Hati-Hati, Azhari Belum Mati

“Jangan pergi ke mal dulu. Diduga tiga orang anggota Dr. Azhari sedang berada di tempat-tempat keramaian dengan membawa masing-masing 2 bom di dada. Mereka adalah Rahma Azhari, Sarah Azhari dan Ayu Azhari…”
Pastilah tak ada hubungan sosiologis, politis, ekonomis apalagi biologis antara keluarga Azhari yang artis dengan Dr. Azhari yang teroris. Kalau soal nama, Dr. Azhari juga kerap ditulis media sebagai Dr. Azahari. Entah mana yang benar [ah, lagi pula, sudah lumrah media suka sembrono menulis nama hehehe]. Sementara Ayu, Sarah dan Rahma, kadang-kadang ditulis Azhari, Azahari atau Ashari.
Posting ini tidak membahas soal latarbelakang kesamaan nama tokoh teroris Dr. Azhari (yang dikabarkan sudah wafat itu) dengan artis-artis seksi Azhari bersaudara (yang sampai sekarang masih hidup, segar bugar dan [maaf] tetap membawa “bom”-nya ke mana-mana). Kebetulan saja SMS itu menyebar beberapa saat setelah bom Bali II meledak, dan tuduhan ditujukan kepada komplotan Dr. Azhari. SMS yang sampai ke saya pastilah sudah SMS ke sekian. Pesan berantai yang memang menjadi mainan bagi orang-orang iseng – sekaligus ladang pendulang uang operator selular.
Dr. Azhari dipastikan mati dalam penyergapan terencana oleh aparat di sebuah vila di Kota Batu, Jatim. (banyak yang menulis Kota Batu, Malang… padahal Batu sekarang adalah kota definitif yang berdiri sendiri di Jatim – dan tak ada hubungan dengan Kota Malang maupun Kabupaten Malang). Semua orang menyambut dengan syukur dan sukacita, seperti halnya pemimpin negara-negara tetangga memberi ucapan selamat atas sukses penumpasan salah seorang gembong teroris yang paling dicari saat ini.
Benarkah Azhari mati? Sebaiknya kita percaya kepada aparat. Sebab, bila tidak, kepada siapa lagi harus percaya? Kabar ini juga setidaknya memberi lebih banyak harapan kepada kita untuk hidup tenteram tanpa ancaman bom. Meskipun ledakan bom sudah nyaris menjadi hal biasa, kita tentu masih tetap berharap agar penghancuran secara keji seperti itu tak terjadi lagi.

Ihwal hidup-mati Azhari memang rahasia Ilahi. Tetapi teknologi memberi jawaban lebih jelas untuk identifikasi jenazah, sehingga kesimpulan yang dibuat oleh polisi (berdasarkan susunan gigi, tes DNA, sidik jari dan sebagainya) itu secara substansial sangat masuk akal untuk dipercaya – dengan asumsi kesimpulan dibuat atas dasar kejujuran. Apalagi, di TKP memang ditemukan cukup banyak barang bukti yang mengarah kepada jaringan perakit bom.
Boleh jadi hanya Azhari yang mati – sementara ideologi penghancur dan peneror yang dibawanya akan terus hidup sepanjang zaman, entah kelak menitis kepada siapa. Apalagi matinya Azhari memang tidak berarti sama dengan musnahnya jaringan teroris. Azhari adalah gembong teroris yang paling dicari, tapi tentu bukan satu-satunya.
Itu artinya hidup belum benar-benar aman – dan memang hidup selalu bersentuhan dengan ancaman. Teror akan terus terjadi selama masih ada penghuni bumi yang merasa hidupnya teraniaya oleh penghuni bumi yang lain. Itu hukum alam. Sunatullah.
Sekarang, kita nikmati saja hidup apa adanya. Sambil sesekali perlu juga menyaksikan penampilan Azhari bersaudara yang, kadang kita sadari kadang tidak, sesungguhnya juga meneror pikiran kita dengan… hmm… dua “bom” yang selalu mereka bawa itu.
