Karena Mati bukan Ketiadaan Abadi

Tak ada yang lebih misterius dalam hidup kecuali ihwal kematian. Sampai hari ini, sangat banyak rahasia yang belum terungkap mengenai mati. Kitab-kitab suci memang memberi sejumlah gambaran; baik mengenai kematian maupun apa yang terjadi setelah mati. Namun semua tetap dalam misteri yang sama, sebab betapa pun secara empirik belum ada orang yang bisa membawa kisah nyata dari alam kematian — kecuali mungkin kisah nabi-nabi yang oleh Sang Pemilik Hidup & Mati telah diberi “petunjuk”.

Tiga tahun yang silam, saya pernah mengalami “seperti mati” ketika sakit keras dan harus masuk ICU selama 14 hari. Dari 14 hari itu, 3 hari di antaranya saya lewati dalam keadaan koma. Tubuh terbujur kaku tanpa bergerak sedikit pun, kecuali indikator-indikator di komputer yang masih menyimpulkan bahwa jasad saya bernyawa.

Ketika siuman, orang-orang dekat saya bertanya apa yang saya rasakan selama 3 hari tak sadarkan diri itu. Saya hanya menggeleng, bukan karena lupa, tapi karena memang tak ada apapun yang terekam dalam memori; blank, seperti tidur tanpa mimpi. Tiga hari itu seperti lewat begitu saja, semuanya, termasuk ruang dan waktu. Sebab saat itu, saya tak merasa melewati 3 hari seperti halnya orang-orang yang sadar. Ketika siuman dan disampaikan bahwa saya terbujur kaku selama 3 hari, saya pun terheran-heran. Sebab yang saya ingat hanyalah kejadian-kejadian terakhir sebelum koma, dan sungguh, semua terasa sekejap saja.

Seperti itukah mati? Entahlah. Beberapa orang yang pernah merasakan mati suri memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Ada yang blank seperti yang saya rasakan, ada pula yang mengaku “sadar” karena saat mati suri itu dia bisa melihat orang-orang di sekelilingnya, termasuk tubuhnya sendiri yang sedang terbujur kaku — tanpa bisa berbuat apa-apa.

Cerita yang selalu sama dari mereka adalah soal ruang dan waktu. Bahwa di alam “kematian” dimensi ruang dan waktu sudah berbeda dengan alam hidup. Karena dimensi ruang yang berbeda itulah, konon, arwah orang-orang mati bisa leluasa melihat kita yang masih hidup — dan tidak sebaliknya.

***

Akhir pekan lalu, saya pergi ke Muara Labuh, sebuah kota kecil di Sumatera Barat, menemani seorang kerabat yang tengah berduka karena saudaranya meninggal dunia. Saat itulah saya kembali diingatkan mengenai kematian; ketika Tuhan berkehendak maka tiada siapapun bisa mengelak.

Saya mengikuti proses sejak jenazah disemayamkan hingga diantar ke pemakaman. Berkelana dalam pikiran mengenai betapa mati memang harus dibuat misterius; meskipun dalam banyak kesempatan, kita bisa melihat “kematian terencana” ketika Tuhan menghadiahi seseorang penyakit sebelum ajalnya tiba. Lagi pula, seandainya pun Tuhan menetapkan kontrak hidup kepada setiap kita, apakah dengan begitu kita akan berlaku sebaik mungkin menjelang kontrak hidup berakhir?
Sebagian besar agama mengajarkan konsep hidup setelah mati, yang disebut sebagai the real of life karena perjalanan kita di dunia ini hanya fana belaka. Toh, setiap kematian tetap akan disambut dengan tangis duka, bahkan meskipun kita diingatkan bahwa kematian bukanlah musibah, melainkan sebuah awal perjalanan menuju kehidupan yang sesungguhnya.

Saat pemakaman saudara kerabat itu berlangsung, saya larut dalam kesedihan, bukan karena melihat tubuh kaku di balik kain kafan itu perlahan diturunkan ke liang lahat, bukan pula karena isak tangis keluarga seperti berat melepas kepergiannya, tetapi karena saya sendiri tersadar betapa malaikat maut sebenarnya sedang meneropong saya entah dari mana, dalam waktu yang juga tak pernah saya tahu.

