Skip to content

WINDEDE.com

Menu
  • Home
  • Esai
  • Kontemplasi
  • Inspirasi
  • Perjalanan
  • Fotografi
  • Budaya
  • Politika
Menu

Bisnis Korupsi dan Komisi Sana-Sini

Posted on 11 April 2008

Inilah gaya wakil rakyat kita... [foto m ali/jpnn]

Lagi-lagi wakil rakyat. Betapa memuakkan sebenarnya membincang orang-orang politik yang kebanyakan berhati busuk itu. Mereka merebut kursi dengan jiwa serakah penuh intrik dan tipu daya. Setelah berhasil duduk, korupsinya lebih dominan dibandingkan pemenuhan kewajiban yang labelnya begitu mulia: pengabdian.

Ah, hari gini, mengabdi untuk nusa bangsa? Kok ya kita ini masih saja percaya. Dalam balutan penampilan sok wibawa, pidato menggebu orang politik memang terus melenakan siapapun. Mereka bicara tentang kepedulian pada rakyat, keberpihakan terhadap yang lemah, juga seolah-olah pembelaan sepenuh hati kepada penegakan rasa keadilan. Buktinya, mereka bahkan sudah jahat sejak dalam pikiran.

Kita pasti tergoda untuk membela sebagian orang politik itu dengan bilang, ah, tak semuanya begitu. Masih ada yang punya nurani, berpolitik dengan bersih dan pakai hati. Apa iya?

Bahkan dalam proses awalnya saja politik itu sudah kotor. Anda harus memoles diri menjadi dewa-super-baik-hebat-sempurna meski sekadar pura-pura, supaya orang memilih Anda. Itu saja tidak cukup. Pemilih harus disogok juga dengan macam-macam cara, entah money politic atau sekadar kesan baik. Orang politik menyebutnya biaya politik. Juga siasat dan strategi mencapai tujuan politik. Toh sebenarnya tetap saja; semua itu kotor.

Politik juga kejam, lebih sering bahkan tak beradab samasekali. Mereka biasa dengan gelak tawa membincangkan nasib orang-orang miskin di sebuah coffee shop hotel sambil menghitung-hitung fee proyeknya kalau perjuangan “membela” orang miskin itu berhasil. Di lain waktu, sudah lazim sekumpulan anggota DPR memusatkan pembahasan sebuah persoalan dengan menyewa ruang rapat hotel berbintang, lengkap dengan kamar untuk masing-masing orang, padahal, kita tahu gedung wakil rakyat yang megah itu punya banyak sekali ruang pertemuan – dan untuk urusan tempat tidur, setiap wakil rakyat telah pula mendapat rumah dinas, yang bagaimana pun kondisinya, pasti lebih baik dari rumah rakyat kebanyakan.

Tengoklah penangkapan dan pengungkapan kasus suap-menyuap para politikus atau pejabat, yang hampir selalu terjadi di kamar hotel. Itulah orang-orang yang mengurus republik ini, yang kalau tampil di hadapan publik selalu saja alim seolah bebas cela, dan ketika kedapatan berlaku buruk atau terbongkar aibnya, pasti punya seribu satu alasan membela diri.

Ketika Al Amin, yang namanya begitu indah dan bagus itu, tertangkap KPK dengan tuduhan terlibat suap-menyuap, sungguh kita tak perlu kaget. Dia hanya sedang sial saja – atau dengan kata lain tak semujur pelaku suap-menyuap yang lain. Sebab soal fee, komisi, uang terima kasih, gratifikasi, dan apapun namanya itu, adalah soal lumrah bin lazim di dunia politik kita. Maklum, berapalah gaji seorang wakil rakyat? Berapalah gaji menteri, gubernur, walikota atau bupati? Mana mungkin cukup membiayai ongkos hidup dan ongkos politik mereka yang super-mahal. Dari mana menutupi kekurangan kalau tidak dari menerima sogok atau korupsi?

Banyak sekali politikus dan pejabat, yang hidup berkelimpahan harta, sungguh kaya-raya sekali dia, padahal kita tahu dengan pasti gajinya dilipat tiga pun belum tentu cukup memenuhi semua itu, sementara dia juga tak punya bisnis lain yang kasat mata. Apalah lagi bisnisnya kalau bukan korupsi, terima komisi sana-sini. Giliran tertangkap, ngakunya jualan permata.

Dan Indonesia terus saja digerogoti para bangsat benalu, orang-orang jahat pengelola republik yang tak tahu malu. ***

Like & Share

12 thoughts on “Bisnis Korupsi dan Komisi Sana-Sini”

  1. sahabat88 berkata:
    12 April 2008 pukul 02:54

    enakknya tidur i kursi panass…
    tapi inget ama neraka yg panas ya pak dpr…
    Thanks….😀

    Balas
  2. Domba Garut! berkata:
    12 April 2008 pukul 15:54

    Mungkin saatnya perubahan total dimana itu pernah dilakukan oleh Presiden bulan Juni 1959, inget? 🙂

    Terlepas dari itu semua, setidaknya masing-masing dari kita bisa fahamkalau amal dan perbuatan di dunia ini akan diminta pertanggung-jawabannya kelak di akhirat..

