Sepenggal Waktu dalam Foto Masa Lalu

Saya (paling kecil) bersama ayah dan kakak.

Meski tidak mudik saat lebaran kemarin, saya akhirnya terdampar juga di kampung halaman di Samarinda. Urusan pekerjaan yang mengantarkan saya kembali menikmati damainya tidur di rumah orangtua, mencicipi masakan-masakan kesukaan dan berjumpa beberapa kawan lama. Lebaran belum benar-benar lewat. Masih ada bau-baunya, setidaknya untuk sekadar bersalaman dengan sahabat.
Sebenarnya kunjungan ke kampung halaman bukanlah sesuatu yang langka. Dalam setahun setidaknya dua atau tiga kali saya menjenguk orangtua. Tetapi kunjungan terakhir kemarin membuat saya jadi rada sentimentil; terutama ketika tiba-tiba saja ada hasrat untuk membuka album foto keluarga yang tergeletak di lemari ruang tamu.

Saya dipotret di samping televisi.Foto-foto masa lalu itu tidak serta-merta memancing memori kanak-kanak. Rekaman masa kecil barangkali baru cukup detil di atas usia 5 tahun. Itupun hanya untuk peristiwa-peristiwa tertentu yang –mungkin karena istimewa— lantas menancap permanen dalam ingatan. Sebagian besar peristiwa lainnya hanya akan menjadi penggalan kenangan yang samar-samar.

Foto-foto balita saya masih cukup baik. Tersimpan rapi di balik plastik album foto. Saya kemudian merepro satu per satu foto-foto itu dengan kamera digital. Saya tak tahu pasti apakah warna foto itu sejak dulu sudah seperti itu; atau memang berubah berkat proses penuaan oleh waktu.

Saya melewatkan masa kecil di tahun 80-an, ketika foto berwarna memang sudah lumrah digunakan. Foto pertama, yang paling atas itu, adalah foto saya bersama ayah dan saudara-saudara kandung. Saya adalah bocah imut yang paling kecil di foto itu hehehe. Dua anak kecil lainnya adalah kakak saya.

Saya cukup lama memperhatikan foto ini. Model pakaian yang saya pakai, juga gaya berpakaian ayah yang retro banget. Saya sengaja tak bertanya kepada orangtua pada tahun berapa foto ini dibuat. Tetapi dari tampang saya di foto itu, saya bisa pastikan foto ini dibuat pada akhir 70-an.

Dalm gendongan ibu.

Begitu pun foto saya dalam gendongan ibu, di mana saya masih benar-benar bayi. Perhatikan juga gambar kalender di dinding, serta radio kotak yang jadul banget itu. Oh iya, saya juga difoto di samping sebuah televisi yang sekarang mungkin sudah jadi koleksi museum. Dalam ingatan saya, saya masih nonton di televisi seperti ini hingga masuk usia sekolah dasar.

Lucu juga membayangkan bahwa bayi lucu dalam foto-foto itu adalah saya. Itulah yang membuat saya bersemangat memotreti anak-anak saya dalam setiap momen pertumbuhan mereka. Supaya kelak di hari tuanya mereka bisa menikmati penggalan masa kecil seperti yang selalu saya rasakan setiap kali membongkar album foto keluarga di rumah orangtua.

Gaya culun saya waktu kecil. Tuhan memberi kita ingatan yang bisa merekam begitu banyak hal. Apapun yang kita alami di hidup ini akan terekam dalam sel-sel yang saling hubung-menghubung dalam jaringan otak. Toh, memancing sebuah ingatan, apalagi yang sudah berumur lama, bukanlah urusan gampang. Imajinasi kita harus benar-benar kuat untuk membayangkan masa lalu. Foto, juga video, adalah temuan ajaib yang membantu semua orang membekukan sepenggal waktu dalam sejarah perjalanan hidup.

Sebenarnya bukan hanya foto dan video. Interaksi dengan manusia lain adalah alat bantu yang luar biasa hebat. Berjumpalah dengan sahabat-sahabat lama, kawan-kawan masa kecil, atau siapa pun orang yang pernah dekat dengan kita di masa lalu, sambil membincang sejuta kenangan warna-warni. Maka rekaman peristiwa satu demi satu seolah tampil di depan mata.

Sebuah penelitian di Amerika mengenai “hidup setelah mati” mendapat kesimpulan dari orang-orang yang pernah mengalami mati suri, bahwa kelak, di alam transisi antara dunia dan akhirat, rekaman peristiwa hidup kita akan diputar ulang. Pada saat itulah, dalam kesadaran kemanusiaan yang lemah, kita tak lagi bisa membantah apapun yang pernah kita lakukan, termasuk dosa-dosa yang bakal berbuah hukuman.

Tak ada salahnya untuk terus membingkai hari ini demi cerita masa lalu yang tak terpenggal. Sebab meskipun hidup adalah masa depan, masa lalu takkan pernah membosankan untuk dikenang.

Like & Share

9 Comments on “Sepenggal Waktu dalam Foto Masa Lalu”

  1. windede adalah seseorang yang berasal dari keluarga yang “tertib”. bukti “ketertiban” itu antara lain dengan masih tersimpan rapinya bukti-bukti sejarah keluarga. sangat menarik, bung.

  2. Om Win,

    Melihat kebelakang, merunut sejarah, adalah upaya konsisten mengakar pada budaya dan asal-muasal kita. Ini juga sebuah Pe-er buat saya untukbersama kedua anak2 saya untuk juga berkesempatan membuka album foto yang saudah mulai dimakan rayap di rumah orangtua saya. insyallah Maret 2007 saya berencana mudik, dan Pe-er itu insyallah akan saya tunaikan. terimakasih buat postingan yang satu ini…

    Meski kita sudah merasa diri hidup di jalan global dan mobilitas tinggi, tentunya melihat sejarah, apalagi sejarah keluarga sendiri adalah aset yang penting untuk disadari agar bisa menjadi pribadi yang berpijak. Seneng sekali udah bisa mampir dan membaca isi tulisan disini, salam hangat dari afrika barat…:)

  3. Dulu sewaktu saya masih kecil fotonya tidak terlalu banyak, namun orang tua selalu menyimpannya dengan sangat hati-hati dan teliti. Sekarang dengan teknologi baru, rasanya memori tidak ada habisnya dipakai untuk memotret anak-anak. Semoga memori yang indah milik windede sekeluarga dapat dinikmati setiap saat.

  4. lucu juga ya pak potret diri jaman dulu..
    aku juga masih menyimpan baik baik foto kecil, buat cerita anak cucu nanti :).
    Keren tuh pak!!

  5. yang pasti tv nya rada2 antik tuh. barang kuno.
    dan juga koleksi potret keluarganya masih ada, jarang2 tuh. tahun berapa tuh fotonya, sudah usang sekali.

  6. foto2 jadul punyaku juga banyak banget tuh mas..entah sudah berapa banyak roll filem yang dihabiskan bunda untuk mengabadikan momen masa kecilku dulu tahun 80-an 🙂

  7. bener bangedhhh…………..
    kadang kenakalan ,kebandelan dan sgala tingkah polah masa kecil merupakan tempat mengenang dan tempat berhenti sejenak untuk berlari lagi. saya baru menaydari klo keberadaan bonyok tu berarti, meski dulu byk umpatan dari bibir yang berlumur sumpah serapah.

  8. back to the old times..
    back to where it was all started
    back to the point where so many things passed
    then, we recall how sweet the day had been
    and how amazing the sweet day had made us til today
    the pics are all awesome…
    if u appreciate ur old times, the future will welcome u in return

Tinggalkan Balasan ke maya Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.