Mengintip Semut dengan Makro

Beginilah gaya cengkerama dua semut yang bertemu muka...

Budaya semut, begitulah banyak orang menyebut kebiasaan bersalam-salaman. Entah naluri apa yang membuat semut-semut itu selalu saling sapa. Dengan bahasanya sendiri, mereka seolah membincangkan sesuatu. Mungkin berbagi kabar tentang di mana tempat manis yang bisa dikunjungi. Atau bisa juga ngerumpi mengenai semut yang lain.

Hebatnya, semut ada di mana-mana. Bahkan pembasmi serangga paling jahat sekalipun tak mampu memusnahkan mereka. Sepanjang ada tanah dan sedikit kelembaban, semut pasti ada. Eh, tidak juga. Di lantai ke sekian puluh gedung-gedung tinggi pun, kita bisa menemukan semut. Jangan bertanya bagaimana caranya mereka memanjat, sebab itu pertanyaan sulit.

Semut-semut berjalan di lajur yang sama...Suatu sore, saya iseng memperhatikan ulah semut-semut di tembok samping rumah, sembari mengingat-ingat lirik lagu Kisah Kasih di Sekolah, yang penyanyinya mengaku “malu kepada semut merah yang berbaris di dinding” itu. Semut-semut itu hilir-mudik di satu lajur saja. Seperti ada kesepakatan bahwa itulah jalan utama yang wajib dilalui. Begitu lebarnya tembok, mereka memilih jalan di lajur yang sama. Hingga setiap kali berselisih jalan, mereka berhenti sejenak, mungkin cipika cipiki, say hello sebentar, lantas berlalu.

Sulit menebak apa tujuan mereka lalu-lalang, dari atas ke bawah dan sebaliknya. Tetapi sepanjang yang saya perhatikan, semut-semut itu konsisten dengan tujuannya masing-masing. Yang dari bawah ke atas tetap menuju ke atas, tak satupun tampak berbalik arah. Begitu juga yang dari atas ke bawah.

Mata telanjang terlalu sulit memperhatikan gerak-gerik binatang bertubuh mungil ini. Karena itu saya putuskan mengambil kamera, memotreti mereka, tentu dengan memakai metode foto makro. Syukurlah, kamera-kamera digital masa kini, yang meskipun berukuran kecil dengan pixel secukupnya, sudah pula dilengkapi teknologi makro pada lensanya.

Tampaknya mereka sedang terlibat pembicaraan yang sangat mengasyikkan...Dulu, untuk memotret makro dengan SLR analog, saya harus pinjam lensa khusus makro milik kawan. Itupun berbagai eksperimen harus mengalami kegagalan dan membuang sangat banyak roll film. Sekarang, camdig kelas kuaci saja sudah bisa makro, tergantung cara memakai dan feeling untuk menentukan sudut pengambilan gambar.

Karena semut-semut itu berada di tembok luar, artinya pemotretan ini adalah outdoor, maka saya mematikan flash. Lagipula, internal flash camdig biasanya akan membuat objek yang dipotret dalam jarak dekat menjadi OE (over exposure) ketika digunakan. Kecuali pemotretan dilakukan di studio mini bikinan Paman Tyo cs, yang dilengkapi backlight dan sidelight. Masalahnya, semut bukan objek diam yang bisa diajak kompromi dan dikomposisi sesuka hati. Belum ada ilmu untuk mengatur gaya mereka sebelum dipotret.

Berapa jarak ideal lensa ke objek untuk memperoleh foto makro yang baik? Dari pengalaman saya, semakin dekat semakin baik. Mungkin nyaris menempel. Focusing di camdig sudah cukup baik untuk membuat gambar tidak blur. Syaratnya, pegang body kamera erat-erat. Karena sedikit goyangan akan membuat foto kabur, atau tidak fokus.