    Balas
  3. unai berkata:
    14 April 2008 pukul 13:42

    kasihan negri ini…dikuasai orang2 yang serakah

    Balas
  4. Ogi Fajar Nuzuli berkata:
    14 April 2008 pukul 22:32

    Cape dehhhh….ngomentarinnya….nggak ada hasil, koment dan segala kecaman dianggap sepi oleh mereka….

    Balas
  5. dadan berkata:
    16 April 2008 pukul 07:11

    repot kalo punya wakil rakyat kayak gini 😀

    halow oom dede… lama tak kemari 😀

    Balas
  6. eddy berkata:
    18 April 2008 pukul 19:04

    Ongkos jadi wakil rakyat memang mahal. Gajinya juga banyak dipotong oleh partai. Belum lagi untuk “biaya” memelihara preman…., hehehe jadi ingat tulisan “dulu” yang mau dikomplain Ibnu Sina.

    Balas
  7. Ersis Warmansyah Abbas berkata:
    21 April 2008 pukul 08:09

    Ahai … politik sebagai konsep bagus aja kali, yang ngak bagus ketika ‘dijalankan’ oleh pelaku (politikus), apalagi sambil tidur-tiduran, dan … diut-duitan.

    Balas
  8. Pakacil berkata:
    5 Mei 2008 pukul 23:31

    Ahha.. kalau liat foto itu, jadi ingat dulu sekitar tahun 91, pernah masuk dan duduk di baris ke dua dari depan ruang sidang utama MPR. Memang luar biasa nyaman ruangan itu, akhirnya dapat memaklumi kalau kemudian banyak yang tidur. hihihi…

    Tapi ada satu yang dibayangkan, bagaimana rasanya kalau burung garuda di atas pimpinan sidang yang beratnya di atas 1 ton itu jatuh, pasti luar biasa.

    😀

    ♣ Salam, Om.-

    Balas
  9. HARIS ZAKY MUBARAK berkata:
    8 Mei 2008 pukul 13:29

    tanggapan gw sederhana saja.kalau bapak masuk dlm arena politik,apakah akan masih berkata demikian.ngomong dipinggir seh,gw juga berani….klo gw seh gak usah diragukan lagi,pasti akan korupsi.karna itu adalah bagian dari privacy gw…wajib lagi korupsi.

    Balas
  10. dp berkata:
    9 Mei 2008 pukul 22:58

    Yang jelas korupsi, komisi, dan gratifikasi dah menjadi life style para penyanyi gosip jalanan

    Balas
  11. Orang Marah berkata:
    10 Mei 2008 pukul 01:16

    To : Haris ketetapan hati untuk korupsi kok di banggakan, istigfar lah…dek kematian itu bisa datang kapan saja dan dimana saja

    Balas
  12. soe berkata:
    6 Juli 2008 pukul 16:51

    Kasus Bulyan Royan Sontoloyo, salah satu kasus anggota dpr yang ketangkap KPK, kalau lihat jenggot dan kopiahnya kemungkinan partainya juga terlibat, lagu lama dana setoran untuk partai. Hidup Partai Bulyan Royan. Partai orang2 yang Sontoloyo.

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

About

 

WinDede a.k.a Erwin D. Nugroho.

Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

My Book

My Youtube

https://youtu.be/2vSExaDnOTQ

My Instagram

Sesi foto keluarga, biar ada kenangannya... #eeeaa Sesi foto keluarga, biar ada kenangannya... #eeeaaaa
Si bungsu udah macam anak tunggal... Si bungsu udah macam anak tunggal...
Sesi foto tiga generasi... Sesi foto tiga generasi...
Baru terima nih official photos dari graduation du Baru terima nih official photos dari graduation dua pekan yg lalu. Harus diposting dong yak, hahaha...
Terima kasih Rektor UAI Prof. Dr. Ir. Asep Saefudd Terima kasih Rektor UAI Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc.
Bersama Dekan Fakultas Hukum UAI Dr. Yusup Hidayat Bersama Dekan Fakultas Hukum UAI Dr. Yusup Hidayat, S.Ag., M.H.
Sekali-sekali dapat predikat tertinggi selain ukur Sekali-sekali dapat predikat tertinggi selain ukuran badan hehe 😁
Alumni FH UAI angkatan 2018 👨‍🎓👩‍🎓 Alumni FH UAI angkatan 2018 👨‍🎓👩‍🎓
Alhamdulillah... Alhamdulillah...
Load More Follow on Instagram

Arsip Blog

Posting Terakhir

  • Liburan Tipis-Tipis ke Singapura (2): Semakin Ramah bagi Turis Muslim
  • Liburan Tipis-Tipis ke Singapura (1): Tiket Pesawat Lebih Murah ketimbang Rute Domestik
  • Ogi, Amtenar Aktivis
  • Uji Bebas Covid-19
  • Nyetir Sendiri Keliling Eropa (4): Bebas Ngebut di Jerman, Taat Speed Limit di Prancis dan Belanda
  • Nyetir Sendiri Keliling Eropa (3): Semua Urusan Dikelola Mesin, Bisa Curang Tapi Tetap Patuh
©2026 WINDEDE.com | Design: Newspaperly WordPress Theme