Menunggu Film The Da Vinci Code

Semalam, saat jari memencet remot untuk berpindah-pindah saluran tv, saya tanpa sengaja nyasar ke sebuah acara yang tengah me-review pembuatan film The Da Vinci Code. Direncanakan sudah rilis pertengahan 2006, film ini boleh jadi dipastikan merupakan salah satu yang paling ditunggu masyarakat dunia. Saya termasuk pembaca The Da Vinci Code yang menunggu-nunggu film ini.
Dan Brown memang hebat. Novel populer sekaligus kontroversial yang dikarangnya menjadi perbincangan dahsyat di seluruh penjuru bumi. Telah pula menginspirasi penulis lain melahirkan puluhan buku berisi ulasan, kritik, sanggahan, bahkan juga caci-maki. Brown benar-benar berhasil membuktikan klaim The Da Vinci Code sebagai novel “memukau nalar mengguncang iman” dengan mengungkap apa yang disebutnya sebagai “misteri berbahaya” di balik lukisan karya Leonardo Da Vinci.
Novel ini telah diterjemahkan lebih dari 40 bahasa dan menjadi buku terlaris yang konon hanya bisa disandingkan dengan popularitas Harry Potter. Isinya yang sungguh kontroversial mengantarkan The Da Vinci Code menjadi International Best Seller. Reaksi keras bermunculan dari kalangan gereja. Maklum, meskipun karya fiksi, Brown mengklaim bahwa fakta-fakta sejarah yang dikutipnya adalah nyata.
Masalahnya, fakta-fakta sejarah itu meruntuhkan banyak sekali teori dan kepercayaan dalam tradisi Kristen yang telah mengakar selama 2000 tahun. Brown dengan sangat percaya diri mengklaim bahwa berbagai fakta sejarah seputar Yesus, Maria Magdalena, Opus Dei, The Priory of Sion, yang ia tulis dalam novelnya itu, adalah 100 persen benar.
Semua deskripsi tentang karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritual rahasia yang dipaparkan dalam novel ini adalah akurat. Begitu Brown menulis dalam pembukaan novelnya.
Apa fakta yang diruntuhkan? Salah satu yang terpenting adalah mengenai Kebangkitan Yesus. Dalam Teologi Kristen dipercayai bahwa setelah mati di tiang salib, Yesus bangkit pada hari ketiga untuk menebus dosa umat manusia. Dalam Injil Perjanjian Baru disebutkan, saksi kebangkitan Yesus itu adalah seorang wanita bernama Maria Magdalena.
Nah, digambarkan dalam The Da Vinci Code bahwa sebelum disalib, Yesus sebenarnya telah mengawini Maria Magdalena dan mewariskan gerejanya kepada wanita itu. Bukan kepada Saint Peter seperti dipercayai selama ini. Yang lebih bikin heboh, dari perkawinan tersebut Yesus mendapat keturunan dari Maria Magdalena. Keturunan Yesus itu masih ada hingga saat ini dan selama ratusan tahun secara rahasia memelihara tradisi gereja dan silsilah mereka.
Brown menulis alur cerita yang begitu padat dan menegangkan; bagaimana selama ratusan tahun itu, Gereja Katolik terus memburu keturunan Yesus karena dikhawatirkan mengancam kekuasaan Gereja Katolik dan gereja-gereja lain yang mengakui Yesus sebagai Tuhan. Adalah sebuah upaya “mengguncang iman” yang sangat serius, ketika umat Kristen di seluruh dunia dihadapkan pada fakta bahwa Tuhan mereka ternyata memiliki istri dan anak!
Banyak fakta-fakta lain yang juga menghebohkan, termasuk cerita mengenai keburukan Vatikan, di mana Paus Yohanes Paulus II ternyata mendukung gerakan Opus Dei, sebuah kelompok Katolik yang tak segan membunuh dengan kejam dalam menjalankan aksinya. Lewat Opus Dei inilah Gereja Katolik berusaha merebut bukti-bukti sejarah mengenai Gereja Maria Magdalena, untuk “menyelamatkan” kepercayaan umum di kalangan Kristen bahwa Yesus adalah Tuhan. Padahal, masih menurut novel ini, ada dokumen yang membuktikan bahwa Yesus “baru ditetapkan” sebagai Tuhan lewat voting di Konsili Nicea, lebih dari 3 abad setelah Yesus wafat. Penganut Kristen mana pun pasti terkejut bila disebut bahwa Tuhan mereka dipilih oleh manusia, dengan cara voting!

Dan Brown bukan saja hebat. Ia juga penulis yang sangat berani. Termasuk dalam mengutak-atik lukisan Leonardo Da Vinci yang disimpulkannya memberi “petunjuk” berupa kode rahasia mengenai Yesus dan Maria Magdalena. Sebutlah lukisan berjudul The Last Supper di mana tergambar ada sesosok wanita yang tak lain adalah Maria Magdalena. Lewat tokoh Robert Langdon, Brown menunjukkan kepiawaiannya memecah kode-kode rahasia itu.
Pro-kontra bermunculan. Konon tak sedikit penganut Kristen yang menjadi “ragu” akan iman kristiani mereka gara-gara membaca novel ini. Karena itu para pakar teologi Kristen berusaha “mematahkan” teori dalam kode-kode Da Vinci yang menurut mereka merupakan konspirasi untuk merusak iman pengikut Yesus. Maka terbitlah buku-buku berisi “fakta sesungguhnya di balik fiksi The Da Vinci Code“.
Lepas dari isinya yang kontroversial, Novel laris ini sekarang tengah digarap menjadi film. Akiva Goldsman menyulap novel Brown menjadi skenario, yang kemudian disutradarai oleh Ron Howard. Keduanya dikenal sebagai peraih Oscar untuk film A Beautiful Mind. Aktor Tom Hanks dan aktris Audrey Tautou dipastikan tampil maksimal sebagai pemeran utama dalam film The Da Vinci Code, yang rencananya sudah mulai edar Mei 2006.
Mereka yang malas tak biasa membaca, tapi pengen tau The Da Vinci Code, pasti akan sangat terbantu dengan film ini. Yang belum baca novelnya bisa menunggu sampai filmnya beredar. Yang sudah membaca seperti saya pasti penasaran bagaimana alur cerita yang sangat menarik dari Dan Brown divisualisasikan. Menyaksikan cuplikannya di tayangan tv kemarin malam itu saja, mata saya sudah tak berkedip.
Mudah-mudahan nonton filmnya bisa setegang membaca novelnya.
