Goes to Hong Kong

 

MASA cuti tiba lagi. Apakah yang lebih baik dikerjakan di saat libur kerja ini selain jalan-jalan? Maka, inilah yang akhirnya menjadi pilihan; mulai hari ini, cuti akan mengantarkan saya ke Hong Kong, kota kepulauan di selatan daratan China, tempat di mana Jet Lee dkk mengentak panggung hiburan dunia lewat film-film Mandarin yang, ah sayang sekali, dalam banyak kisahnya tak terlalu saya gemari.

Dari Balikpapan, perjalanan saya mulai ke Banjarbaru, Kalsel. Ke Hong Kong lewat Kalsel? Ya, kebetulan, dua sahabat di sana menjadi rekan seperjalanan dalam trip kali ini. Dari Kalsel barulah kami menuju Hong Kong via Jakarta. Langsung tanpa transit pakai Garuda Indonesia. Kebetulan, maskapai pelat merah ini sedang menebar tiket promo, salah satunya ke Hong Kong.

Karena ini trip mandiri, tanpa travel guide apalagi pengatur wisata, maka bekal kami adalah sedikit nyali dan bakat berpetualang. Dengan peta di tangan dan referensi tempat-tempat yang mesti dikunjungi, sejumlah rencana telah ada di kepala. Mudah-mudahan tidak ada kendala. Lagi pula, Hong Kong memang terkenal sebagai kota dengan akses transportasi yang ultra modern, yang memadukan antara kecepatan, kenyamanan dan tarif murah untuk public transport-nya.

Salah satu yang sudah diidamkan untuk dikunjungi adalah Madam Tussauds Hong Kong, museum tempat patung lilin tokoh-tokoh dunia, berada di Victoria Peak, sebuah lokasi di puncak bukit yang juga menarik sebagai tempat memandang lanskap Hong Kong dari ketinggian. Kemudian ada Avenue Star di kawasan Tsim Tsha Tsui, mirip-mirip Hollywood Walk of Fame. Kami juga berencana menyeberang ke Macau untuk one day around city, sekadar berjudi menikmati suasana Eropa di Asia. Sebenarnya ada pilihan lain, yaitu ke Shenzhen (duh, saya masih terbayang-bayang asyiknya nonton opera di Windows of The World di kota ini), yang juga dekat dari Hong Kong. Tapi jadi bikin malas karena harus mengurus Visa, meskipun bisa Visa on Arrival. Kalau ke Macau, seperti halnya Hong Kong, tak diperlukan Visa.

Setelah searching akomodasi, pilihan penginapan sementara ini jatuh ke kawasan Causeway Bay. Ada banyak hotel dan hostel di tempat yang ramai sebagai pusat belanja ini. Alasan terkuat memilih Causeway Bay adalah karena di tempat ini ada beberapa rumah makan Indonesia. Jadi tidak repot lagi untuk urusan perut hehehe. Dekat pula dengan Victoria Park, sebuah taman luas wadah berkumpulnya TKI Indonesia setiap akhir pekan.

Sayangnya, sampai hendak berangkat ini, saya belum ketemu teman blogger di Hong Kong yang bisa dikunjungi. Ada beberapa yang sempat kontak, tapi tanggal kedatangan saya ternyata bertepatan dengan hari sibuk mereka. Saya akan berada di Hong Kong tanggal 25-28 Agustus. Jadi, kalau Anda kebetulan di Hong Kong dan punya waktu luang untuk ketemuan, silakan kontak saya lewat posting ini atau langsung ke windede@windede.com dan berilah nomor ponsel Anda untuk saya hubungi.

Ok, I’m goes to Hong Kong… Mau oleh-oleh apa? :p

Like & Share

12 Comments on “Goes to Hong Kong”

  1. hongkong dei, hongkong dei. sampeyan itu lho, kok selalu dalam kondisi tajir sih? saya aja 5 tahun merantau ke borneo, belum mampu pulang kampung barang sekali pun. btw, jangan-jangan, mas erwin ke “xiang giang” mau kopdar sama teman chatting di yahoo messenger ya? temen chattingnya TKI asal blitar atau malang? ahahaha…

  2. wow mas bestnya ke hk.. sebenarnya saya ingin pegi ke hk hujung bulan nii. kalau mas tak kebetaran, boleh bg tips2 untuk saya bila ke sana nanti,, contohnya hotel apa yg terbaik utk saya sebagai seorang muslim and rwestoren2 halal di sana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.