Mengingat Lupa

Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa. (Milan Kundera)

BANYAK orang beruntung karena memiliki ingatan luar biasa. Tetapi lebih banyak lagi manusia yang mudah lupa; sengaja melupakan, atau terpaksa terlupa. Ada yang menjadi kelupaan permanen, ada pula kelupaan sementara, yang dengan pemicu tertentu bisa bangkit lagi dalam ingatan.

Lupa terutama sekali akan terjadi pada peristiwa-peristiwa kecil, terlalu sederhana dan tidak penting, sehingga saraf pengingat di balik batok kepala kerap terlewat merekamnya. Atau, kalaupun benar-benar terekam, akan nyelempit entah di ruang ingatan yang sebelah mana.

Dengan cara tertentu kita sebenarnya bisa menghindari lupa. Yakni dengan terus mengulang-ingat apa yang hendak kita rekam. Peristiwa sesepele apa pun akan abadi dalam jaringan history di otak kita, kalau memang diniatkan untuk terus mengingatnya. Tetapi, yang paling sering terjadi, belum apa-apa kita sudah terlanjur lupa untuk melakukan proses “ulang-ingat” itu.

Cobalah mundur ke belakang sejenak. Peristiwa masa kecil apa yang masih Anda ingat? Berilah batas yang dimaksud “masa kecil” itu adalah ketika usia Anda 5 tahun ke bawah. Bikin daftarnya, dan analisis kenapa peristiwa itu yang masih teringat hingga kini.

Saya, dalam bayang-bayang yang sungguh samar, masih mengingat misalnya peristiwa pertama kali masuk TK; diantar orangtua, menyanyi lagu “jari dan jempol, pinggul digoyang…” dan makan sangu di dalam kotak kue dari plastik. Saya masih ingat pertama kali bisa menyebut huruf “R” secara sempurna. Masih ingat pula pernah hampir mati lemas karena kecemplung di rawa-rawa belakang rumah. Seperti juga Anda, ingatan-ingatan masa kecil, yang meskipun hanya sekelebat-sepintas itu, tetap tersusun rapi di perpustakan ingatan.

Tetapi otak manusia sungguh terlalu misterius untuk direkayasa menjadi benda penyimpan semacam CD atau flashdisk — meskipun sains membuktikan otak adalah jaringan penyimpan yang luar biasa dahsyat, jauh lebih dahsyat dari media penyimpan apa pun bikinan manusia modern saat ini.

Otak kita, yang konon sampai kita mati kelak hanya akan terpakai tak lebih dari 2 persen saja dari seluruh kapasitas penyimpanan memorinya, memang merekam semua kejadian sejak kita lahir sampai dewasa. Masalahnya, kita tak punya cukup kendali atau piranti untuk dengan mudah memutarnya kembali.

Itulah sebabnya lebih banyak peristiwa hidup yang kita lupakan daripada ingat. Bahkan untuk memutar ulang memori masa lalu, kita perlu melamun atau bermimpi. Atau, berkunjung ke tempat di mana peristiwa itu terjadi. Misalnya, datang ke lingkungan sekolah di SMP atau SMA, membaui aromanya, menelisik sudut demi sudut hingga bayang-bayang masa lalu melintas dalam ingatan. Sehebat apapun ingatan kita, yang terlintas dalam situasi seperti itu tetap tak lebih dari bayang-bayang.

Anda pernah menghadiri acara reuni? Bertemu kawan-kawan lama, bernostalgia tentang kejadian masa lalu yang unik dan lucu? Bahkan untuk mengingat nama si kawan pun kita kadang kesulitan. Begitu melihat wajahnya kita memang ingat. Tetapi masih perlu waktu untuk mengembalikan memori tentang siapa dia.

Sering juga kita bertemu orang yang membuat kita lantas bergumam… “Rasanya aku pernah lihat orang ini, tapi di mana dan siapa?” Itulah, karena memori kita merekam sepenggal demi sepenggal peristiwa dalam hidup, namun tak pernah utuh menjadi rekaman memori seperti kita menyimpan file dalam sekeping CD.

Waktu membuat setiap rekaman dalam memori otak kita tergerus sedikit demi sedikit, hingga kelak tinggal menjadi bayang-bayang. Dan yakinlah, ini bukan karena kelemahan otak sebagai media penyimpan, tapi karena kita (sebagai operator atau user) memang belum cukup mampu menggunakannya secara maksimal.

Konon, kelak, saat kita mati dan kemudian dibangkitkan, semua peristiwa dalam hidup terputar ulang secara lengkap. Tanpa kita pernah sadari, semua bagian dalam tubuh kita ternyata dengan tekun merekam setiap peristiwa. Otak merekam dengan sempurna apa yang pernah kita pikirkan. Mata merekam apa yang pernah kita lihat. Telinga merekam apa yang pernah kita dengar. Begitu pun organ-organ tubuh yang lain, hingga kita seperti menyaksikan sebuah film dokumenter mengenai diri kita selama hidup.

***

Tahun 1979, Milan Kundera, penulis, buruh, juga musisi jazz kelahiran Cekoslwakia, diusir dari negaranya karena novelnya yang kontroversial; The Book of Laughter and Forgetting. Novel itu, yang menjadi buku asing terbaik pada masanya, memang menggugat sangat banyak kebijakan dalam negeri Ceko, tempat Kundera lahir dan dibesarkan, untuk kemudian diusir dan akhirnya harus tinggal di Perancis.

Salah satu bagian menarik dari novel yang di Indonesia berjudul Kitab Lupa dan Gelak Tawa itu adalah ketika tokoh Mirek dengan lugas berkata, bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa.

