(Lagi-Lagi) Membincang Senja

Tak banyak senja saya lewatkan di pantai, sebab memang kesempatan bertemu pantai sangatlah jarang. Sebagai orang darat yang hidup jauh dari laut, senja untuk saya lebih banyak tersuguh di balik ranting pepohonan atau dinding-dinding rumah. Betapa pun dengan sadar saya harus akui senja di darat kalah menarik dibandingkan senja di laut, toh senja tetap harus dinikmati.

Kalau senja di pantai terasa romantis, maka senja di darat mungkin lebih mewakili kehangatan. Ya, matahari sore sudah tidak segarang siang. Ia menjadi lembut dan hangat. Warna emasnya bahkan sangat bersahabat untuk ditatap. Senja daratan adalah senja di mana orang-orang bergegas pulang ke rumah, memadati jalan-jalan raya, mengejar hari yang sebentar lagi gelap. Senja di darat lantas sering terlewat begitu saja. Karena manusia sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.

Tapi apa senja memang harus dinikmati? Entahlah. Bagi saya, dalam 24 jam sehari, senja adalah waktu yang terbaik. Itulah saat di mana transisi terang-gelap dalam proses silih berganti siang-malam, memberi nuansa yang sulit terlukiskan. Bagi sebagian orang malah cenderung magis; terutama ketika membayangkan bahwa kita sedang berdiri di atas bumi yang tengah berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari di orbit tata surya yang maha luas ini.

Sebenarnya ada juga waktu terbaik lain, yaitu ketika matahari terbit. Sayangnya, siklus hidup membuat sunrise lebih sering diabaikan. Pola hidup “siang kerja malam istirahat” telah membentuk habit sehingga sebagian besar kita memilih tidur (atau masih tertidur) di setiap momen matahari mulai menyembul. Dalam beberapa hal saya sendiri malah lebih terkesima dengan kecantikan pagi hari after sunrise, yaitu ketika matahari sudah agak tinggi di pukul 6 atau 7 pagi. Sisa-sisa embun dan aroma tanah yang menyeruak seolah menjadi obat memulai hidup baru yang lebih bersemangat.

Kembali ke soal senja di darat (karena kita ’kan sedang membincang senja hehehe). Kecuali di kepadatan sebuah kota di mana senja sering terhalang gedung-gedung, matahari kerap menampilkan wajah sangat anggun ketika singgah di sela dahan-dahan pohon atau pucuk rumput. Ketidakteraturan siluet ranting dan daun-daun justru menjadi abstraksi yang menarik.

Saya sering berjumpa senja indah ketika pulang dari kantor ke rumah. Sayangnya, posisi matahari berada di belakang perjalanan pulang. Karena itu sebelum pulang biasanya saya berbalik arah dulu untuk menikmati senja. Pernah sih beberapa kali mencoba menikmatinya dari kaca spion… tapi terlalu terbatas oleh ruang.

Di rumah, matahari tenggelam dari arah teras depan, agak menyerong sedikit ke kanan. Setiap hari saya hanya bisa menikmati semburat warna senja di sepotong langit di atas atap rumah tetangga. Juga di antara seliweran kabel listrik dan telepon, antena televisi serta tandon air. Harus bergeser beberapa langkah untuk mendapat view yang lebih baik. Ah, tapi nyaris tak pernah saya bersusah payah mencari posisi untuk menikmati senja. Sebab senja memang bukan sekadar soal matahari dan warna-warni langit. Senja adalah juga soal suasana.

Begitulah. Membincang senja memang tak ada habisnya.

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.