< Browse > Home / Budaya, Fotografi, General / Blog article: Mengintip Semut dengan Makro

| Mobile | RSS

Mengintip Semut dengan Makro

4 October 2006 | Ada 27 Komentar | Budaya, Fotografi, General

Beginilah gaya cengkerama dua semut yang bertemu muka...

Budaya semut, begitulah banyak orang menyebut kebiasaan bersalam-salaman. Entah naluri apa yang membuat semut-semut itu selalu saling sapa. Dengan bahasanya sendiri, mereka seolah membincangkan sesuatu. Mungkin berbagi kabar tentang di mana tempat manis yang bisa dikunjungi. Atau bisa juga ngerumpi mengenai semut yang lain.

Hebatnya, semut ada di mana-mana. Bahkan pembasmi serangga paling jahat sekalipun tak mampu memusnahkan mereka. Sepanjang ada tanah dan sedikit kelembaban, semut pasti ada. Eh, tidak juga. Di lantai ke sekian puluh gedung-gedung tinggi pun, kita bisa menemukan semut. Jangan bertanya bagaimana caranya mereka memanjat, sebab itu pertanyaan sulit.

Semut-semut berjalan di lajur yang sama...Suatu sore, saya iseng memperhatikan ulah semut-semut di tembok samping rumah, sembari mengingat-ingat lirik lagu Kisah Kasih di Sekolah, yang penyanyinya mengaku “malu kepada semut merah yang berbaris di dinding” itu. Semut-semut itu hilir-mudik di satu lajur saja. Seperti ada kesepakatan bahwa itulah jalan utama yang wajib dilalui. Begitu lebarnya tembok, mereka memilih jalan di lajur yang sama. Hingga setiap kali berselisih jalan, mereka berhenti sejenak, mungkin cipika cipiki, say hello sebentar, lantas berlalu.

Sulit menebak apa tujuan mereka lalu-lalang, dari atas ke bawah dan sebaliknya. Tetapi sepanjang yang saya perhatikan, semut-semut itu konsisten dengan tujuannya masing-masing. Yang dari bawah ke atas tetap menuju ke atas, tak satupun tampak berbalik arah. Begitu juga yang dari atas ke bawah.

Mata telanjang terlalu sulit memperhatikan gerak-gerik binatang bertubuh mungil ini. Karena itu saya putuskan mengambil kamera, memotreti mereka, tentu dengan memakai metode foto makro. Syukurlah, kamera-kamera digital masa kini, yang meskipun berukuran kecil dengan pixel secukupnya, sudah pula dilengkapi teknologi makro pada lensanya.

Tampaknya mereka sedang terlibat pembicaraan yang sangat mengasyikkan...Dulu, untuk memotret makro dengan SLR analog, saya harus pinjam lensa khusus makro milik kawan. Itupun berbagai eksperimen harus mengalami kegagalan dan membuang sangat banyak roll film. Sekarang, camdig kelas kuaci saja sudah bisa makro, tergantung cara memakai dan feeling untuk menentukan sudut pengambilan gambar.

Karena semut-semut itu berada di tembok luar, artinya pemotretan ini adalah outdoor, maka saya mematikan flash. Lagipula, internal flash camdig biasanya akan membuat objek yang dipotret dalam jarak dekat menjadi OE (over exposure) ketika digunakan. Kecuali pemotretan dilakukan di studio mini bikinan Paman Tyo cs, yang dilengkapi backlight dan sidelight. Masalahnya, semut bukan objek diam yang bisa diajak kompromi dan dikomposisi sesuka hati. Belum ada ilmu untuk mengatur gaya mereka sebelum dipotret.

Berapa jarak ideal lensa ke objek untuk memperoleh foto makro yang baik? Dari pengalaman saya, semakin dekat semakin baik. Mungkin nyaris menempel. Focusing di camdig sudah cukup baik untuk membuat gambar tidak blur. Syaratnya, pegang body kamera erat-erat. Karena sedikit goyangan akan membuat foto kabur, atau tidak fokus.

Sayangnya, meski sudah dipotret dengan makro, saya tetap tidak berhasil menemukan jawaban; apa sebenarnya yang dilakukan semut-semut itu ketika mereka bertemu muka. ***

Foto: Windede | Kamera: Nikon Coolpix 2100

Tulis komentar 2787 views, 6 so far today |

Fatal error: Call to undefined function wp_related_posts() in /home/windede/public_html/wp-content/themes/Digital Statement/single.php on line 35