Kiriman Surat dari “Kerajaan Tuhan”

Sebuah amplop lumayan tebal mampir di meja kerja saya, sore kemarin. Kurir yang membawanya menyerahkan sambil mesem-mesem. “Ini surat dari Kerajaan Tuhan.”
Ya, saya tidak sedang bercanda. Surat ini benar-benar datang dari Kerajaan Tuhan. Paling tidak, begitulah si pengirim menuliskannya di amplop surat. Di pojok kiri atas tertera dengan jelas tulisan God’s Kingdom, Tahta Suci Kerajaan Tuhan. EDEN. Lengkap dengan logo bola dunia yang di atasnya bertengger dua merpati, dengan latarbelakang simbol hati dan 7 bintang.
Pengirim itu, siapa lagi kalau bukan Komunitas Eden, yang sempat heboh beberapa pekan lalu. Pemimpin komunitas ini, Lia Aminuddin, masih ditahan di sel Polda Metro Jaya. Saya yakin bukan satu-satunya orang yang dikirimi surat ini. Tampaknya surat serupa dikirim juga ke tempat lain. Jangan bertanya kenapa saya termasuk yang dikirimi surat. Mungkin saja karena posting saya berjudul Blending Religion ala Eden tempo hari itu hehehe…
Apa isi surat itu? Banyak sekali. Selain foto Lia Eden sedang duduk di singgasana “Kerajaan Tuhan”, dengan tongkat bak seorang ratu, juga ada beberapa surat dan naskah puisi. Pengantar surat ini ditandatangani oleh Sumardiono, yang mengaku dimandat oleh Lia Eden untuk “menyampaikan pesan dan peringatan Malaikat Jibril-Ruhul Kudus”.
“Semoga pesan-pesan ini dapat disimak dan dijadikan petunjuk untuk meniti jalan-jalan yang dikehendaki Tuhan,” begitu pesan Lia Eden lewat Sumardiono.
Pada lembar berikutnya, ada sebuah puisi yang ditulis Lia Eden pada 2 Januari 2006, berjudul Puisi dari Rumah Tahanan Polda. Lia mengaku kesepian dan merasa menyendiri, sehingga harus membuat puisi. Pada bagian akhir puisinya Lia menulis begini:
Serbuan massa itu akan berganti aroma
Nanti, berkah dan rahmat Tuhan akan diserbu massa
Tapi aku di sini, saat ini
Kesepian bersama nyamuk-nyamukku.
Selain puisi kesepian itu, Lia Eden juga menulis puisi lain, yang bercerita soal penahanan dirinya. Puisi itu berjudul Andai Kutahu yang mengutip soal peradilan di Indonesia. Di dalamnya Lia menuliskan pula syair lagu berjudul My Special Angel yang menurutnya “diajarkan” Jibril kepadanya di dalam penjara.
Yang juga menarik adalah sebuah surat yang ditujukan khusus untuk Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, tertanggal 25 Desember 2005. Dalam suratnya berjudul Undangan Allah dan Ruhul Kudus kepada Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu, Lia Eden mengundang presiden untuk menyelenggarakan upacara Taubat Nasional.
“Mohon digerakkan semua lembaga keagamaan dan seluruh rakyat untuk memohon pengampunan dari Tuhan. Dan, kiranya hal itu akan lebih berhasil bilamana Taubat Nasional tersebut langsung dipimpin oleh Sang Presiden dan mengatasnamakan pemerintah dan bangsa,” kata Lia.
Lucunya, dalam surat kepada SBY itu Lia Eden mengeluarkan ancaman. Bunyinya begini; “Apabila surat kami ini sekali lagi tak dipedulikan, maka murka Tuhan pun akan semakin keras dan tak tertanggulangi, karena gunung-gunung akan meletus dan dimungkinkan akan terjadi lagi serangan tsunami. Banjir, puting beliung dan gempa akan lebih sering lagi terjadi daripada sebelumnya. Wabah penyakit akan marak, kebakaran-kebakaran berlanjut musimnya, horor metafisis mencapai puncaknya, kerusuhan-kerusuhan memuncak menjadi kerusuhan global nasional. Pemerintahan mana pun takkan bertahan.”
Lia juga secara terbuka mengundang SBY untuk datang ke Kerajaan Tuhan di Jl Mahoni 30 Jakarta Pusat. “Allah dan aku, Malaikat Jibril, mengundang Anda (SBY, Red) ke tempat kami yang sederhana. Semoga Anda memuliakan undangan kami,” kata Lia.

Selain untuk presiden, Komunitas Lia Eden juga melampirkan surat terbuka untuk Ketua PBNU Hasyim Muzadi, menanggapi pernyataan Hasyim mengenai Komunitas Lia Eden. Kemudian, sebuah surat lagi bertitel Ruhul Kudus Menguak Pensucian di Eden, yang menjelaskan banyak hal mengenai “ajaran agama baru” yang disampaikan Lia.
Begitulah. Meski sekarang sedang mendekam di sel polisi, Lia tetap mengaku sebagai rasul akhir zaman. Di salah satu bait puisinya, Lia menulis:
Jati diriku sebagai utusan Tuhan yang tak dipercaya
Harus dibasuh melalui tekanan
Lebih-lebih lagi Surgaku dan Kerajaanku
Jangan memicingkan mata
Sebelum aku selesai mengajarimu Neraka dan Surga
Hehehe… Surgaku kini di Polda Metro Jaya
Ada AC di sana, polisinya pun ramah
Barangkali supaya Jibril melihat mereka ramah padaku,
Atau entahlah…
