Bukan Sekadar Larangan Visualisasi

Banyak alasan kenapa komunitas muslim dunia marah dengan ilustrasi sosok Nabi Muhammad dalam bentuk kartun di harian Denmark, Jyllands Posten. Bukan saja karena keyakinan bahwa rasul tak boleh dilukis, tetapi juga karena pembuat lukisan itu dengan begitu sengaja memunculkan gambaran buruk mengenai nabi yang suci.

Bahwa rasul tak boleh dilukis, itu sudah sangat jelas alasannya. Islam tidak menginginkan umatnya musyrik dan menduakan Tuhan, bahkan meski “diduakan” dengan nabi sekalipun. Visualisasi sosok nabi dikhawatirkan bisa membuat umat menjadi “menuhankan” nabi. Padahal konsep tauhid dalam Islam sangat jelas; hanya ada Allah yang Ahad. Dalam ritual ibadah pun, visualisasi nabi (dalam bentuk lukisan, patung atau apapun) hanya akan membuat konsentrasi umat bergeser kepada sosok visual tersebut.

Masalahnya, kaum Barat bukannya tidak tahu dengan larangan ini. Mereka tahu. Justru karena tahu itulah mereka lantas berpikir: “larangan itu kan untuk Islam. Maka yang bukan Islam boleh melukiskan nabi, bahkan Tuhan!”

Maka terbitlah 12 macam kartun yang mengilustrasikan Muhammad. Rasmus Sand Hoyer, salah seorang ilustrator yang lukisannya terpilih, mereka-reka figur nabi akhir zaman itu dengan gambaran yang sangat buruk; sepotong wajah dengan janggut dan cambang awut-awutan, memakai sorban yang di atasnya menyala sesuatu menyerupai sumbu bom. Pada gambar lain, sosok lelaki yang disebut pelukisnya sebagai nabi Muhammad itu dilukiskan sedang memegang sebuah pedang, dengan dua wanita di kiri dan kanan, seolah dengan sengaja hendak memunculkan gambaran yang sering dipahami orang Barat selama ini mengenai Islam dan Muhammad; kekerasan, perang dan perempuan.

Begitu buruknya ilustrasi itu, dalam gambar yang lain, dilukiskan nabi membentang kedua tangannya sambil berteriak ke arah orang-orang yang sedang berjalan: “Stop, stop… kami kehabisan perawan.” Semua gambar mengarah pada tipikal pria Timur Tengah, yang berjubah, kafiyeh dan sorban, lengkap dengan prototipe wajah yang bercambang lebat. Komentar-komentar di kartun itu pun bernada pelecehan yang sangat kasar.

Sekali lagi, muslim dunia patut marah dengan ilustrasi ini, bukan sekadar karena telah melanggar prinsip larangan memvisualkan nabi, tetapi juga substansi kartun-kartun itu benar-benar menghina Islam. Kemarahan begitu rupa semakin menjadi karena latar belakang diterbitkannya ilustrasi itu adalah memang untuk melecehkan Islam yang dianggap “didera rasa takut” terhadap sosok nabi yang adalah manusia. Ilustrasi Muhammad itu mereka maksudkan untuk mengajak umat Muslim “terbuka pikirannya” untuk “bebas berekspresi” membayangkan sosok nabi. Itu pula yang membuat seorang berpikiran cupat membuka semacam sayembara untuk melukis sosok Muhammad. Ada sedikitnya 40 pelukis turut serta, hingga akhirnya 12 ilustrasi itu yang dipilih.

Padahal, konsep teologi Islam tak sesederhana melukiskan nabi. Muhammad memang seorang manusia, tetapi ia dijunjung sebagai sosok penyampai firman-firman Tuhan, nabi akhir zaman – dan karena itu disucikan sehingga tak boleh seorang pun mencoba melukiskan sosoknya dalam bentuk visual. Umat muslim sudah cukup memperoleh gambaran bagaimana sosok Muhammad dengan kisah dan catatan sejarah bahwa beliau adalah seorang pria gagah, yang berpostur tidak terlalu tinggi tidak juga terlalu pendek, berwajah nyaman dipandang, bila berjalan seperti orang tengah menuruni bukit, dan sebagainya.

***

Sebagai muslim saya menaruh hormat kepada saudara-saudara saya yang sekarang bergerak melakukan protes habis-habisan atas pelecehan terhadap Islam itu. Sebagai muslim saya juga mengutuk keras tindakan penghinaan ini. Jangankan seorang nabi yang dijunjung tinggi, bayangkan saja bila yang diilustrasikan itu adalah saudara kita sendiri. Tidakkah kita wajar marah bila saudara kita dilukiskan seperti seorang teroris dengan tampang sangar dan sumbu bom di atas kepalanya? Tidakkah kita patut tersinggung bila saudara kita diilustrasikan sebagai seorang yang melecehkan kaum perempuan?

Saya hanya tidak setuju upaya memprotes itu dilakukan dengan kekerasan. Demo-demo berujung rusuh di berbagai kota di Indonesia, juga di belahan bumi lain, justru akan menjadi bumerang bagi Islam. Berbuat anarkis menyikapi pelecehan ini sama saja melayani keinginan para peleceh itu untuk menunjukkan bahwa Islam adalah tipikal pemarah, gampang tersinggung dan suka bikin rusuh. Target mereka malah tercapai kalau umat Islam marah-marah.

Kembalilah pada konsep Islam sebagai rahmatan lil alamin, kasih sayang bagi segenap alam. Tebarkan damai, bahkan meskipun Islam sedang dilecehkan.

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.