Cetak Artikel Ini Cetak Artikel Ini


Polisi Kita

Pernah berurusan dengan polisi? Lewat jalur resmi atau samping? Dengan tarif umum atau spesial?

Citra polisi kita memang tak semulia pekerjaannya. Banyak urusan dengan aparat penegak hukum ini bisa diatur sedemikian rupa. Dari yang ringan-ringan seperti menyogok saat ditilang, sampai yang rada berat dan biasa disebut men-86-kan kasus. Terutama di daerah, mungkin karena bergaji rendah, sebagian besar polisi harus kreatif mencari penghasilan tambahan.

Celakanya masyarakat kita turut “menikmati” hal ini. Kalau ada jalur pintas untuk bikin SIM, misalnya, ngapain harus ribet dengan menjawab satu per satu formulir isian, wawancara, sampai uji mengemudi atau berkendara. Ya memang situasinya membuat orang waras pasti memilih jalur pintas. Setor duit, langsung foto, langsung jadi. Hasilnya, banyak pengemudi dan pengendara di jalan raya saat ini adalah orang-orang yang tak paham rambu lalulintas; atau malah lebih parah lagi tak begitu pandai mengemudi — tapi ya punya SIM!

Mungkin karena itulah Polri lantas terus mengajukan penambahan anggaran di APBN. Juga mencari bantuan-bantuan di luar negeri. Terakhir, ada semacam kerjasama dengan pemerintah Jepang, di mana negeri Sakura ini mengasistensi polisi kita dengan tenaga-tenaga ahli dan membantu sejumlah peralatan yang nilainya puluhan miliar. Apa ya bisa menjadi baik?

Menurut saya yang terpenting di tubuh lembaga kepolisian –juga banyak instansi pemerintah lain– adalah mengubah kultur minta-minta. Terlalu banyak urusan di republik ini yang harus dibayar dengan duit yang tak wajar, dan itu bukan saja tanpa kuitansi serta tarif resmi, tetapi juga secara terang-terangan (kadang setengah memaksa) diminta oleh petugas di hadapan kita, untuk dan atas nama macam-macam, dari dana taktis, uang operasional, insentif komandan, sampai buat tambahan beli susu anak.

Seorang kawan pernah bilang, setiap polisi memang dilatih menerima sogok sejak pertama mendaftar menjadi polisi. Sebab, untuk lolos pendidikan mereka harus nyogok belasan juta. Untuk lulus harus bayar lagi kepada komandan. Untuk memperoleh posisi di “divisi basah” mesti keluar kocek lagi. Maka, ketika sudah jadi polisi, motivasi pertama mereka, tentu saja, adalah mengembalikan modal.

Dan oleh orang-orang seperti itu, negara ini berusaha diperbaiki martabatnya.



Random Posts


3 Responses to “Polisi Kita”

  1. Gravatar Icon 1 toektoek

    wadwh kok ky’ gethoo ya…
    pa gr” pendidikan polisi yang kelewat singkat
    ya klo di banding dengan akpol yang beberapa tahun bintara kan cman hitungan purnama boss.
    moga” ja di era jen. pol sutanto bisa buktiin omonganya klo
    seleksi akpol bener” gratis
    awas klo bo’ong
    di gigit sapi ompong

  2. Gravatar Icon 2 Berlian

    Tdk smua polisi bgtu. Smuany tgantng dg prbadi msg2 koq. Masi bnyak koq pak polisi yg budiman dan memang ikhlas dg pngorbanany. J d jgn dnilai smuanya jelek,krn dstiap profesi dan instansi ada yg krang baik. Polisi sndri udah brusaha mperbaiki diri koq!

  3. Gravatar Icon 3 Tiyo

    Mau masuk polisi tanpa syarat belibet, tuh polisi tidur masih butuhin banyak personil.

Leave a Reply





Sedang Baca...

RSS JPNN News

  • Untitled
  • PBB Desak Kompensasi untuk Korban HIV
    BEIJING – Di kala skandal susu beracun Tiongkok menjadi sorotan dunia, negeri itu kembali disoal masalah kesehatan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sampai turun tangan. Mereka meminta Negeri Panda lebih memperhatikan masalah kesehatan. PBB juga mendesak Tiongkok segera merealisasikan kompensa ...
  • Rumah Sakit Dipenuhu Korban Susu Beracun
    BEIJING – Para orang tua berbondong-bondong mendatangi rumah sakit dan sejumlah klinik di Tiongkok untuk memeriksakan bayinya. Mereka khawatir buah hatinya terkena gangguan fungsi ginjal menyusul insiden susu bayi yang tercemar melamin. Biro Kesehatan Beijing menyatakan bayi yang mengkonsumsi ...

Galeri Foto

www.flickr.com
This is a Flickr badge showing photos in a set called Alam & Manusia. Make your own badge here.


Berbagi Video

PETA: File Revolusi 1945-1950




Compare Flights to Adelaide