Sayangnya, meski sudah dipotret dengan makro, saya tetap tidak berhasil menemukan jawaban; apa sebenarnya yang dilakukan semut-semut itu ketika mereka bertemu muka. ***

Foto: Windede | Kamera: Nikon Coolpix 2100

Win Dede

Win Dede aka Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, kini bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

You may also like...

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

28 Responses

  1. putri mengatakan:

    Pengin tahu jawaban … yang dilakukan semut-semut itu ketika mereka bertemu muka? Gini kata si semut ke temennya… “stt… hati-hati ada paparazi lho… awas kebidik posisi yg bisa bikin cerita yang jadi gosipp”

    hehehe…
    Salam kenal… makasih dah mampir. Cerita Ramadhan-nya hanya keseharian yg biasa dialami orang lain jg kok. Tulisan selagi pengin nulis πŸ˜€

  2. tukang kebon mengatakan:

    cipika cipiki kali itu semut..sayah loh ngga pernah mengexplore camdig saya…padahal fiturnya buanyak bangettttt

  3. bebek mengatakan:

    beuuh…. apik potone kang… si semut merah manis, yang semut item keren… lah sing nge-shoot piye? ojo kalah keren dan manis tinimbang semut loh kang… hehehehe…

  4. gaussac mengatakan:

    dimana ada gula pasti ada semut, dimana windede pasti bikin ulah…hehehe…di rumah saya sering disatroni para semut ini, berminat untuk koleksi photo mereka? πŸ˜€

  5. Luigi mengatakan:

    Wah serujuga nih! – kebetulan aku baru dapet hadiah: Canon 60mm EFS Macro f2.8, jadi bis amulai eksplorasi dunia renik saat longgar… gimana khabarnya pasukan dirumah? salam2 yah…

    Salam hangat dari negeri Si Bau Kelek ini πŸ™‚

  6. -f mengatakan:

    pasti mereka lagi ngobrolin honor hasil pemotretan dari kamu win. ;))

  7. yanti mengatakan:

    nice pictures, sampe detil banget gitu ya ketangkepnya.. tapi kalo mau tau isi pembicaraannya, kayaknya musti nyalain mic juga deh πŸ˜€

  8. diandra mengatakan:

    waaaaaawww…
    keren bangetttt..
    kalau ada gambar closeup ladybug, saya mau dong πŸ˜€
    Salam kenal, makasih udah mampir.
    Dobutsu-Uranainya udah dicoba belum *hehehe*

    aku udah coba test di Dobutsu-Uranai dan hasilnya bagus semua… very perfect person deh huehehe πŸ˜€ (windede) 

  9. topan mengatakan:

    salut atas kesabarannya….! keren abis potohnya

  10. maya mengatakan:

    kuereeen banget potonya mas..pantes dijuluki si paparazzi semyut..hihihihi

  11. Jauhari mengatakan:

    Paling tanya khabar tuh mas si SEMUT, kalau ndak, ‘maybe’ tanya acara TVnya manusia apa? Sintron? Gosip?

    Manusia dari dulu ya gitu (kata si semut) *ah sudahlah

  12. paman tyo mengatakan:

    biasa aja. setelah bertegur sapa mereka akan diskusi, “sebenernya pak windede tuh apa kerjaannya?”

    oh ya, saya mau pasang iklan baris di radar banjarmasin. masuk klasifikasi apa? πŸ˜€

    hahaha… bisa masuk klasifikasi “rupa-rupa” atau “lain-lain”, paman… :p (windede)

  13. didats mengatakan:

    aku ko ga pernah berhasil ya poto semut… gag sebesar itu jadinya…

    piye toh? kalo di deketin malah tambah blur…
    kasih tau dong om… πŸ˜€

    gampang sih sebenarnya. banyak orang menghasilkan foto yang blur atau tidak fokus karena memencet shutter kamera tanpa perasaan πŸ˜€ biasakan, shutter dipencet pertama separo dulu, agak lama (direndam) sampai lensa menemukan fokusnya (auto fokus, kan?). nah, setelah itu baru eksekusi. silakan dicoba… (windede)

  14. didats mengatakan:

    lupa bilang kalo potonya keren abis!

