Topeng Monyet yang Makin Langka

Topeng monyet itu...MODERNITAS membuat hiburan tradisional pelan-pelan digerus zaman. Anak-anak sekarang lebih suka duduk manis di depan televisi sambil dengan mimik tegang memainkan games di play station. Era digital membuat banyak hal berevolusi. Kalau dulu main mobil-mobilan dari kulit jeruk bali, sekarang sudah harus mobil bermesin yang bisa di-remote ke sana kemari.

Tetapi tak semua yang modern mewarnai hari. Ada saat di mana hiburan masa lalu menjadi sesuatu yang diminati karena begitu nostalgik. Sebutlah, topeng monyet. Kapan terakhir Anda melihat hiburan yang sepuluh atau dua puluh tahun lalu begitu populer ini?

Suatu hari, di Balikpapan, seorang penanggap topeng monyet tampak mengasyiki kegiatannya karena diorder seorang warga. Yang hebat, atraksi monyet yang ditampilkan masih seperti dulu; pergi ke pasar, naik motor-motoran, memikul dagangan, sampai yang paling klasik; pergi ke sawah sambil membawa pacul.

Topeng monyet, yang dalam kultur Jawa disebut tandak bedes ini, memang berasal dari Jawa. Monyet yang dilatih untuk komidi biasanya adalah spesies Cebus capucinus, bertubuh sedang dengan ekor panjang. Di Jawa Timur bahkan ada sebuah desa, namanya Desa Wates, di Kabupaten Blitar, yang terkenal sebagai desa tempat monyet-monyet dilatih untuk ditanggap dalam atraksi topeng monyet. Hampir setiap warga memelihara monyet untuk dilatih beratraksi.

“Ya memang dari Wates, Mas. Dari sana kita nyebar cari rezeki ke kota-kota di Indonesia,” kata Anto, pawang topeng monyet yang menghibur warga siang itu.

Gendang dibunyikan. Monyet keluar dari kandang. Seolah mengerti bahasa manusia, primata ini berlenggak-lenggok sesuai perintah. Topeng monyet masih menjanjikan tawa bagi mereka yang hendak terhibur. Sisa-sisa keahlian masa lalu yang mestinya harus terus lestari. ***

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

11 tanggapan untuk “Topeng Monyet yang Makin Langka

  • 1 Mei 2007 pada 04:50
    Permalink

    untuk monyet belum ada persatuan monyet yang bertopeng.. kalo nggak tanggal 1 mei ini para monyet bakalan ndemo tukang topeng monyet, karena gajinya selalu dibawah UMR… 🙂

    btw, harusnya tak ada lagi pertunjukan satwa… biarlah satwa lebih nyaman hidup bebas di alam… ^_^

  • 9 Mei 2007 pada 13:34
    Permalink

    iya kasian monyetnya kan mereka punya nyawa juga kaya kita ya kan?

  • 15 Mei 2007 pada 11:54
    Permalink

    kalo topeng badak.. kira2 pertunjukannya kayak apa ya?

  • 13 Agustus 2007 pada 15:15
    Permalink

    tlg dong buat pecinta hewan kasih tau di mana alamat CARA MEMELIHARA DAN MELATIH MONYET YANG BAIK,karena saya punya monyet ,saya pingin melatih kayak sipanse,yang bisa di ajak berinteraksi jawaban akan saya tunggu di email saya makasih

  • 29 November 2007 pada 15:16
    Permalink

    monyet jga makhluk hdup, punya rasa punya hati… jangan samakan dengan benda yang gx punya perasaan

  • 13 Maret 2008 pada 11:50
    Permalink

    ada yang tahu gak ya…asal muasal atau sejarah pertama kali pertunjukan topeng monyet? kalo ada yang tahu tolong donk kirim infonya ke alamat emailku…suwun suwun

  • 6 Juli 2008 pada 15:10
    Permalink

    Monyet aja bisa cari duit……..
    Masa sekarang zamannya Sarjana banyak Nganggur……
    Monyet di didik, buat cari duit ….. manusia
    bisa menghasilkan duit buat manusianya, sampai bisa menghidupi keluarganya……….
    Sayangnya,…. monyek tidak bisa kaya…….
    tapi orang bisa kaya…….. kaya monyet ………

  • 16 Juni 2009 pada 03:12
    Permalink

    “Topeng monyet masih menjanjikan tawa bagi mereka yang hendak terhibur. Sisa-sisa keahlian masa lalu yang mestinya harus terus lestari”

    gimana kita bisa ketawa diatas penderitaan si monyet???
    gimana harus terus lestari kalo monyet2 dipisahkan dari induknya cuma untuk disiksa seolah mereka bahagia dan pintar untuk menghibur manusia yg egois?????

    tahukah gimana cara melatih monnyet2 tersebut? mereka dilatih dengan cara disiksa dan dibiarkan kelaparan hanya untuk memudahkan mengajari mereka suatu trik gerakan.. selain itu mereka tidak dapat hidup bebas di alam..
    masihkah kita menganggap topeng monyet itu lucu??? masihkah kita membiarkan topeng monyet menjamur??? masihkah kita mau menyewa pertunjukan topeng monyet????

    topeng monyet is ANIMAL ABUSE..!!!!!!
    jadi sudah sewajarnya topeng monyet musnah, tapi bukan monyetnya..
    setuju??

  • 18 Juni 2009 pada 20:18
    Permalink

    bener banget  kata si monkey king
    gak perlu dilestarikan, kalo ada penyiksaan terhadap si monyet

  • 21 Februari 2011 pada 13:20
    Permalink

    di sni pun adda   ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
     

  • 25 Oktober 2011 pada 13:45
    Permalink

    iya kasian monyetnya kalau mw di pelihara seharusnya di sayang… ga malah di siksa buat cari uang…..

Komentar ditutup.

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.