lukisan tubuh-tubuh telanjang, juga patung-patung yang disulap perupa menjadi seolah-olah nyata. Benda semacam ini, karena hand made dan diproduksi limited, lantas menjadi sangat mahal. Di banyak istana, raja-raja menyimpannya sebagai koleksi. Juga rumah orang-orang berpunya.
Sekarang segalanya sudah menjadi murah. Dari internet, konten pornografi bisa diunduh setiap waktu dari begitu banyak sumber. Mobile gadget juga tak kalah hebat. Pembagi data bluetooth misalnya mengedarkan ribuan file setiap detik dari ponsel satu ke ponsel lain tanpa pernah bisa terdata berapa jumlah pastinya. Sebuah video porno koleksi pribadi muda-mudi yang bocor ke tangan satu orang bisa tergandakan ke seluruh penjuru bumi hanya dalam hitungan hari.
Maka tak ada yang aneh sebenarnya, ketika sebuah berita menyebut industri konten pornografi menjadi begitu menggiurkan, sampai-sampai diprediksi menembus transaksi hingga Rp 32 triliun setahun pada 2010. Ini sungguh menakjubkan, sebab benda yang ditransaksikan sebenarnya tak berwujud. Hanya susunan bita demi bita yang kemudian mewakili rekaman ketelanjangan yang entah diproduksi dengan kesengajaan untuk komersialisasi, atau dari kecelakaan orang-orang yang mengabadikan momen pribadinya, tapi lantas beredar tanpa ampun dan menjadi konsumsi umum.
Saya kerap iseng memeriksa memory card ponsel kawan. Tentu saja kawan yang benar-benar dekat. Saya periksa folder demi folder, dan dengan penelitian alakadarnya, bolehlah dibikin sebuah kesimpulan; kalau ada 5 orang, maka 3 di antaranya hampir pasti menyimpan file porno di ponsel mereka. Biasanya video berekstensi 3gp yang sedang heboh karena baru saja beredar. Eh, tapi jangan bikin tuduhan bahwa saya banyak berteman dengan orang-orang berpikiran cabul ya hehehe… Sebab sesungguhnya kecabulan adalah milik kita semua.
Cara orang menikmati kecabulan memang bergeser. Film-film di kaset video atau cakram digital yang menampilkan film bokep berdurasi lengkap dua kali 45 menit, misalnya, sekarang sudah mulai ditinggalkan. File-file pendek MPEG atau AVI yang bisa diunduh cepat dari internet, atau dibagi lewat mailing list lantas berpindah ke ponsel, menjadi pilihan paling praktis. Sebagian adalah barang gratis. Sebagian lagi, biasanya karena label eksklusif, bisa berharga premium. Dan selalu tak sepi pembeli.
Lelaku manusia selalu menjadi inspirasi bisnis. Itulah pula yang membuat industri terkait pornografi senantiasa berkembang pesat. Transaksi situs xxx berbayar mahal tak kalah sibuk dengan jual-beli konten cabul di ponsel, juga party line dan tabloid-tabloid mesum yang masih saja dapat pelanggan. Selalu ada peluang usaha di tengah ketidaksanggupan sebagian besar manusia mengendalikan syahwat berahinya.
Bagaimana dengan Anda?