Kundera pun menulis; pembantaian berdarah di Bangladesh dengan cepat menutupi kenangan akan invasi Rusia atas Cekoslowakia, pembunuhan Allende mengurangi rintihan Bangladesh, perang di Padang Pasir Sinai membuat orang melupakan Allende, pembantaian bangsa Kamboja membuat orang melupakan Sinai, dan seterusnya dan seterusnya, hingga akhirnya setiap orang membiarkan segala sesuatunya terlupakan.

Dewasa ini, kata Kundera, sejarah bergerak dengan kecepatan tinggi. Sebuah peristiwa sejarah, meskipun segera terlupakan, menerangi pagi berikutnya dengan embun kebaruan.

***

Itulah pula yang masih terus kita alami sekarang. Di kancah politik, peristiwa seheboh apapun akan segera terlupakan oleh peristiwa lain yang lebih gres. Gosip artis paling panas di tayangan infotainment televisi begitu cepat terkubur oleh gosip baru. Siklus semacam ini akhirnya menjadi strategi komunikasi para public figure; biarkan saja kehebohan terjadi, pada saatnya akan dikubur oleh kehebohan berikutnya.

Bagi pemegang kekuasaan, teori lupa juga menjadi senjata paling ampuh untuk mengalihkan perhatian publik atas seganas dan seserius apapun persoalan. Yang dimanfaatkan bukan saja naluri ingin tahu setiap orang, yang membuat semenarik apa pun sebuah isu akan tenggelam oleh isu baru, tetapi juga kelemahan dasar manusia: tempatnya lupa.

Maka, kita dengan mudah lupa perseteruan di internal sebuah partai politik, yang membuat lahir partai sempalannya, bahkan ketika dua tahun kemudian partai sempalan itu berkoalisi dengan partai asalnya untuk kepentingan tertentu. Di politik, memang, kita gampang sekali dibikin lupa bahwa dua tokoh yang hari ini berangkulan mesra baru saja saling serang dalam polemik panas beberapa hari sebelumnya.

Ketika berhari-hari semua orang membincangkan perseteruan dua pejabat tinggi negara, yang ribut karena perbedaan interpretasi hukum, tiba-tiba saja perbincangan itu terhenti oleh isu baru tentang anggota parlemen yang berselingkuh dengan artis dangdut. Saat keributan kasus asusila wakil rakyat itu sedang hangat, perhatian tergeser ke soal reshuffle kabinet. Selesai gonta-ganti menteri, datang lagi kehebohan baru mengenai anggota komisi yudisial yang terhormat ditangkap karena terima suap. Begitu seterusnya, silih berganti, lapis melapisi. Ibarat sakitnya luka di jari tangan terlupakan karena ada luka yang lebih sakit di jempol kaki. Seperti menghilangkan bau petai dengan memakan jengkol.

Banyak peristiwa-peristiwa besar begitu saja kita lupakan, setelah datang peristiwa baru yang lebih menarik perhatian. Dalam tingkatan apa saja. Termasuk untuk sesuatu yang sangat pribadi dalam diri kita. Itulah sebabnya, kesedihan paling lara yang menimpa kita bisa dengan mudah terlupa, bukan saja oleh kegembiraan yang datang belakangan, tetapi boleh jadi oleh kesedihan baru yang lebih menyakitkan.

***

Ada istilah unik untuk orang-orang yang bermasalah dengan ingatan. Secara sosial, orang yang ”hilang ingatan” diasosiasikan sebagai gila. Kata-kata ”lupa” pun kerap dipakai untuk mewakili mereka yang bermasalah dalam lelaku. Orang-orang tua Jawa sering menyisipkan kata ”eling” dalam petuah kepada anak-anaknya, supaya terus berada di jalan yang benar, seperti halnya orang-orang tua Banjar menanamkan pentingnya ”baingat” supaya sang anak tak salah melangkah.

Meski jelas manusia adalah tempatnya lupa, usaha mengingat adalah sebuah keharusan demi keberlangsungan hidup yang lebih baik. Supaya kita selalu dalam kesadaran penuh ketika, misalnya, dalam sebuah pemilu, harus memilih figur yang kita tidak lupa bahwa ketika dulu dia pernah diamanahi jabatan, dustanya nggak ketulungan – lantas dengan mengingat seperti itu, kita sadar untuk tidak memilihnya lagi.

Dengan begitulah, seperti kata Milan Kundera, perjuangan melawan kekuasaan bisa terlaksana. Sebuah perjuangan melawan lupa. ***

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

4 tanggapan untuk “Mengingat Lupa

  • 25 Oktober 2007 pada 11:37
    Permalink

    wow mantab nendang bgt artikelnya. panjang padat berisi..

  • 26 Oktober 2007 pada 13:34
    Permalink

    Konon ada otak tipe prosesor, mikir kuat, nginget lemah. Sebaliknya ada tipe hard disk, nginget jago, mikir lemot.

    sayangnya, otak yg jago mikir dan kuat nginget cuma punya para jenius.

    Begitu kata teman saya, pak 🙂

  • 26 Oktober 2007 pada 20:04
    Permalink

    ndak bisa komentar kang. tapi isinya nendang banget. kirim ke JP lagi dong! 😀

  • 27 Oktober 2007 pada 01:28
    Permalink

    Tulisannya siip banget bozz, soalnya setiap hari lupa selalu menyerang saya, baik yang remeh-remeh soal letak kunci motor, hp (sudah hilang 7X) sekarang yang repot lupa jadwal rapat yang lebih repot lupa minum obat padahal ini harus…..ha…ha..

Komentar ditutup.

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.