  15. IndraPr mengatakan:

    Fotonya keren! πŸ™‚ πŸ™‚

  16. bebex mengatakan:

    bex dr dulu demen banget photography terlebih diphoto..hehe!
    cuma sayangnya ga dibolehin papa buat masuk IKJ, alhasil..hobbynya tersendat dan setelahnya kameranya dah keburu jadul πŸ˜›
    hikz…
    suer maz..photonya keren abis,,akhirnya bex bisa tau juga kalo pantatnya si semut yang super duper kecil itu belang2,hehe!
    bisa ajar2in ngambil focuz kaya gitu ngga πŸ˜€

  17. fortuna mengatakan:

    ya ampuunnn… sampe semut pun di photo! saran saya, mungkin harusnya ada yang motret anda pas motret semut ini. pasti nggak kalah seru… πŸ˜€

  18. Bangsari mengatakan:

    fotonya keren Oom. saya kok jadi pengin punya kamera…

  19. Anang mengatakan:

    gambarnya kerennnn

  20. SAE PISAN mengatakan:

    semut sosok yang sabar ramah kompak, manusia banyak yang kalah, lihat aja pemerintahan, massyarakat, walow semut hanya hewan tapi tot bgt.

  21. rafly mengatakan:

    SEMUT SELALU MELEWATI SATU JLN KRN SEMUT TAU CARA BERLALU LINTAS he he he he ehe !!!
    pernah Dikjur Lantas kali eeeee

  22. nick cutez mengatakan:

    semut tuch LuChuuuuuuu

  23. semut mengatakan:

    salam. hehe loecoe.! tau ga saya buka ini karena pas bunget sama saya, coz orang suka pada nanya ke saya “mba..kenapa namanya semut?” hehe
    lain kali foto aku aja… hehe aku kan semut juga. gmn?

  24. irpan mengatakan:

    semut keren juga kalo bedain yang cowo ma cewe gimanaya???????????

  25. dita mengatakan:

    semut memang hewan yg paling bersahabat.coba aja kalian pikir pernah gak semut itu demo dengan masaslah bbm yang naik?semut menerima apa adanya kalo bbm harus dinaikkan.berbeda dengan kita yg slalu menghadapi masalah dengan cara kekerasan

  26. WARISA mengatakan:

    EMANG GUE PIKIRIN????????????? EMMM TAPI ASYIK JUGA TUH WAT OTAK KITA CUKUP MUTER LOK ICHA SEEE SIMPEL JA MIKIRNYA, LOK SEMUT MERAH KTMU DENGAN SEMUT SEJENISNYA MEREKA SALING BERTUIKAR INFO N SALANG SUPORT WAT TETEP MENANGIN LOMBA SEPAK BOLA DENGAN SEMUT HITEM, ALNYA WAKTU SEMUT ITEM KALAH MAEN PADA NYANYI LAGU KAYAK GNI MALU AKU MALU PADA SEMUT MERAH BLA…..BLA PI LOK KTMU MA SEMUT YANG ITEM MEREKA SALING GELENGEIN KEPALA N SALAING CUEKIN HHHHHHHHHHHHHHHHHH NYAMBUNG GA SEEEEEEEEEEEH

  27. swary mengatakan:

    foto ini menghadirkan sesuatu yang memang dekat dengan kita, yang merupakan sesuatu yang biasa. Tapi, melalui foto ini, yang biasa tersebut menjadi berbeda dan sangat menarik. Foto lebih banyak bicara, apa yang dilakukan oleh semut tersebut tidak perlu dijawab.

  28. lingga sary mengatakan:

    mau nyoba bikin video tetang semut pakai kamera..solidaritas juga berbagai ekspresii semut ..

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading Facebook Comments ...

No Trackbacks.