GAM Lebih Ditakuti daripada Hantu

Selain ancaman gempa dan tsunami susulan, orang Aceh juga “terancam” oleh isu mengenai hantu dan makhluk gaib lain yang gentayangan. Malam hari, seluruh penjuru kota benar-benar menjadi kota mati.
HARI beringsut malam. Langit begitu pekat di atas Ulee Kareng. Di pinggiran kota Banda Aceh ini, sejumlah posko relawan berdiri. Ada yang menyewa ruko, rumah penduduk, atau mendirikan tenda darurat. Lepas salat Isya, nyaris tak ada aktivitas lagi. Hanya tersisa beberapa relawan yang ngobrol sambil menikmati kopi Aceh yang khas itu.

Saya bersama rombongan Radar Banjar Peduli (RBP) sebenarnya sudah luar biasa penat. Seharian, sejak pagi-pagi sekali kami sudah keliling menyalurkan bantuan di berbagai titik lokasi bencana. Hari itu juga sangat melelahkan karena kami harus bertemu sejumlah orang, terutama kalangan pengasuh pesantren yang renovasi bangunan sekolahnya akan dibantu. Selesai salat maghrib di Masjid Baiturrahman, kami memutuskan pulang ke posko.

Tetapi di Posko tak ada hal lain yang bisa dikerjakan selain tidur. “Wah, daripada tidur, mending keluyuran,” kata dr Tri Joko, satu-satunya relawan medis dalam rombongan RBP.

Ide dokter asal Tanah Laut ini kami amini. Setelah membersihkan badan, kami memutuskan keluyuran malam itu. Johni Pospos, pemandu lokal RBP di Aceh, bertugas mencari taksi angkot yang bisa dicarter. Dalam hitungan menit angkot sudah parkir di depan posko. “Tak sulit laa cari angkutan, yang penting harga cocok,” Johni bicara sebelum ditanya.

Angkot bergerak tanpa tujuan yang jelas. Satu-satunya rencana hanyalah keluyuran. Merasakan hawa malam di kota Banda Aceh yang hancur diterjang tsunami. Tadinya ada keinginan untuk menyusuri kawasan pantai Barat Aceh yang sudah jadi “kota mati”. Tetapi Johni langsung menghalangi ide itu. “Jangan ke sana lah Bang. Masih banyak GAM. Kalau saya tak apa, kasihan abang-abang juga.”

Saya menimpali… “Ah, John… jangan-jangan kau tak mau karena takut hantu…”

“Tidak lah Bang. Kalau hantu, mari kita datang cari. Paling juga bulu kuduk berdiri. Kalau GAM langsung main tembak, Bang. Mati kita.”

Ihwal hantu itu, Johni lantas berkisah. Banyak sekali warga yang menemui keanehan-keanehan. Mulai aroma wangi yang seperti lewat di depan hidung, udara yang panas di lokasi bencana, sampai suara-suara orang minta tolong dari balik puing. Di Banda Aceh memang tersebar cerita mengenai hantu-hantu yang gentayangan ini. Apalagi kalau dihubungkan dengan kenyataan bahwa ribuan jasad korban yang masih tertimbun bersama lumpur dan puing-puing bangunan.

“Ah, tapi namanya hantu lah, dunianya ‘kan lain sama kita. Justru orang masih lebih takut dengan GAM daripada hantu,” timpal Johni.

Setelah perdebatan ringan itu, kami akhirnya memutuskan hanya keliling di pusat kota. Itu pun tak lama, karena kemudian singgah di kedai kopi di kawasan Neusu. Di tempat inilah malam dihabiskan untuk ngobrol, minum kopi, menyantap mie goreng kepiting, juga martabak Aceh yang khas. Rombongan RBP ternyata tak sendiri, karena di kedai yang sama sejumlah aktivis LSM dan relawan dari lembaga lain juga berkumpul untuk diskusi.

Ngobrol macam-macam hal itu baru berakhir pukul 01.30 dinihari. Tubuh lelah kami memaksa untuk pulang dan tidur. Di tengah malam yang sunyi, gelap, dan berdebu, angkot bergerak menuju Ulee Kareng. Di tengah jalan, kira-kira dua kilometer dari posko, angkot dihentikan sekelompok orang bersenjata. Kami baru sadar kalau yang menghentikan adalah aparat dari Brimob.

“Dari mana, jam segini masih di jalan?” salah seorang di antara mereka bicara. Setelah dijelaskan sedemikian rupa, sepasukan aparat itu akhirnya percaya bahwa kami orang “baik-baik” dan bukan GAM. Angkot dipersilakan jalan, dan salah seorang anggota Brimob itu berpesan: “Langsung pulang ya, jangan keluyuran lagi.”

Sesampai di posko, kami tak langsung tidur. Masih melanjutkan ngobrol lagi. Hingga setengah jam kemudian, kami “dipaksa” tidur oleh lolongan anjing yang sahut-menyahut, panjang dan lama sekali, entah dari sebelah mana. Di tengah gelap dan kesunyian malam, di kota yang luluh lantak dengan sekian banyak jasad belum terurus, lolongan anjing yang sesaat kemudian diikuti aroma bau mayat itu sungguh membuat kami semua hening, sampai lelap.

Saat menulis tulisan ini saya tersadar. Ternyata bukan GAM atau hantu yang membuat kami takut. Tapi lolongan anjing. (bersambung)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.