Kesialan Sempurna Yahya-Maria

Cuplikan adegan mesum Yahya Zaini dan Maria Eva

Adakah aib yang kadar malunya lebih besar daripada terkuaknya sebuah skandal seks? Mungkin ada. Namun bahwa terbongkarnya perselingkuhan, apalagi disertai bukti gambar bergerak, bisa membuat pelakunya gila, sulit terbantahkan. Harga sebuah martabat begitu mahal, terutama bagi orang yang menggantungkan hidupnya dari pencitraan masyarakat seperti politisi.

Yahya Zaini, yang pada awal skandalnya terkuak selalu diinisialkan sebagai YZ, mungkin tak pernah menyangka kalau video yang direkam teman intimnya, artis dangdut Maria Eva, bakal beredar dari tangan ke tangan, pembagi data bluetooth dan infrared, email ke email, jaringan-jaringan milis dan kantor-kantor redaksi media, dalam hitungan menit saja. Teknologi membuat dokumentasi kemesuman yang tadinya sangat pribadi itu menjadi sesuatu yang bahkan semakin sulit dibendung penyebarannya.

Media-media pada mulanya memberi toleransi dengan menyingkat nama Yahya dan Maria. Satu dua hari publik masih bertanya-tanya siapakah gerangan anggota DPR RI asal Golkar berinisial YZ itu, dan siapa pula penyanyi dangdut berinisial ME. Namun, waktu bergerak cepat. Entah siapa yang memulai, sekarang tak perlu ada inisial lagi. Semua media mulai menyebut dan menulis nama Yahya Zaini dengan terang. Dan, Maria Eva, secara mengejutkan tampil di infotainment memberi pengakuan. Seolah hendak sekaligus menunjukkan inilah wajah penyanyi dangdut itu, yang meskipun namanya sudah ditulis terang, banyak orang masih tak kenal karena dia memang – sebelum skandal ini – tidak terkenal.

Kejahatan kelamin, begitulah guyonan sebagian pria dewasa untuk menyebut kisah-kisah asmara terlarang dengan wanita bukan muhrim. Biasanya, tema-tema ini menarik menjadi perbincangan ketika beberapa pria dewasa, yang hebatnya sudah sama-sama berkeluarga, sedang kumpul dan ngobrol-ngobrol. Tema obrolan kerap tak jauh dari urusan mesum-mesum itu. Beberapa orang bisa terbuka, bahkan bangga, berkisah mengenai “kejahatan kelamin” yang pernah dilakukannya. Mulai berselingkuh dengan menyimpan “piaraan” sampai jajan yang hit and run. Beberapa lagi memasang sikap jaim, jaga imej. Dan, tentu saja, tak sedikit pula yang tak punya cerita karena memang bersih dari kejahatan yang satu itu. Biasanya, pria begini, dalam komunitas perbincangan mesum tersebut, justru akan menjadi objek olok-olok.

Maka, sebagai pria dewasa, Yahya Zaini sebenarnya sedang ketiban sial saja. Di tengah begitu banyak pria dewasa lain melakukan hal serupa, Yahya kurang mujur karena teman intimnya merekam kemesuman mereka, dan… entah tersebab oleh apa, bocor pula ke tangan khalayak. Kesialan itu menjadi semakin sempurna karena Yahya adalah seorang politisi, dari sebuah partai besar yang masih terus berusaha mempertahankan pamornya di tengah persaingan perebutan simpati bersama partai-partai lain.

Kisah politisi tersangkut skandal seks sebenarnya bukanlah cerita baru. Tak perlulah mengambil contoh kisah Bill Clinton dan Monica Lewinsky. Di dalam negeri saja kita bisa membuat daftar pejabat-pejabat, dari menteri sampai bupati, yang dipermalukan oleh terbongkarnya kisah mesum mereka. Seperti teori gunung es, betapa mudah sebenarnya menyimpulkan bahwa memang begitulah prilaku sebagian (entah besar atau kecil), pria dewasa yang kurang iman tapi dikaruniai kelebihan harta, kelebihan nafsu dan kelebihan kesempatan secara bersamaan. Bedanya, ada yang pandai bermain, menyelesaikan semuanya secara rapi tanpa meninggalkan jejak, ada pula yang agak ceroboh, untuk tidak menyebutnya bodoh.

Tulisan ini tidak untuk menyudutkan Yahya Zaini, karena sekali lagi, lepas dari kenyataan bahwa berzina adalah terhina, menurut saya dia hanya sedang sial saja. Seperti juga pasangan muda-mudi yang kepergok beresek-esek di kamar kos, lantas diarak keliling kampung dan dinikahkan di pos hansip, Yahya tengah didera hukuman terberat dalam hidupnya; dicemooh, ditertawakan, digunjing tidak karuan, meskipun, itu boleh jadi tidak akan berlangsung lama. Tidak sedikit korban hukuman sosial semacam ini yang bisa bangkit kembali. Karena memang kita akan sangat mudah melupakannya, atau terlupa oleh hal lain yang biasanya tiba-tiba menjadi berita yang lebih penting.

Yeah, anggap saja ini adalah hiburan akhir tahun dari pentas politik kita yang memang senantiasa mengundang tawa. ***

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.