Nietzsche boleh bilang kematian adalah ketiadaan abadi, seperti halnya dia membawa kabar heboh bahwa Tuhan telah mati. Tetapi ketika ajal menjemput, bahkan sang filsuf pun hanya bisa mengirim sebuah tatapan kosong. Keberhargaan sesosok tubuh hanya ada ketika nyawa masih tersangkut. Selepas itu semua, siapa pun akan menjadi masa lalu. ***

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

13 tanggapan untuk “Karena Mati bukan Ketiadaan Abadi

  • 14 November 2006 pada 01:08
    Permalink

    mati memang misterius, jodoh juga, apalagi kiamat yah ?

  • 14 November 2006 pada 02:23
    Permalink

    Om Win,

    Senantiasa kita sebaiknya diingatkanteurs dengan yangatu ini (mati) bahwa manusia biasanya lalai dalam ibadahnya.. dnamiskin akan amalan-nya… terima kasih atas postingan yangsatu ini, saya jadi terus termotivasi untuk mempersungguh ibadah, agar tidak rugi dan sia-sia hidup yang sekali ini di dunia..

    Salam hangat dari pantai barat afrika.. 🙂

  • 14 November 2006 pada 09:46
    Permalink

    tetapi karena saya sendiri tersadar betapa malaikat maut sebenarnya sedang meneropong saya entah dari mana, dalam waktu yang juga tak pernah saya tahu.

    kematian selalu menjadi hal yang misterius memang..sesungguhnya kita tak akan takut mati kalau kita sudah mempersiapkan diri menuju hidup yang lebih kekal di alam sana. mumpung masih hidup, perbanyak ibadah bekal di akhirat kelak..:)

  • 14 November 2006 pada 10:35
    Permalink

    **merenung

    makasih ya om win dah ngingetin. jadi inget 2 taon lalu…

  • 14 November 2006 pada 13:03
    Permalink

    Om Win……

    Kadang perenungan seperti ini membuat “TAHU” menjadi “YAKIN”
    untuk meluruskan jalan kita…..

  • 14 November 2006 pada 13:51
    Permalink

    Subhanallah. Sungguh, tiada satu makhluk bernyawa pun yang tak lepas dari ihwal kematian. Semua pasti kembali kepada-Nya. Kepada Sang Pencipta, yang Maha Menghendaki, dan Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk umat-Nya.
    Semoga, kita dijemput-Nya tatkala sedang beribadah bukan bermaksiat. Semoga, kita dijemputnya takkala lidah dan bibir kita tak pernah kering dari lafaz dzikir kepada-Nya, serta tatkala hati dan pikiran kita selalu terus mengingat-Nya.
    Semoga kehidupan kita diakhiri dengan ucapan syahadat. Di tempat yang penuh rahmat. Amien…

  • 13 Desember 2006 pada 11:29
    Permalink

    tulisan yang mengingatkan. jazakallah.

  • 20 Maret 2007 pada 15:56
    Permalink

    Kematian adalah jalan lintasan menuju kehidupan yang abadi, hidup yang sebenar-benarnya adalah kematian, bagaiman kita abadi disana teragntung apa yang kita bawa. Semakin jelek amalan seseorang semakin jeleklah kehidupan diakhiran. Sungguh kita dibutakan dengan duniawi yang menipu mata dengan keindahan yang semu.

  • Pingback: Free viagra.

  • 29 Juli 2007 pada 09:44
    Permalink

    Makasih telah mengingatkan kita semua akan kematian, mudah2an kita menjadi hamba Allah yang selalu bertobat. tks

  • 3 Januari 2008 pada 23:15
    Permalink

    Kematian adalah awal dari kesadaran kita yang sesungguhnya akan hakikat hidup. Namun, kebanyakan orang merasa menyesal karena terlambat untuk sadar.

  • 17 Februari 2008 pada 02:29
    Permalink

    Alhamdulillah, telah diingatkan. Menceritakan kematian memang merupakan nasehat yang sangat baik. Semoga yang membaca topik ini memperoleh hidayah dan ampunan dari Allah SWT, amiiien……..

  • 25 Maret 2009 pada 13:09
    Permalink

    Subhanallah…….apakah kita bisa merasakan kehidupan kita sebelum kita hidup (terlahir)….

Komentar ditutup.

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.