Kabar Buruk dari Negeri Asap
Bukan salah hidung menghirup… salah udara tak kunjung bersih…
![Kebakaran semak dipadamkan secara manual... kapan beresnya? [foto: news.yahoo.com] Kebakaran semak dipadamkan secara manual... kapan beresnya? [foto: news.yahoo.com]](http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/asap1.jpg)
Inilah kabar buruk yang harus saya bagi kepada Anda. Sampai hari ini, setiap pagi, saya masih harus bersin dan batuk-batuk. Asap menyaput seisi rumah, menyatu bersama oksigen yang menghidupi saya dan keluarga. Baunya menyengat, membuat semua pakaian beraroma tak nyaman.
Cara paling mudah membayangkan bagaimana asap itu menemani hari-hari kami adalah seperti ini; Anda pernah melihat orang membakar semak? Dan dari bakaran itu keluarlah asap? Nah… masukkan kepala Anda di kepulan asap itu. Seperti itulah yang kami alami. Setiap pagi, asap menyelinap dari semua lubang ventilasi bersama hawa dingin musim kering. Sungguh tidak nyaman.
Di koran dan televisi para pejabat masih sibuk berdebat. Presiden bilang pemerintah menyiapkan dana Rp100 miliar untuk menanggulangi asap. Mulai urusan bikin hujan buatan, memaksimalkan armada pemadam di darat, sampai teknologi waterbombing yang didukung pesawat dari Rusia. Toh, semua masih wacana. Tak ada tanda-tanda penanggulangan yang segera.
Penduduk yang hidup di negeri asap ini sebenarnya punya trauma. Tahun-tahun sebelumnya, hujan buatan dilakukan ketika musim kering sudah hampir berakhir. Hujan mengguyur karena memang musim penghujan tiba; dan para pelakon hujan buatan bilang bahwa itu karena pekerjaan mereka.
Kaum muslim menggelar salat Istisqo, berharap kemukjizatan datang dari Tuhan demi hidup yang lebih baik. Beberapa tahun yang silam, saya ingat, setelah salat Istisqo itu, hujan benar-benar turun dengan lebatnya. Dalam waktu dua jam udara di kampung saya menjadi bersih. Tapi orang-orang harus menghadapi persoalan baru; banjir di mana-mana.
Begitulah, tinggal di belahan bumi tropis ini, meski hanya dengan dua musim, keduanya sama-sama membawa persoalan. Banjir menjadi ancaman rutin setiap musim penghujan. Orang lantas berdoa supaya musim hujan segera berakhir. Doa yang makbul karena begitu hujan tak lagi turun, kemarau datang bersama tanah bengkang dan asap yang menyesakkan.
Toh kita tetap tak boleh menyalahkan alam, apalagi menuding Tuhan sebagai pangkal persoalan. Kearifan terhadap bumi memang semakin menipis. Hujan tak mungkin menghasilkan banjir bandang andai saja hutan-hutan tak ditebang. Kemarau pasti menjadi musim panas yang menyenangkan seandainya tak ada yang membakar lahan.
Beberapa kawan dari kota-kota lain yang aman dari asap bertanya bagaimana kabar saya. ”Apa yang kau lakukan?” kata mereka. Saya tak punya jawaban yang lebih baik selain berkata bahwa inilah hidup yang harus dijalani. Apalagi saya tidak sendiri. Ada berjuta-juta jiwa yang kehilangan hak untuk bernapas dengan lega. Beberapa di antaranya harus dibawa ke rumah sakit dan sebagian lagi meninggal karena ISPA.
Dalam situasi di mana tak ada pilihan lain kecuali harus tetap hidup, kami memang mesti rela memenuhi sel-sel tubuh dengan oksigen bercampur racun.
Atau… Anda punya ide yang lebih baik?
[lihat foto satelit titik api di Kalimantan dalam ukuran besar di sini]
