Cetak Artikel Ini
Polisi Kita
Ditulis 7/06/05, Kategori General.Pernah berurusan dengan polisi? Lewat jalur resmi atau samping? Dengan tarif umum atau spesial?
Citra polisi kita memang tak semulia pekerjaannya. Banyak urusan dengan aparat penegak hukum ini bisa diatur sedemikian rupa. Dari yang ringan-ringan seperti menyogok saat ditilang, sampai yang rada berat dan biasa disebut men-86-kan kasus. Terutama di daerah, mungkin karena bergaji rendah, sebagian besar polisi harus kreatif mencari penghasilan tambahan.
Celakanya masyarakat kita turut “menikmati” hal ini. Kalau ada jalur pintas untuk bikin SIM, misalnya, ngapain harus ribet dengan menjawab satu per satu formulir isian, wawancara, sampai uji mengemudi atau berkendara. Ya memang situasinya membuat orang waras pasti memilih jalur pintas. Setor duit, langsung foto, langsung jadi. Hasilnya, banyak pengemudi dan pengendara di jalan raya saat ini adalah orang-orang yang tak paham rambu lalulintas; atau malah lebih parah lagi tak begitu pandai mengemudi — tapi ya punya SIM!
Mungkin karena itulah Polri lantas terus mengajukan penambahan anggaran di APBN. Juga mencari bantuan-bantuan di luar negeri. Terakhir, ada semacam kerjasama dengan pemerintah Jepang, di mana negeri Sakura ini mengasistensi polisi kita dengan tenaga-tenaga ahli dan membantu sejumlah peralatan yang nilainya puluhan miliar. Apa ya bisa menjadi baik?
Menurut saya yang terpenting di tubuh lembaga kepolisian –juga banyak instansi pemerintah lain– adalah mengubah kultur minta-minta. Terlalu banyak urusan di republik ini yang harus dibayar dengan duit yang tak wajar, dan itu bukan saja tanpa kuitansi serta tarif resmi, tetapi juga secara terang-terangan (kadang setengah memaksa) diminta oleh petugas di hadapan kita, untuk dan atas nama macam-macam, dari dana taktis, uang operasional, insentif komandan, sampai buat tambahan beli susu anak.
Seorang kawan pernah bilang, setiap polisi memang dilatih menerima sogok sejak pertama mendaftar menjadi polisi. Sebab, untuk lolos pendidikan mereka harus nyogok belasan juta. Untuk lulus harus bayar lagi kepada komandan. Untuk memperoleh posisi di “divisi basah” mesti keluar kocek lagi. Maka, ketika sudah jadi polisi, motivasi pertama mereka, tentu saja, adalah mengembalikan modal.
Dan oleh orang-orang seperti itu, negara ini berusaha diperbaiki martabatnya.



wadwh kok ky’ gethoo ya…
pa gr” pendidikan polisi yang kelewat singkat
ya klo di banding dengan akpol yang beberapa tahun bintara kan cman hitungan purnama boss.
moga” ja di era jen. pol sutanto bisa buktiin omonganya klo
seleksi akpol bener” gratis
awas klo bo’ong
di gigit sapi ompong
Tdk smua polisi bgtu. Smuany tgantng dg prbadi msg2 koq. Masi bnyak koq pak polisi yg budiman dan memang ikhlas dg pngorbanany. J d jgn dnilai smuanya jelek,krn dstiap profesi dan instansi ada yg krang baik. Polisi sndri udah brusaha mperbaiki diri koq!
Mau masuk polisi tanpa syarat belibet, tuh polisi tidur masih butuhin banyak personil.